Bismillahirrohmaanirrohiim
Download Aplikasi persembahan PISS-KTB dan Islamuna 👉 Download!

2947. MAKSUD HADIST "Janganlah orang kota menjual untuk orang desa"

PERTANYAAN:


Ummi Af-idah

Assalamu'alaykum... Mas Dlole: Ummi apa maksud hadist "janganlah orang kota menjual untuk orang desa"
Ummi: Ini hadistnya KITAB BUKHARI HADIST NO - 2013 :
Telah menceritakan kepada kami Ash-Shaltu bin Muhammad telah menceritakan kepada kami 'Abdul Wahid telah menceritakan kepada kami Ma'mar dari 'Abdullah bin Thawus dari Bapaknya dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian songsong (cegat) kafilah dagang (sebelum mereka sampai di pasar) dan janganlah orang kota menjual kepada orang desa". Aku bertanya kepada Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma: "Apa arti sabda Beliau; "dan janganlah orang kota menjual untuk orang desa". Dia menjawab: "Janganlah seseorang jadi perantara (broker, calo) bagi orang kota".

حَدَّثَنَا الصَّلْتُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَلَقَّوْا الرُّكْبَانَ وَلَا يَبِعْ حَاضِرٌ لِبَادٍ قَالَ فَقُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ مَا قَوْلُهُ لَا يَبِيعُ حَاضِرٌ لِبَادٍ قَالَ لَا يَكُونُ لَهُ سِمْسَارًا

afwan, tapi saya sendiri blum faham maksudnya ini "Janganlah seseorang jadi perantara (broker, calo) bagi orang kota".
______________________
afwan, tolong di bantu

JAWABAN:

> Abdullah Afif  

Wa'alaikumussalaa. Dalam Shahih Muslim 8/57, maktabah syamilah:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ أَخْبَرَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ ح و حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَبِعْ حَاضِرٌ لِبَادٍ دَعُوا النَّاسَ يَرْزُقْ اللَّهُ بَعْضَهُمْ مِنْ بَعْضٍ.........

dari Jabir dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:"Janganlah penduduk kota menjualkan (menjadi calo penjualan) barang milik penduduk desa, biarkanlah sebagian masyarakat dikaruniai rizqi oleh Allah dari sebagian lainnya."  

Imam Nawawi dalam syarahnya (5/309) menjelaskan:

هَذِهِ الْأَحَادِيث تَتَضَمَّن تَحْرِيم بَيْع الْحَاضِر لِلْبَادِي ، وَبِهِ قَالَ الشَّافِعِيّ وَالْأَكْثَرُونَ قَالَ أَصْحَابنَا : وَالْمُرَاد بِهِ أَنْ يَقْدَم غَرِيب مِنْ الْبَادِيَة أَوْ مِنْ بَلَد آخَر بِمَتَاعٍ تَعُمّ الْحَاجَة إِلَيْهِ لِيَبِيعَهُ بِسِعْرِ يَوْمه ، فَيَقُول لَهُ الْبَلَدِيّ : اُتْرُكْهُ عِنْدِي لِأَبِيعَهُ عَلَى التَّدْرِيج بِأَعْلَى .........
Ashab kami berkata: "Yang dikehendaki dengan BAI'UL HAADHIR LIL BAADI ialah: Ada orang asing datang dari desa atau dari kota lain dengan membawa barang (dagangan) yang mana barang tsb dibutuhkan secara umum, dengan tujuan menjualnya dengan harga saat itu. Orang kota tsb berkata kepadanya:"Tinggalkanlah barang itu disisiku, biarlah aku yang menjualkannya secara bertahap dengan harga lebih".

قَالَ أَصْحَابنَا : وَإِنَّمَا يَحْرُم بِهَذِهِ الشُّرُوط وَبِشَرْطِ أَنْ يَكُون عَالِمًا بِالنَّهْيِ فَلَوْ لَمْ يَعْلَم النَّهْي أَوْ كَانَ الْمَتَاع مِمَّا لَا يَحْتَاج فِي الْبَلَد وَلَا يُؤْثِر فِيهِ لِقِلَّةِ ذَلِكَ الْمَجْلُوب لَمْ يَحْرُموَلَوْ خَالَفَ وَبَاعَ الْحَاضِر لِلْبَادِي صَحَّ الْبَيْع مَعَ التَّحْرِيم هَذَا مَذْهَبنَا وَبِهِ قَالَ جَمَاعَة مِنْ الْمَالِكِيَّة وَغَيْرهمْ وَقَالَ بَعْض الْمَالِكِيَّة : يَفْسَخ الْبَيْع مَا لَمْ يَفُتْ وَقَالَ عَطَاء وَمُجَاهِد وَأَبُو حَنِيفَة : يَجُوز بَيْع الْحَاضِر الْبَادِي مُطْلَقًا لِحَدِيثِ " الدِّين النَّصِيحَة " قَالُوا : وَحَدِيث النَّهْي عَنْ بَيْع الْحَاضِر لِلْبَادِي مَنْسُوخ......... 


