Bismillahirrohmaanirrohiim

5361. TAFSIR QS AL-MAIDAH 48-50 : HUKUM JAHILIYAH

PERTANYAAN :

Assalamu ‘alaikum. Poro ustadz/dzah lan santri, mau tanya mengenai tafsir surat almaidah ayat 50. Terimakasih. [Aris Arianto]

JAWABAN :

Wa'alaikum salam. Firman Allah Swt :

{أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ}

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (Al-Maidah: 50)
Melalui  ayat ini Allah Swt. mengingkari perbuatan orang-orang yang keluar dari  hukum Allah yang muhkam lagi mencakup semua kebaikan, melarang setiap  perbuatan jahat, lalu mereka memilih pendapat-pendapat yang lain dan  kecenderungan-kecenderungannya serta peristilahan yang dibuat oleh kaum  lelaki tanpa sandaran dari syariat Allah, seperti yang pernah dilakukan  oleh ahli Jahiliah. Orang-orang Jahiliah memutuskan perkara mereka  dengan kesesatan dan kebodohan yang mereka buat-buat sendiri oleh  pendapat dan keinginan mereka. Dan juga sama dengan hukum yang dipakai  oleh bangsa Tartar berupa undang-undang kerajaan yang diambil dari raja  mereka, yaitu Jengis Khan; perundang-undangan tersebut dibuat oleh  Al-Yasuq untuk mereka. Undang-undang ini terangkum di dalam suatu kitab  yang di dalamnya memuat semua hukum-hukum yang dipetik dari berbagai  macam syariat, dari agama Yahudi, Nasrani, dan agama Islam serta  lain-lainnya. Di dalamnya banyak terdapat undang-undang yang ditetapkan  hanya berdasarkan pandangan dan keinginan Jengis Khan sendiri, kemudian  hal tersebut di kalangan keturunannya menjadi peraturan yang diikuti dan  lebih diprioritaskan atas hukum Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya. Barang  siapa yang melakukan hal tersebut dari kalangan mereka, maka dia adalah  orang kafir yang wajib diperangi hingga dia kembali kepada hukum Allah  dan Rasul-Nya, karena tiada hukum kecuali hukum-Nya, baik dalam perkara  yang kecil maupun perkara yang besar.

Firman Allah Swt.:
{أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ}
Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. (Al-Maidah: 50)
Yakni yang mereka inginkan dan mereka kehendaki, lalu mereka berpaling dari hukum Allah.

{وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ}
dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (Al-Maidah: 50)
Yaitu  siapakah yang lebih adil daripada Allah dalam hukumnya bagi orang yang  mengerti akan syariat Allah, beriman kepada-Nya, dan yakin serta  mengetahui bahwa Allah adalah Hakim di atas semua hakim serta Dia lebih  belas kasihan kepada makhluk-Nya ketimbang seorang ibu kepada anaknya?  Dan sesungguhnya Dia adalah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa atas segala  sesuatu, lagi Mahaadil dalam segala sesuatu.
Ibnu Abu  Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah  menceritakan kepada kami Hilal ibnu Fayyad, telah menceritakan kepada  kami Abu Ubaidah An-Naji yang telah mencerita­kan bahwa ia pernah  mendengar Al-Hasan berkata, "Barang siapa yang memutuskan perkara bukan  dengan hukum Allah, maka hukum Jahiliah yang dipakainya."
Dan  telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A'la secara qiraah,  telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Ibnu Abu Nujaih  yang telah menceritakan bahwa Tawus apabila ada seseorang bertanya  kepadanya, "Bolehkah aku membeda-bedakan pemberian di antara  anak-anakku?" Maka Tawus membacakan firman-Nya: Apakah hukum Jahiliah  yang mereka kehendaki. (Al-Maidah: 50), hingga akhir ayat.

قَالَ  الْحَافِظُ أَبُو الْقَاسِمِ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ  عَبْدِ الْوَهَّابِ بْنِ نَجْدة الْخُوطِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ  الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبُ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ، عَنْ  عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي حُسَيْنٍ، عَنْ نَافِعِ  بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى  اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ، عَزَّ  وَجَلَّ وَمُبْتَغٍ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ، وَطَالَبُ  دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ ليُرِيق دَمَهُ".

