Bismillahirrohmaanirrohiim

6050. JIKA WAS-WAS SAAT PUASA

PERTANYAAN :


Assalamualaikum para mujawwib !! Saya ditimpa was was ketika puasa ustad ;
1. Saya tidak pernah sahur ketika puasa karena ketika pagi serasa selalu ada sesuatu yang ingin membatalkan di mulut ketika diludahkan ke tangan kadang ada sisa makanan kadang ada rambut kadang tidak ada apa apa. Mohon jawabannya ??
2. Ketika puasa di waktu pagi saya sulit bicara dengan orang. Sulit mengaji karena serasa ada ludah lawan bicara yang masuk ke mulut takut ditelan sama saya. Mohon jawabannya ??
3. Saya sulit mandi dan wudhu ketika puasa karena saya merasa sulit setelah wudhu dan mandi untuk mengeluarkan sisa air yang masuk .karena di waktu mandi dan wudhu saya serasa ada air masuk ke mulut. Mohon jawabannya ??
Para mujawwib piss ktb saya minta tolong  jawabannya untuk meringankan beban saya ketika puasa.
Sekian. Assalamualaikum. [Andi Ilibi].

JAWABAN :

Waalaikum salam, ini kasus mirip waswas : 
1. Sahur atau tidak, yang penting NIAT PUASA DI MALAM HARI. 
2. Pakailah masker. 
3. Berwudlu tidak usah berkumur dan tidak usah sedot air dengan hidung. Yang penting sebelumnya sudah berkumur atau gosok gigi, perkara nanti ada yang meragukan itu sudah masuk kategori udzur.

ولا يضر وصول الريق الخالص الطاهر من معدنه جوفه بخلاف غير الخالص وغير الطاهر نعم يعفى عنه في حق من ابتلى بدم لثته.
ولو بقي طعام بين أسنانه فجرى به ريقه حتى دخل جوفه من غير قصد لم يضر إن عجز عن تمييزه ومجه لأنه معذور.
~الباجوري على ابن قاسم 1/290 الهداية

Tidaklah membahayakan pada keabsahan puasa ialah tertelannya ludah yang masih murni dari sumbernnya. Bebeda halnya jika ludahnya tidak murni atau tidak suci lagi, maka menelannya dapat membatalkan puasa. Akan tetapi hal tersebut dimaafkan terhadap seseorang yang mendapat cobaan gusi berdarah.
Apabila disela-sela gigi masih terdapat sisa-sisa makanan, kemudian air liurnya tertelan tanpa sengaja, maka puasanya tidaklah batal apabila memang sulit untuk membedakan dan meludahkannya, sebab hal ini merupakan udzur.

Perincian masuknya air pada jauf

وأما سبق ماء غسل المطلوب بالإنغماس فإن اعتاد أي السبق ضر وإلا فلا ق ل وعبارة م ر وخرج بما قررناه سبق ماء الغسل من حيض أو تفاس أو جنابة أو من غسل مسنون فلا يفطر به كما أفتى به الوالد.
~البجيرمي على الخطيب 3/111 دار الكتب العلمية
وكذا لو سبق ماء المضمضة أو الإستنشاق من غير مبالغة فيهما أو ماء غسل مطلوب ولو مندوبا كغسل جمعة إلى جوفه فلا يضر لتولده من مأمور به بغير اختياره.
~الباجور على ابن قاسم 1/290 الهداية

Adapun masuknya air tanpa disengaja disebabkan mandi yang dituntut untuk menyelam, maka hukumnya diperinci. Apabila kebiasaannya memang air itu masuk maka menjadi batal puasanya, jika tidak maka tidaklah batal puasanya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam Al Qaffal.
Ibarot dari Imam Al Mawardi ; Terlepas dari apa yang telah ditetapkan, bahwasannya apabila masuknya air tersebut dikarenakan mandi haid, nifas, dan janabah, atau mandi yang disunnahkan maka tidaklah membatalkan puasanya, sebagaimana hukum yang telah difatwakan oleh Imam Al Walid.
Begitu pula tidak membatalkan puasa apabila air masuk dikarenakan berkumur-kumur atau istinsyak yang tidak dilakukan secara berlebihan sebelum berwudhu'.

Mengenai solusi was wasnya, abaikan secara total, sebab was was tidaklah memiliki pengaruh terhadap sah atau tidaknya ibadah.

ولا مؤاخذة بوسواس قهري فى الصلاة كالإيمان وغيره.
(قوله : ولامؤاخذة) أى لاضرر في ذلك وقوله بوسواس قهري وهو الذي يطرق الفكر بلا اختيار قال في الايعاب بأن وقع في فكره أنه لو تردد في الصلاة ما حكمه ؟ فلا مؤاخذة به قطعا وبه يعلم الفرق بين الوسوسة والشك فهو أن يعدم اليقين وهي أن يستمر اليقين ولكنه يصور في نفسه تقدير التردد ولو كان كيف يكون الأمر فهو من الهاجس الآتى وكذا في الإيمان باللّٰه تعالي لأن ذلك مما يبتلي به الموسوسون فالمؤاخذة به من الحرج اه كردى (قوله : كالإيمان) أي باللّٰه تعالي وهو بكسر الهمزة يعنى كما أنه لايؤاخذ بالوسواس القهري في الإيمان باللّٰه وقوله وغيره أي غير الإيمان من بقية العبادات اهـ.
~إعانة الطالبين 1/213 الهداية

Dan tidaklah membahayakan terhadap ke absahan ibadah yaitu was-was yang tidak terkendali, baik didalam shalat maupun ibadah-ibadah lainnya. Seperti bisikan-bisikan tentang hal keimanan misalnya.
Was-was ialah semacam pikiran yang datang tanpa bisa kita cegah.
Didalam Al I'ab Dikatakan : "Seumpama ketika shalat lalu datanglah pikiran-pikiran yang aneh atau was-was, yang mana menyebabkan bimbang, apa hukumnya?." Jawab : "Tidaklah membahayakan shalatnya sama sekali."
Adapun perbedaan antara was-was dan syak (ragu) ialah : "jika syak itu tidak tersisa keyakinan sama sekali didalam hati, sedangkan was-was didalam dirinya masih ada keyakinan namun terganggu atau terhalang oleh kebimbangannya."
والله سـبحانه وتعالى أعلم
Wallohu a'lam. [Tarkul Ma'asyi, Abdulloh Mahrus, Ahmad Nasih Zayn].

LINK ASAL :
https://web.facebook.com/rojul.mubarok/posts/3606657529357029


.
Back To Top