Bismillahirrohmaanirrohiim

6132. Cara Merawat Jenazah Orang Yang Mati dan Hidup Lagi Lalu Kembali Mati

PERTANYAAN :


Assalamualaikum tadz, saya mau tanya seumpama ada orang meninggal kmudian pas mau dikebumikan iya hidup lagi (mati suri) sekitar10 detik kemudian ia kembali meninggal. Pertanyaan : Apakah pemulasaraan mayit tersebut harus diulang dari awal mulai memandikan sampai akhir ?. Mohon jawabannya. [Mas Nan].

JAWABAN :

Wa'alaikumussalam. Jika ada orang yang mati dengan mati sesungguhnya, lalu orang itu hidup lagi, maka hendaklah mayyit itu di-tajhiz lagi (dimandikan lagi, dibungkus lagi dengan kain kafan, disholati lagi, dikuburkan lagi ke dalam kubur). Lihat Kitab I'anah At Thalibin 2/109 Alhidayah :

( فَرْعٌ آخَرُ ) لَوْ مَاتَ إنْسَانٌ مَوْتًا حَقِيقِيًّا وَجُهِّزَ ثُمَّ أُحْيِيَ حَيَاةً حَقِيقِيَّةً ثُمَّ مَاتَ فَالْوَجْهُ الَّذِي لَا شَكَّ فِيهِ أَنَّهُ يَجِبُ لَهُ تَجْهِيزٌ آخَرُ خِلَافًا لِمَنْ تَوَهَّمَهُ اهـ وَفِيْ ع ش مَا نَصُّهُ: وَفِي فَتَاوَى ابْنِ حَجّ الْحَدِيثِيَّةِ مَا حَاصِلُهُ أَنَّ مَنْ أُحْيِيَ بَعْدَ الْمَوْتِ الْحَقِيقِيِّ بِأَنْ أَخْبَرَ بِهِ مَعْصُومٌ ثَبَتَ لَهُ جَمِيعُ أَحْكَامِ الْمَوْتَى مِنْ قِسْمَةِ تَرِكَتِهِ وَنِكَاحِ زَوْجَتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ وَأَنَّ الْحَيَاةَ الثَّانِيَةَ لَا يُعَوَّلُ عَلَيْهَا لِأَنَّ ذَلِكَ تَشْرِيعٌ لِمَا لَمْ يَرِدْ هُوَ وَلَا نَظِيرُهُ وَلَا مَا يُقَارِبُهُ وَتَشْرِيعُ مَا هُوَ كَذَلِكَ مُمْتَنِعٌ بِلَا شَكٍّ انْتَهَى أَيْ وَعَلَيْهِ فَمَنْ مَاتَ بَعْدَ الْحَيَاةِ الثَّانِيَةِ لَا يُغَسَّلُ وَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِ وَإِنَّمَا يَجِبُ مُوَارَاتُهُ فَقَطْ وَأَمَّا إذَا لَمْ يَتَحَقَّقْ مَوْتُهُ حَكَمْنَا بِأَنَّهُ إنَّمَا كَانَ بِهِ غَشْيٌ أَوْ نَحْوُهُ ا هـ

(Cabang lainnya) Apabila seorang manusia telah mati secara hakiki dan telah ditajhis, lalu kemudian dia hidup kembali secara hakiki, tidak lama kemudian mati kembali, maka menurut satu jalan hukum yang tidaklah ada keraguan di dalamnya, bahwasannya mayat orang tersebut wajib ditajhis ulang. Hal berbeda dengan Ulama' yang memiliki pandangan hukum tersendiri. Intahaa.
Dan menurut hukum yang dinash oleh 'Ali Shibra Malisi, juga dalam Fatawi Haditsiyah Imam ibn Hajar, disimpulkan ; Bahwasannya apabila ada seseorang yang hidup kembali setelah kematian yang hakiki, seperti kematiannya tersebut telah dikonfirmasikan oleh seseorang yang benar-benar ahlinya dalam hal ini, maka bagi orang yang hidup kembali tersebut adalah belakunya seluruh hukum-hukum kematian, seperti hukum pembagian warisan, status pernikahan, dan lainnya. Namun apabila kematiannya belum jelas, maka Fuqaha' menghukuminya sebagaimana orang yang pingsan atau semacamnya.
واللّٰه سـبحانه وتعالى أعلم
Wallohu a'lam. [Moh Khotib, Ahmad Nasih Zayn, Muhammad Nuuruddiin].

LINK ASAL :
https://web.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/4308076665881775/


.
Back To Top