Al-Hafiz  Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad  ibnu Abdul Wahhab ibnu Najdah Al-Huti, telah menceritakan kepada kami  Abul Yaman Al-Hakam ibnu Nafi', telah menceritakan kepada kami Syu'aib  ibnu Abu Hamzah, dari Abdullah ibnu Abdur Rahman ibnu Abu Husain, dari  Nafi' ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw.  telah bersabda: Orang yang pating dimurkai oleh Allah Swt. ialah orang  yang menginginkan tuntunan Jahiliah dalam Islam, dan orang yang menuntut  darah seseorang tanpa alasan yang dibenarkan hanya semata-mata ingin  mengalirkan darahnya. Imam Bukhari telah meriwayatkan hal yang semisal, dari Abul Yaman, lengkap dengan sanad berikut tambahannya.

- Tafsir Ibnu Katsir :

وقوله : ( أفحكم الجاهلية يبغون ومن أحسن من الله حكما لقوم  يوقنون ) ينكر تعالى على من خرج عن حكم الله المحكم المشتمل على كل خير ،  الناهي عن كل شر وعدل إلى ما سواه من الآراء والأهواء والاصطلاحات ، التي  وضعها الرجال بلا مستند من شريعة الله ،  كما كان أهل الجاهلية يحكمون به من الضلالات والجهالات ، مما يضعونها  بآرائهم وأهوائهم ، وكما يحكم به التتار من السياسات الملكية المأخوذة عن  ملكهم جنكزخان الذي وضع لهم اليساق وهو عبارة عن كتاب مجموع من أحكام قد  اقتبسها عن شرائع شتى ، من اليهودية والنصرانية والملة الإسلامية ، وفيها  كثير من الأحكام أخذها من مجرد نظره وهواه ، فصارت في بنيه شرعا متبعا ،  يقدمونها على الحكم بكتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم . ومن فعل  ذلك منهم فهو كافر يجب قتاله ، حتى يرجع إلى حكم الله ورسوله [ صلى الله  عليه وسلم ] فلا يحكم سواه في قليل ولا كثير ، قال الله تعالى : ( أفحكم  الجاهلية يبغون ) أي : يبتغون ويريدون ، وعن حكم الله يعدلون . ( ومن أحسن  من الله حكما لقوم يوقنون ) أي : ومن أعدل من الله في حكمه لمن عقل عن الله  شرعه ، وآمن به وأيقن وعلم أنه تعالى أحكم الحاكمين ، وأرحم بخلقه من  الوالدة بولدها ، فإنه تعالى هو العالم بكل شيء ، القادر على كل شيء ،  العادل في كل شيء .
وقال ابن أبي حاتم : حدثنا أبي ،  حدثنا هلال بن فياض حدثنا أبو عبيدة الناجي قال : سمعت الحسن يقول : من حكم  بغير حكم الله ، فحكم الجاهلية [ هو ]
وأخبرنا يونس  بن عبد الأعلى قراءة ، حدثنا سفيان بن عيينة عن ابن أبي نجيح قال : كان  طاوس إذا سأله رجل : أفضل بين ولدي في النحل؟ قرأ : ( أفحكم الجاهلية يبغون  [ ومن أحسن من الله حكما لقوم يوقنون ] )
وقال الحافظ  أبو القاسم الطبراني : حدثنا أحمد بن عبد الوهاب بن نجدة الخوطي حدثنا أبو  اليمان الحكم بن نافع أخبرنا شعيب بن أبي حمزة عن عبد الله بن عبد الرحمن  بن أبي حسين عن نافع بن جبير عن ابن عباس قال : قال رسول الله صلى الله  عليه وسلم : " أبغض الناس إلى الله عز وجل ومبتغ في الإسلام سنة الجاهلية ،  وطالب دم امرئ بغير حق ليريق دمه " . وروى البخاري عن أبي اليمان بإسناده  نحوه .

Ayat ini jangan dipisahkan dari 3 ayat sebelumnya..

- Tafsir Surat Al-Maidah, ayat 48-50 :

وَأَنْزَلْنَا  إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ  الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ  اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ  لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ  لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ  فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا  فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ (48) وَأَنِ احْكُمْ  بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ  وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ  فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ  بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ (49)  أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ  حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (50)

Dan kami telah turunkan  kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang  sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu  ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu, maka putuskanlah perkara  mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa  nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.  Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan  yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya  satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kalian terhadap  pemberian-Nya kepada kalian, maka berlomba-lomba­lah berbuat kebajikan.  Hanya kepada Allah-lah kembali kalian semuanya, lalu diberitahukan-Nya  kepada kalian apa yang telah kalian perselisihkan. dan hendaklah kamu  memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah,  dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu  terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa  yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum  yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah  menghendaki akan me­nimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian  dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang  yang fasik Apakah hukum Jahiliah yang mereka ke­hendaki, dan (hukum)  siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang  yakin?