Dalam kitab Al Umm juz 3 halaman 92-93, cetakan Daarul Fikr tahun 1410:
 قال الشافعي وليس في النهى عن بيع حاضر لباد بيان معنى والله أعلم لم نهى عنه إلا أن أهل البادية يقدمون جاهلين بالأسواق ولحاجة الناس إلى ما قدموا به ومستثقلي المقام فيكون أدنى من أن يرخص المشترون سلعهم فإذا تولى أهل القرية لهم البيع ذهب هذا المعنى 

Imam Syafi'i berkata:tidak ada makna yang jelas dalam larangan BA'U HAADHIRIN LIBAADIN, wallaahu A'lam, kenapa dilarang, hanya:- Karena penduduk desa datang dengan barang dagangan mereka dalam keadaan mereka tidak mengetahui harga pasar.- Karena orang-orang membutuhkan dengan apa yang mereka bawa.- Dan karena mereka merasa keberatan dengan keadaan yang berakibat pembeli menurunkan harga barang dagangan mereka.Ketika penduduk desa (yang didatangi) menguasakan penjualan kepada mereka, maka hilanglah makna larangan ini. Wallaahu A'lam.

> Ical Rizaldysantrialit
Kita ketahui dalam sejarah, bahwa masyarakat arab banyak mata pencariannya sebagai pedagang. Mereka berdagang darinegeri yang satu kenegeri yang lain. Ketika mereka kembali, mereka membawa barang-barang yang sangat dibutuhkan oleh penduduk mekkah. Mereka datang bersama rombongan besar yang disebut kafilah.Penduduk arab berebut untuk mendapatkan barang tersebut karena harganya murah. Oleh karena itu banyak tengkulak atau makelar mencegat rombongan tersebut di tengah jalan atau memborong barang yang dibawa oleh mereka. Para tengkulak tersebut menjualnya kembali dengan harga yang sangat mahal. Membeli barang dagangan sebelum sampai dipasar atau mencegatnya di tengah jalan merupakan jual beli yang terlarang didalam agama islam.

Rasulullahsaw bersabda:“apabila dua orang saling jual beli,maka keduanya memiliki hak memilih selama mereka berdua belum berpisah,dimana mereka berdua sebelumnya masih bersama atau selama salah satu dari keduanya memberikan pilihan kepada yang lainnya, maka apabila salah seorang telah memberikan pilihan kepada keduanya, lalu mereka berdua sepakat pada pilihan yang diambil, maka wajiblah jual beli itu danapabila mereka berdua berpisah setelah selesai bertransaksi, dan salah satu pihak diantara keduanya tidak meninggalkan transaksi tersebut, maka telah wajiblah jualbeli tersebut”. (diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim, sedangkan lafaznya milik muslim).  

Dalam hadits tersebut jelaslah bahwa islam mensyari’atkan bahwa penjual dan pembeli agar tidak tergesa-gesa dalam bertransaksi, sebab akan menimbulkan penyesalan atau kekecewaan. Islam menyari’atkan tidak hanya ada ijab Kabul dalam jual beli, tapi juga kesempatan untuk berpikir pada pihak kedua selama mereka masih dalam satu majlis.Menurut Hadawiyah dan Asy-syafi’I melarang mencegat barang diluar daerah,alasannya adalah karena penipuan kepada kafilah, sebab kafilah belum mengetahui harganya.  

Malikiyah, Ahmad, dan Ishaq berpendapat bahwa mencegat para kafilah itu dilarang, sesuai dengan zahir hadits.Hanafiyah dan Al-Auja’i membolehkan mencegat kafilah jika tidak mendatangkan mudarat kepada penduduk, tapi jika mendatangkan mudarat pada penduduk,hukumnya makruh.Kandungan Hadits Dilarang pembeli melakukan upaya untuk mencegat pembawa barang/penjual dijalan sebelum sampai di pasar, apalagi dengan tujuan dapat membeli dengan harga yang lebih murah dari harga pasar.Ini bertujuan untuk memberikan jaminan kepada penjual untuk menjual barangnya sesuai dengan harga pasar.

