Bismillahirrohmaanirrohiim

5894. MENSUCIKAN NAJIS HUKMIYAH DENGAN DILAP KAIN BASAH, BISAKAH ?

PERTANYAAN :

Assalamualaikum. Para 'alim yang saya muliakan, ijin bertanya : Cukupkah mensucikan najis hukmiyah dengan memakai kain yang suci yang dibasahi air muthlaq yang diusapkan (sekam / jawa ; ngelap) pada mahallunnajasah ?? Sekalian ibarotnya yang Syafi’i ya. Maturnuwun.  [ Zainuddin ].



JAWABAN :

Wa’alaikumussalaam war wab. Dalam madzhab Syafi’i, persyaratan mensucikan najis hukmiyyah standartnya harus dibasuh juga dengan air. Tidak akan mencukupi pensucian najis hukmiyyah hanya diperciki air atau bahkan hanya dilap kain.
Lihat beberapa keterangan kitab syafiiyyah berikut :

فقه العبادات – شافعي [ص 183]
أما النجاسة الحكمية : فهي التي لا لون لها ولا طعم ولا ريح ولا حجم كبول جف ولم تدرك له صفة ويطهر المحل منها بسيلان الماء عليه ولو من غير فعل فاعل كالمطر مثلا فالمهم ورود الماء ولو قليلا أي صبه على النجاسة

"Sedangkan najis Hukmiyyah yakni najis yang tidak ada warna, rasa, bau dan bentuk seperti kencing kering dan tidak dapat terlihat lagi sifatnya. Dan sucinya tempat tersebut dengan mengalirnya air diatasnya meskipun tanpa dikerjakan oleh seseorang seperti karena terkena hujan. Maka yang terpenting sampainya air padanya meskipun sedikit dalam arti air dituangkan diatasnya.”

كفاية الأخيار [ص 67]
وأما النجاسة الحكمية فيشترط فيها الغسل أيضا والحاصل أن الواجب في إزالة النجاسة غسلها المعتاد بحيث ينزل الماء بعد الحت والتحامل صافيا إلا في بول الصبي الذي لم يطعم ولم يشرب سوى اللبن فيكفي فيه الرش

“Sedangkan najis Hukmiyyah maka disyaratkan mensucikannya dibasuh juga, Kesimpulannya, sesungguhnya dalam menghilangkan najis wajib untuk dicuci sebagaimana biasa, dimana air turun setelah digosok/dihilangkan dan bersih. Kecuali pada air kencing anak kecil yang belum makan dan minum kecuali ASI, maka padanya cukup diperciki saja.”

فتح المعين ص ٧٨
لَوْ أَصَابَ الأَرْضَ نَحْوُ بَوْلٍ وَجَفَّ، فَصُبَّ عَلى مَوْضِعِهِ مَاءٌ فغَمره طهُرَ ولو لمْ يَنْصُبْ، أي: يغُورُ، سواء كانت الأرضُ صُلبةً أم رَخْوَةً

“Seandainya ada tanah yang terkena najis semisal air kencing lalu mengering, lalu air dituangkan di atasnya hingga menggenang, maka sucilah tanah tersebut walaupun tak terserap ke dalamnya, baik tanah itu keras ataupun gembur.” Wallaahu A'lamu Bis Showaab. (Kyai Abi Nadhif, Lambau).

Link Asal :


.
Back To Top