Setelah  Allah Swt. menyebutkan perihal kitab Taurat yang diturunkan­Nya kepada  Nabi Musa —yang pernah diajak bicara langsung oleh-Nya dan memuji serta  menyanjung Kitab Taurat dan memerintahkan agar kitab Taurat diikuti  ajarannya —mengingat kitab Taurat layak  untuk diikuti oleh mereka—, lalu Allah Swt. menyebutkan perihal kitab  Injil dan memujinya serta memerintahkan kepada para pemegangnya untuk  mengamalkannya dan mengikuti apa yang terkandung di dalamnya, seperti  yang telah disebutkan di atas. Kemudian Allah Swt. menyebutkan tentang  Al-Qur’an yang Dia turunkan kepada hamba dan Rasul-Nya, yaitu Nabi  Muhammad Saw. Untuk itu Allah Swt berfirman:
{وَأَنزلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ}
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran. (Al-Maidah: 48)
Yakni membawa kebenaran, tiada keraguan di dalamnya; dan bahwa Al-Qur'an itu diturunkan dari sisi Allah Swt.
{مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ}
membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya). (Al-Maidah: 48)
Yaitu  kitab-kitab terdahulu yang mengandung sebutan dan pujian kepadanya, dan  bahwa Al-Qur'an itu akan diturunkan dari sisi Allah kepada hamba lagi  Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad Saw. Dan penurunan Al-Qur'an yang sesuai  dengan apa yang telah diberitakan oleh kitab-kitab terdahulu merupakan  faktor yang menambah kepercayaan di kalangan para pemilik kitab-kitab  sebelum Al-Qur'an dari kalangan orang-orang yang mempunyai ilmu dan taat  kepada perintah Allah, mengikuti syariat-syariat Allah serta  membenarkan rasul-rasul Allah, seperti yang disebutkan oleh Allah  melalui firman-Nya:

{إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ  مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلأذْقَانِ سُجَّدًا  وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولا}

Sesungguhnya  orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an  dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil  bersujud, dan mereka berkata, "Maha­suci Tuhan kami; sesungguhnya janji  Tuhan Kami pasti dipenuhi." (Al-Isra: 107-108)
Yakni  sesungguhnya apa yang telah dijanjikan oleh Allah kepada kami melalui  lisan rasul-rasul-Nya yang terdahulu —yaitu mengenai keda­tangan Nabi  Muhammad Saw.— adalah benar-benar terjadi dan pasti dipenuhi.
Firman Allah Swt.:
{وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ}
dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. (Al-Maidah: 48)
Sufyan  As-Sauri dan lain-lainnya telah meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari  At-Tamimi, dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah "dipercaya  oleh kitab-kitab sebelumnya".
Ali  ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud  dengan al-muhaimin ialah "yang dipercaya". Ibnu Abbas mengatakan bahwa  Al-Qur'an adalah kepercayaan semua kitab sebelumnya. Hal yang sama telah  diriwayatkan dari Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Mujahid, Muhammad ibnu Ka'b, Atiyyah. Al-Hasan, Qatadah, Ata Al-Khurrasani, As-Saddi, dan Ibnu Zaid.
Ibnu  Juraij mengatakan, Al-Qur'an adalah kepercayaan kitab-kitab terdahulu  yang sebelumnya. Dengan kata lain, apa saja isi dari kitab terdahulu  yang sesuai dengan Al-Qur'an. maka itu adalah benar; dan apa saja isi  dari kitab-kitab terdahulu yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an, itu  adalah batil.
Telah diriwayatkan dari Al-Walibi, dari  Ibnu Abbas sehubungan dengan makna muhaimin ini, bahwa makna yang  dimaksud ialah sebagai saksi. Hal yang sama telah dikatakan oleh  Mujahid, Qatadah, dan As-Saddi.
Al-Aufi telah  meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna muhaiminan, bahwa  makna yang dimaksud ialah sebagai hakim atau batu ujian bagi kitab-kitab  yang sebelumnya.
Semua pendapat tersebut pengertiannya  saling berdekatan, karena sesungguhnya lafaz muhaimin mengandung semua  pengertian itu, sehingga dapat dikatakan bahwa Al-Qur'an adalah  kepercayaan, saksi, dan hakim atas kitab-kitab yang sebelumnya. Allah  Swt telah menjadikan kitab Al-Qur'an yang agung ini yang Dia turunkan  sebagai akhir dari kitab-kitab Nya dan merupakan pamungkasnya paling  agung dan paling sempurna. Di dalam Al-Qur'an terkandung  kebaikan-kebaikan kitab-kitab sebelumnya dan ditambahkan banyak  kesempurna­an yang tidak terdapat pada kitab-kitab lainnya. Karena  itulah Allah menjadikannya sebagai saksi, kepercayaan dan hakim atas  semua kitab yang terdahulu, dan Allah sendiri menjamin pemeliharaan bagi  keutuhannya.
Untuk itu Allah Swt. berfirman:
{إِنَّا نَحْنُ نزلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ}
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr: 9)
Mengenai  apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari Ikrimah dan Sa'id  ibnu Jubair, Ata Al-Khurrasani serta Ibnu Abu Nujaih dari Mujahid,  mereka mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, "Muhaiminan  'alaihi" bahwa makna yang dimaksud ialah Nabi Muhammad Saw. adalah orang  yang dipercaya atas Al-Qur'an. Kalau ditinjau dari segi maknanya memang  benar, tetapi bila ditafsirkan dengan pengertian ini, masih perlu  dipertimbangkan. Demikian pula mengenai penurunannya kepada dia bila  dipandang dari segi bahasa Arab, masih perlu dipertimbangkan pula. Pada  garis besarnya pendapat yang benar adalah pendapat yang pertama tadi.
Abu  Ja'far ibnu Jarir setelah mengemukakan riwayat dari Mujahid, bahwa  takwil ini sulit dimengerti menurut pemahaman orang-orang Arab, bahkan  merupakan suatu kekeliruan. Dikatakan demikian karena lafaz muhaimin  di-'ataf-kan kepada lafaz musaddiqan. Karena  itu, kedudukannya tiada lain kecuali menjadi sifat dari apa yang  disifati oleh lafaz musaddiqan. Selanjutnya Ibnu Jarir mengatakan bahwa  seadainya duduk perkaranya seperti apa yang dikatakan oleh Mujahid,  niscaya disebutkan oleh firman-Nya dengan ungkapan seperti berikut: "Dan  kami telah turunkan kepadamu Al-Qur'an dengan membawa kebenaran,  sebagai orang yang membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab  (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai orang yang dipercaya untuk  (menerima) Al-Qur'an," yakni dengan ungkapan tanpa huruf  ataf.