Jika terjadi praktek jual beli dengan cara mencegat penjual di jalan, maka penjual mempunyai hak khiyar setelah ia sampai dipasar. Secara hukum penjual dapat saja membatalkan jual beli yang sudah terjadi dengan cara mengembalikan uang dan meminta barangnya.Alasan pelanggaran adalah memberikan jaminan harga bagi penjual, sehingga pembeli tidak menyembunyikan harga sebenarnya dari penjual.
Syarah :
http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?bk_no=52&ID=1361&idfrom=3946&idto=3949&bookid=52&startno=1


> Hariz Jaya 
 
ياايها الذين امنوالاتأكلوا اموالكم بينكم بالباطل الا ان تكون تجارة عن ترض منكم  

Artinya : Hai orang2 yg beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dg jalan yg bathil, kecuali dg jalan perniagaan yg berlaku suka sama suka di antara kamu. (QS. An-Nisa' :29
(Lihat Kitab Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 Halaman 268-269 :

نهى تبارك وتعالى عباده المؤمنين عن أن يأكلوا أموال بعضهم بعضا بالباطل، أي: بأنواع المكاسب التي هي غير شرعية، كأنواع الربا والقمار، وما جرى مجرى ذلك من سائر صنوف الحيل، وإن ظهرت في غالب الحكم الشرعي مما يعلم الله أن متعاطيها إنما يريد الحيلة على الربا، حتى قال ابن جرير:حدثني ابن المثنى، حدثنا عبد الوهاب، حدثنا داود، عن عكرمة، عن ابن عباس -في الرجل يشتري من الرجل الثوب فيقول: إن رضيته أخذته وإلا رددته ورددت معه درهما-قال: هو الذي قال الله عز وجل: { وَلا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ } وقال ابن أبي حاتم: حدثنا علي بن حرب الموصلي، حدثنا ابن فضيل، عن داود الأودي عن عامر، عن علقمة، عن عبد الله [ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ } ] قال: إنها [كلمة] محكمة، ما نسخت، ولا تنسخ إلى يوم القيامة. وقال علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس: لما أنزل الله: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ } قال المسلمون: إن الله قد نهانا أن نأكل أموالنا بيننا بالباطل، والطعام هو أفضل الأموال، فلا يحل لأحد منا أن يأكل عند أحد، فكيف للناس! فأنزل الله بعد ذلك: { لَيْسَ عَلَى الأعْمَى حَرَجٌ } [النور: 61] الآية، [وكذا قال قتادة بن دعامة]. وقوله: { إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ } قرئ: تجارة بالرفع وبالنصب، وهو استثناء منقطع، كأنه يقول: لا تتعاطوا الأسباب المحرمة في اكتساب الأموال، لكن المتاجر المشروعة التي تكون عن تراض من البائع والمشتري فافعلوها وتسببوا بها في تحصيل الأموال. كما قال [الله] تعالى: { وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ } [الأنعام: 151]، وكقوله { لا يَذُوقُونَ فِيهَا الْمَوْتَ إِلا الْمَوْتَةَ الأولَى } [الدخان: 56]. ومن هذه الآية الكريمة احتج الشافعي [رحمه الله] على أنه لا يصح البيع إلا بالقبول؛ لأنه يدل على التراضي نَصا، بخلاف المعاطاة فإنها قد لا تدل على الرضا ولا بد، وخالف الجمهورَ في ذلك مالك وأبو حنيفة وأحمد وأصحابهم، فرأوا أن الأقوال كما تدل على التراضي، وكذلك الأفعال تدل في بعض المحال قطعا، فصححوا بيع المعاطاة مطلقا، ومنهم من قال: يصح في المحقَّرات، وفيما يعده الناس بيعا، وهو احتياط نظر من محققي المذهب، والله أعلم. قال مجاهد: { إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ } بيعا أو عطاء يعطيه أحد أحدًا. ورواه ابن جرير [ثم] قال:وحدثنا ابن وَكِيع، حدثنا أبي، عن القاسم، عن سليمان الجُعْفي، عن أبيه، عن ميمون بن مهران قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "البَيْعُ عن تَراض والخِيارُ بعد الصَّفقة ولا يحل لمسلم أن يغش مسلمًا". هذا حديث مرسل.ومن تمام التراضي إثبات خيار المجلس، كما ثبت في الصحيحين: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "البيعان بالخيار ما لم يَتَفَرقا" وفي لفظ البخاري: "إذا تبايع الرجلان فكل واحد منهما بالخيار ما لم يتفرقا" وذهب إلى القول بمقتضى هذا الحديث الشافعي، وأحمد [بن حنبل] وأصحابهما، وجمهورُ السلف والخلف. ومن ذلك مشروعية خيار الشرط بعد العقد إلى ثلاثة أيام، [كما هو متفق عليه بين العلماء إلى ما هو أزيد من ثلاثة أيام] بحسب ما يتبين فيه مال البيع، ولو إلى سنة في القرية ونحوها، كما هو المشهور عن مالك، رحمه الله. وصححوا بيع المعاطاة مطلقا، وهو قول في مذهب الشافعي، ومنهم من قال: يصح بيع المعاطاة في المحقرات فيما يعده الناس بيعا، وهو اختيار طائفة من الأصحاب. وقوله: { وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ } أي: بارتكاب محارم الله وتعاطي معاصيه وأكل أموالكم بينكم بالباطل { إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا } أي: فيما أمركم به، ونهاكم عنه.(Lihat Kitab Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 Halaman 268-269)  