Firman Allah Swt :
{فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنزلَ اللَّهُ}
maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan. (Al-Maidah: 48)
Yakni  hai Muhammad, putuskanlah perkara di antara manusia baik yang Arab  maupun yang 'Ajam, baik yang ummi maupun yang pandai baca tulis, dengan  apa yang diturunkan oleh Allah kepadamu di dalam Al-Qur'an yang agung  ini, dan dengan apa yang telah ditetapkan untukmu dari hukum para nabi  sebelummu, tetapi tidak di-mansukh oleh syariatmu. Demikianlah menurut  apa yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir dalam menjabarkan maknanya.

قَالَ  ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمَّارٍ، حَدَّثَنَا  سَعِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ، حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنِ الْعَوَّامِ، عَنْ  سُفْيَانَ بْنِ حُسَيْنٍ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابْنِ  عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  مُخَيَّرًا، إِنْ شَاءَ حَكَمَ بَيْنَهُمْ، وَإِنْ شَاءَ أَعْرَضَ  عَنْهُمْ. فَرَدَّهُمْ إِلَى أَحْكَامِهِمْ، فَنَزَلَتْ: {وَأَنِ احْكُمْ  بَيْنَهُمْ بِمَا أَنزلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ} فَأَمَرَ  رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَحْكُمَ  بَيْنَهُمْ بِمَا فِي كِتَابِنَا.

Ibnu Abu Hatim  mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ammar, telah  menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada  kami Abbad ibnu! Awwam, dari Sufyan ibnu Husain, dari Al-Hakam, dari  Mujahid, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Nabi Saw. disuruh  memilih. Jika beliau suka, boleh memutuskan perkara di antara mereka  (kaum Ahli Kitab); dan jika tidak suka, beliau boleh berpaling dari  mereka, lalu mengembalikan keputusan mereka kepada hukum-hukum mereka  sendiri. Maka turunlah firman-Nya: dan hendaklah kamu memutuskan perkara  di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu  mengikuti hawa nafsu mereka. (Al-Maidah: 49); Dengan turunnya ayat ini  Rasulullah Saw. diperintahkan untuk memutus­kan perkara di antara mereka  (Ahli Kitab) dengan apa yang terdapat di dalam kitab kita, yakni  Al-Qur'an.
Firman Allah Swt :
{وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ}
dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. (Al-Maidah: 49)
Yaitu  pendapat-pendapat mereka yang mereka peristilahkan sendiri, dan  karenanya mereka meninggalkan apa yang apa yang diturunkan oleh Allah  kepada Rasul Nya. Karena itulah disebutkan dalam firman-Nya:
{وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ}
dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. (Al-Maidah: 48)
Yakni  janganlah kamu berpaling dari kebenaran yang diperintahkan Allah  kepadamu, lalu kamu cenderung kepada hawa nafsu orang-orang yang bodoh  lagi celaka itu.
Firman Allah Swt.:
{لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا}
Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. (Al-Maidah: 48)
Ibnu  Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id  Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al-Ahmar, dari Yusuf  ibnu Abu Ishaq, dari ayahnya, dari At-Tamimi, dari Ibnu Abbas  sehubungan dengan firman-Nya: Untuk tiap-tiap umat di antara kalian,  Kami berikan aturan. (Al-Maidah: 48); Bahwa yang dimaksud dengan  syir'atan ialah jalan.
Dan telah menceritakan kepada  kami Abu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Waki', dari Sufyan, dari  Abu Ishaq, dari At-Tamimi, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:  dan jalan yang terang. (Al-Maidah: 48); Makna yang dimaksud ialah  tuntunan.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Aufi,  dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud dengan syir'atan wa minhajan  ialah jalan dan tuntunan.
Hal yang sama telah  diriwayatkan dari Mujahid, Ikrimah, Al-Hasan Al-Basri, Qatadah,  Ad-Dahhak, As-Saddi, Abu Ishaq As-Subai'i, bahwa mereka telah mengatakan  sehubungan dengan makna firman-Nya, "Syir'atan wa minhajan", bahwa  makna yang dimaksud ialah jalan dan tuntunan. Dan dari Ibnu Abbas,  Mujahid serta Ata Al-Khurrasani disebutkan sebaliknya, bahwa yang  dimaksud dengan syir'ah ialah tuntunan, sedangkan minhaj ialah jalan.  Tetapi pendapat pertama lebih sesuai, mengingat makna syir'ah juga  berarti "syariat" dan "permulaan untuk menuju ke arah sesuatu". Termasuk  ke dalam pengertian ini dikatakan syara'aji kaza yang artinya  "memulainya". Demikian pula makna lafaz syari'ah, artinya sesuatu yang  dipakai untuk berlayar di atas air. Makna minhaj adalah jalan yang  terang lagi mudah, sedangkan lafaz as-sunan artinya tuntunan-tuntunan.  Dengan demikian, berarti tafsir firman-Nya, "Syir'atan wa minhajan',  dengan pengertian jalan dan tuntunan lebih jelas kaitannya daripada  kebalikannya. Kemudian konteks ini dalam kaitan memberitakan perihal  umat-umat yang beraneka ragam agamanya dipandang dari aneka ragam  syariat mereka yang berbeda-beda sesuai dengan apa yang telah  disampaikan oleh Allah melalui rasul-rasul-Nya yang mulia, tetapi sama  dalam pokoknya, yaitu ajaran tauhid.
Disebutkan di dalam kitab Sahih Bukhari, dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"نَحْنُ مُعَاشِرَ الْأَنْبِيَاءِ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ، دِينُنَا وَاحِدٌ"
Kami para nabi adalah saudara-saudara yang berlainan ibu, tetapi agama kami satu.
Makna  yang dimaksud ialah ajaran tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada  semua rasul yang diutus-Nya dan terkandung di dalam semua kitab yang  diturunkan-Nya, seperti apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
{وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ}
Dan  Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami  wahyukan kepadanya, "Bahwa tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah  olehmu sekalian akan Aku." (Al-Anbiya: 25)
{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ}
Dan  sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk  menyerukan), "Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah tagut itu" (An-Nahl:  36), hingga akhir ayat.
Adapun mengenai berbagai macam  syariat yang berbeda-beda dalam masalah perintah dan larangannya,  adakalanya sesuatu hal dalam suatu syariat diharamkan, kemudian dalam  syariat yang lain dihalalkan dan kebalikannya; lalu diringankan dalam  suatu syariat, sedangkan dalam syariat yang lain diperberat. Yang  demikian itu karena mengandung hikmah yang tidak terbatas serta hujah  yang jelas bagi Allah dalam menentukan hal tersebut.
Sa’id  ibnu Abu Arubah telah meriwayatkan dari Qatadah sehubung­an dengan  makna firman-Nya: Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan  aturan dan jalan yang terang. (Al-Maidah: 48); Makna yang dimaksud ialah  jalan dan tuntunan. Tuntunan itu berbeda-beda,  di dalam kitab Taurat merupakan suatu syariat, di dalam kitab Injil  merupakan suatu syariat, dan di dalam Al-Qur'an merupakan suatu syariat;  di dalamnya Allah menghalalkan apa yang dikehendaki-Nya dan  mengharamkan apa yang dikehendaki-Nya, yaitu untuk me­nyatakan siapa  yang taat kepada-Nya dan siapa yang durhaka. Agama yang tidak diterima  oleh Allah ialah yang selainnya, yakni selain agama tauhid dan ikhlas  kepada Allah semata. Agama inilah yang didatangkan oleh semua rasul.
Menurut  suatu pendapat, orang yang diajak bicara oleh ayat ini adalah umat ini,  yakni umat Nabi Muhammad Saw. Makna yang dimaksud ialah "untuk  tiap-tiap orang dari kaitan yang termasuk dalam umat ini, Kami jadikan  Al-Qur'an sebagai jalan dan tuntunannya". Dengan kata lain, Al-Qur'an  adalah buat kalian semuanya sebagai panutan kalian. Damir yang mansub  dalam firman-Nya, "Likullin ja'alna minkum" yaitu ja'alnahu yang artinya  "Kami jadikan Al-Qur'an sebagai syariat dan tuntunannya untuk menuju ke  tujuan yang benar dan sebagai tuntunan, yakni jalan yang jelas lagi  gamblang". Demikianlah menurut ringkasan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu  Jarir, dari Mujahid.
Akan tetapi, pendapat yang benar adalah yang pertama tadi, karena diperkuat dengan firman selanjutnya yang mengatakan:
{وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً}
Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat (saja). (Al-Maidah: 48)
Seandainya  hal ini merupakan khitab (pembicaraan) bagi umat ini, niscaya kurang  tepatlah bila disebutkan oleh firman-Nya: Sekiranya Allah menghendaki,  niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat (saja). (Al-Maidah: 48)
Padahal  mereka merupakan satu umat, tetapi hal ini merupakan khitab  (pembicaraan) yang ditujukan kepada semua umat dan sebagai pemberitahuan  tentang kekuasaan Allah Yang Mahabesar, yang seandai­nya Dia  menghendaki, niscaya dihimpunkan-Nya semua umat manusia dalam satu agama  dan satu syariat yang tiada sesuatu pun darinya yang di-mansukh.
Akan  tetapi, Allah Swt. menjadikan suatu syariat tersendiri bagi tiap rasul,  kemudian me-mansukh seluruhnya atau sebagiannya dengan risalah lain  yang diutus oleh Allah sesudahnya, hingga semuanya di-mansukh oleh apa  yang diturunkan Nya kepada hamba lagi rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad  Saw. Allah mengutusnya kepada seluruh penduduk bumi dan menjadikannya  sebagai penutup para nabi semua­nya. Karena itulah disebutkan oleh  firman-Nya:
{وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِيمَا آتَاكُمْ}
Sekiranya  Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat (saja),  tetapi Allah hendak menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepada kalian.  (Al-Maidah: 48)
Dengan  kata lain, Allah Swt. telah menetapkan berbagai macam syariat untuk  menguji hamba-hamba-Nya terhadap apa yang telah disyariatkan untuk  mereka dan memberi mereka pahala karena taat kepadanya, atau menyiksa  mereka karena durhaka kepada-Nya melalui apa yang mereka perbuat atau yang mereka tekadkan dari kesemuanya itu.
Abdullah ibnu Kasir mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
{فِيمَا آتَاكُمْ}
terhadap pemberian-Nya kepada kalian. (Al-Maidah: 48)
Makna yang dimaksud ialah Al-Kitab.
Kemudian  Allah Swt. menganjurkan kepada mereka untuk bersegera mengerjakan  kebajikan dan berlomba-lomba mengerjakannya. Untuk itu disebutkan oleh  firman-Nya:
{فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ}
maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. (Al-Maidah: 48)
Yaitu  taat kepada Allah dan mengikuti syariat-Nya yang dijadikan-Nya  me-mansukh syariat pendahulunya serta membenarkan kitab Al-Qur'an yang  merupakan akhir dari kitab yang diturunkan-Nya. Kemudian Allah Swt.  berfirman:
{إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا}
Hanya kepada Allah-lah kembali kalian. (Al-Maidah: 48)
Yakni tempat kembali kalian kelak di hari kiamat hanyalah kepada Allah Swt.
{فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ}
lalu diberitahukan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian perselisihkan itu. (Al-Maidah: 48)
Yaitu  Allah memberitahukan kepada kalian kebenaran mengenai apa yang kalian  perselisihkan, maka Dia akan memberikan balasan pahala kepada  orang-orang yang percaya berkat kepercayaan mereka dan mengazab  orang-orang kafir yang ingkar lagi mendustakan perkara yang hak dan  menyimpang darinya ke yang lain tanpa dalil dan tanpa bukti, bahkan  mereka sengaja ingkar terhadap bukti-bukti yang jelas, hujah-hujah yang  terang serta dalil-dalil yang pasti.
Ad-Dahhak, makna firman-Nya: maka berlomba-lombalah kepada kebajikan. (Al-Maidah: 48) ialah umat Nabi Muhammad Saw.,
tetapi makna yang pertama lebih jelas dan lebih kuat.
Firman Allah Swt :
{وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنزلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ}
maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. (Al-Maidah: 49)
Ayat  ini mengukuhkan apa yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu perintah  yang menganjurkan hal tersebut dan larangan berbuat kebalikan­nya.
Kemudian Allah Swt berfirman:
{وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنزلَ اللَّهُ إِلَيْكَ}
Dan  berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan  kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. (Al-Maidah:  49)
Yakni waspadalah terhadap musuh orang-orang Yahudi  itu, jangan biarkan mereka memalsukan perkara yang hak melalui berbagai  macam perkara yang mereka ajukan kepadamu; janganlah kamu teperdaya oleh  mereka, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang pendusta, kafir  lagi penghianat.
{فَإِنْ تَوَلَّوْا}
Jika mereka berpaling. (Al-Maidah: 49)
Yaitu berpaling dari perkara hak yang telah kamu putuskan di antara mereka, lalu mereka menentang syariat Allah.
{فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ}
maka  ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah  kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. (Al-Maidah: 49)
Yakni  ketahuilah bahwa hal itu telah direncanakan oleh takdir Allah dan  kebijaksanaan-Nya terhadap mereka, yaitu Dia hendak memalingkan mereka  dari jalan hidayah disebabkan dosa-dosa mereka yang terdahulu yang  berakibat kesesatan dan pembangkangan mereka.
{وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ}
Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Al-Maidah: 49)
Yaitu  sesungguhnya kebanyakan manusia benar-benar keluar dari ketaatan kepada  Tuhan mereka dan menentang perkara yang hak serta berpaling darinya.  Perihalnya sama dengan pengertian yang terkandung di dalam ayat lain,  yaitu Firman-Nya:
{وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ}
Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya. (Yusuf: 103)
{وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ}
Dan  jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini niscaya  mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. (Al-An'am: 116), hingga  akhir ayat.