Penjelasannya : Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman yang memakan harta sebagian dari mereka atas sebagian yang lain dengan cara yang bathil, yaitu melalui usaha yang tidak di akui oleh syari’at, seperti dengan cara riba, dan judi serta cara-cara lainnya yang termasuk kedalam katagori tsb dengan menggunakan berbagai macam tipuan dan pengelabuan. Sekali pun pada lahiriahnya cara-cara tsb memakai cara yang di akui oleh syari’at tp Allah lebih mengetahui bahwa sesungguhnya para pelakunya hanyalah semata-mata menjalankan riba, tp dengan cara hailah (tipu muslihat). Demikianlah yang terjadi pada kebanyakannya. 

Ibnu Jarir mengatakan telah menceritakan kepadaku ibnul musanna, telah menceritakan kepada kami abdul wahhab, telah menceritakan kepada kami daud, dari ikrimah, dari ibnu abbas sehubungan dengan seorang laki-laki yang membeli dari laki-laki lain sebuah pakaian, lalu laki-laki pertama mengatakan, jika aku suka maka aku akan mengembalikannya, dan jika aku tidak suka, maka akan aku kembalikan berikut dengan satu dirham.Ibnu Abbas mengatakan bahwa hal inilah yang di sebutkan oleh Allah di dalam firman-Nya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang bathil”. (QS. An-Nisa’ : 29). 

Ibnu Abi Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali Ibnu Harb Al-Mushalli, telah menceritakan kepada kami ibnul fadhail, dari daud al-haidi, dari amir, dari al-qamah, dari abdullah, sehubungan dengan ayat ini bahwa ayat ini muhkamah tidak di mansukh dan tidak akan di mansukh sampai hari kiamat.Ali Ibnu Abu Thalhah meriwayatkan dari ibnu abbas bahwa ketika Allah menurunkan firman-Nya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang bathil”. (QS. An-Nisa’ : 29). Maka kaum muslimin berkata, sesungguhnya Allah telah melarang kita memakan harta sesama kita dengan cara yang bathil, sedangkan makanan adalah harta kita yang paling utama. Maka tidak halal bagi seorang pun di antara kita makan pada orang lain, bagaimanakah nasib orang lain (yang tidak mampu). Maka Allah menurunkan Firman-Nya : “Tida dosa atas orang-orang tuna nitra”. (QS. Al-Fath : 17). Hingga akhir ayat.  

Hal yang sama di katakan pula oleh qotadhah, firman Allah : “Terkecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kalian”. (QS. An-Nisa’ : 29). Lafadz TIJARATAN dapat pula di baca TIJARATUN, ungkapan ini merupakan bentu’ ISTISNA’ MUQATHI’. Seakan-akan di katakan, janganlah kalian menjalankan usaha yang menyebabkan perbuatan yang di haramkan, tapi berniagalah menurut peraturan yang di akui oleh syari’ah yaitu perniagaan yang di lakukan suka sama suka diantara pihak pembeli dan pihak penjual dan carilah ke untungan dengan cara yang di akui oleh syari’at. Perihalnya sama dengan ISTISNA’ yang di sebutkan di dalam firman-Nya : “dan janganlah kalian membunuh jiwa yang di haramkan oleh Allah (membunuhnya) kecuali dengan sesuatu yang benar”. (QS. Al-An-‘Am : 151).