قَالَ  مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ: حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي مُحَمَّدٍ  مَوْلَى زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ، حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ أَوْ  عِكْرِمَةُ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ كَعْبُ بْنُ أَسَدٍ، وَابْنُ  صَلُوبَا، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ صوريا،  وشاس بْنُ قَيْسٍ، بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: اذْهَبُوا بِنَا إِلَى مُحَمَّدٍ،  لَعَلَّنَا نَفْتِنُهُ عَنْ دِينِهِ! فَأَتَوْهُ، فَقَالُوا: يَا  مُحَمَّدُ، إِنَّكَ قَدْ عَرَفْتَ أَنَّا أَحْبَارُ يَهُودَ  وَأَشْرَافُهُمْ وَسَادَاتُهُمْ، وَإِنَّا إِنِ اتَّبَعْنَاكَ اتَّبَعَنَا  يَهُودُ وَلَمْ يُخَالِفُونَا، وَإِنَّ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا  خُصُومَةً فَنُحَاكِمُهُمْ إِلَيْكَ، فَتَقْضِي لَنَا عَلَيْهِمْ،  وَنُؤْمِنُ لَكَ، وَنُصَدِّقُكَ! فَأَبَى ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى  اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ، فِيهِمْ:  {وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنزلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ  أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنزلَ  اللَّهُ إِلَيْكَ} إِلَى قَوْلِهِ: {لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ}