Juga seperti yang ada dalam firman-Nya : “Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya ke cuali mati di dunia”. Merangkat dari pengertian ayat ini, Imam Syafi’I menyimpulkan dalil yang mengatakan tidak sah jual beli itu ke cuali dengan serah terima secara qabul, karena hal ini merupakan bukti yang menunjukkan adanya suka sama suka se suai dengan nas ayat.

Lain halnya dengan jual beli secara MU’ATAH, hal ini tidak menunjukkan adanya saling suka sama suka, adanya sighat ijab qabul itu merupakan suatu ke harusan, dalam jual beli.Tapi jumhur ulama’ imam malik, imam abu hanifah dan imam ahmad berpendapat berbeda, mereka mengatakan sebagaimana ucapan itu menunjukkan adanya suka sama suka, begitu pula perbuatan, ia dapat menunjukkan kepastian adanya suka sama suka dalam kondisi tertentu, karena itu mereka membenarkan ke absahan jual beli secara MU’ATAH (secara mutlak).

Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa jual beli MU’ATAH hanya sah di lakukan terhadap hal-hal yang kecil dan terhadap hal-hal yang di anggap oleh kebanyakan orang se bagai jual beli. Tapi pendapat ini adalah pandangan hati-hati dari sebagian ulama’ ahli tahqiq dari kalangan madzhab syafi’i.Mujahid mengatakan se hubungan dengan firman-Nya : ”Kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka, di antara kalian”. (QS. An-Nisa’ : 29). Baik berupa jual beli atau apa yang di berikan dari seseorang kepada orang lain. Demikianlah menurut apa yang di riwayatkan oleh Ibnu Jarir. 

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami waki’, telah menceritakan kepada kepada kami ayahku, dari al-qasim, dari sulaiman al-ju’fi, dari ayahnya dari maimun ibnu mihram yang menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda : Jual beli harus dengan suka sama suka, dan khiyar adalah se sudah transaksi, dan tidak halal bagi seorang muslim menipu muslim lainnya”. Hadits ini berpredikat mursal. (Lihat kitab Tafsir Ath Thabari Juz 8 Halaman 221). 

Faktor yang menunjukkan adanya suka sama suka secara sempurna terbukti melalui adanya khiyar majlis. Seperti yang di sebutkan dalam kitab shohihain, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda : “ Penjual dan Pembeli masih dalam keadaan khiyar selagi keduanya belum berpisah”.

Menurut lafadz yang ada pada imam Bukhori di sebutkan seperti berikut : “Apabila dua orang laki-laki melakukan transaksi jual beli maka masing-masing pihak dari keduanya boleh khiyar selagi keduanya belum berpisah. (HR. Bukhori No. 2109 dan Muslim 1531). 

Orang yang berpendapat sesuai dengan makna hadits ini adalah imam ahmad dan imam syafi’I serta murid-murid keduanya juga kebanyakan ulama’ salaf dan ulama’ khalaf.Termasuk kedalam pengertian hadits ini adanya khiyar syarat sesudah transaksi sampai tiga hari berikutnya di sesuaikan menurut apa yang di jelaskan di dalam transaksi mengenai subjek barangnya, sekali pun sampai satu tahun, selagi masih dalam satu kampung dan tempat lainnya yang semisal. Demikianlah menurut pendapat yang tekenal dari imam malik.Mereka menilai sah jual beli MU’ATAH secara mutlak. 

Pendapat ini di katakan oleh madzhab imam syafi’I. di antara mereka ada yang mengatakan bahwa jual beli secara MU’ATAH itu tidak sah hanya pada barang-barang yang kecil yang menurut tradis orang-orang dinilai sebagai jual beli. Pendapat ini merupakan hasil penyaringan yang di lakukan oleh segolongan ulama’ dari kalangan murid-murid imam syafi’I dan telah di sepakati di kalangan mereka. Wallahu A'lam.

LINK DISKUSI:   
https://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/726168727405938/
https://mbasic.facebook.com/notes/727103273979150/