Muhammad  ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu  Muhammad maula Zaid ibnu Sabit, telah menceritakan kepadaku Sa'id ibnu  Jubair atau Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Ka'b ibnu  Asad, Ibnu Saluba, Abdullah ibnu Suria, dan Syas ibnu Qais; sebagian  dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, "Marilah kita berangkat  kepada Muhammad, barangkali saja kita dapat memalingkan dia dari  agama­nya." Lalu mereka datang kepada Nabi Muhammad dan berkata, "Hai  Muhammad, sesungguhnya engkau telah mengetahui bahwa kami ada­lah  rahib-rahib Yahudi, orang-orang terhormat, dan pemuka-pemuka mereka. Dan  sesungguhnya jika kami mengikutimu, niscaya orang-orang Yahudi akan  mengikutimu dan tidak akan menentang kami. Seka­rang telah terjadi suatu  perselisihan antara kami dan kaum kami, maka kami serahkan keputusan  kami dan mereka kepadamu; dan engkau putuskan untuk kemenangan kami atas  mereka, lalu kami mau beriman kepadamu dan membenarkanmu." Tetapi  Rasulullah Saw. menolak tawaran itu, dan Allah Swt menu­runkan  firman-Nya berkenaan dengan peristiwa mereka itu, yakni firman-Nya: dan  hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang  diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan  berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan  kamu dari sebagian apa yang diturunkan Allah kepadamu. (Al-Maidah: 49)  sampai dengan firman-Nya: bagi orang-orang yang yakin. (Al-Maidah: 50)
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim.

- Tafsir Ibnu Katsir :

( وأنزلنا إليك الكتاب بالحق مصدقا لما بين يديه من الكتاب ومهيمنا  عليه فاحكم بينهم بما أنزل الله ولا تتبع أهواءهم عما جاءك من الحق لكل  جعلنا منكم شرعة ومنهاجا ولو شاء الله لجعلكم أمة واحدة ولكن ليبلوكم في ما  آتاكم فاستبقوا الخيرات إلى الله مرجعكم  جميعا فينبئكم بما كنتم فيه تختلفون ( 48 ) وأن احكم بينهم بما أنزل الله  ولا تتبع أهواءهم واحذرهم أن يفتنوك عن بعض ما أنزل الله إليك فإن تولوا  فاعلم أنما يريد الله أن يصيبهم ببعض ذنوبهم وإن كثيرا من الناس لفاسقون (  49 ) أفحكم الجاهلية يبغون ومن أحسن من الله حكما لقوم يوقنون ( 50 ) )
لما  ذكر تعالى التوراة التي أنزلها الله على موسى كليمه [ عليه السلام ]  ومدحها وأثنى عليها ، وأمر باتباعها حيث كانت سائغة الاتباع ، وذكر الإنجيل  ومدحه ، وأمر أهله بإقامته واتباع ما فيه ، كما تقدم بيانه ، شرع تعالى في  ذكر القرآن العظيم ، الذي أنزله على عبده ورسوله الكريم ، فقال : (  وأنزلنا إليك الكتاب بالحق ) أي : بالصدق الذي لا ريب فيه أنه من عند الله ،  ( مصدقا لما بين يديه من الكتاب ) أي : من الكتب المتقدمة المتضمنة ذكره  ومدحه ، وأنه سينزل من عند الله على عبده ورسوله محمد صلى الله عليه وسلم ،  فكان نزوله كما أخبرت به ، مما زادها صدقا عند حامليها من ذوي البصائر ،  الذين انقادوا لأمر الله واتبعوا شرائع الله ، وصدقوا رسل الله ، كما قال  تعالى : ( إن الذين أوتوا العلم من قبله إذا يتلى عليهم يخرون للأذقان سجدا  ويقولون سبحان ربنا إن كان وعد ربنا لمفعولا ) [ الإسراء : 107 ، 108 ] أي  : إن كان ما وعدنا الله على ألسنة الرسل المتقدمين ، من مجيء محمد ، عليه  السلام ، ( لمفعولا ) أي : لكائنا لا محالة ولا بد .
وقوله  : ( ومهيمنا عليه ) قال سفيان الثوري وغيره ، عن أبي إسحاق عن التميمي عن  ابن عباس أي : مؤتمنا عليه . وقال علي بن أبي طلحة عن ابن عباس : المهيمن :  الأمين ، قال : القرآن أمين على كل كتاب قبله .
وروي عن عكرمة وسعيد بن جبير ومجاهد ومحمد بن كعب وعطية والحسن وقتادة وعطاء الخراساني والسدي وابن زيد نحو ذلك .
وقال ابن جريج : القرآن أمين على الكتب المتقدمة ، فما وافقه منها فهو حق ، وما خالفه منها فهو باطل .

Dan seterusnya, selengkapnya bisa dibaca di http://s.id/ibnukatsir
Wallahu a’lam. [@santrialit]

LINK ASAL :

www.fb.com/groups/piss.ktb/1590961777593291/


.
Back To Top