Bismillahirrohmaanirrohiim

6026. HUKUM MENDAHULUKAN PERINTAH ORTU DARI PADA SHALAT DI AWAL WAKTU

PERTANYAAN :


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Mohon pencerahannya Pak Kyai, Bu Nyai, Ustadz, Ustadzah dan para Mujawib : Ada seorang wanita mau dinikahkan, pada hari mau dipertemukan dengan calon suaminya dia berdandan dan ber-make up rapi. Ketika ibunya mau mengajak bertemu dengan calon suaminya dia mendengar adzan Isya. Segera si wanita ini berkata kepada ibunya dia mau shalat Isya. Si ibu berkata calon suaminya sudah datang, shalat Isya kan bisa nanti karena waktunya panjang. Jadi ibunya menyuruhnya untuk ketemu calon suaminya dulu. Tapi wanita tetap pergi melaksanakan shalat Isya. Pertanyaan :
1. Apa hukumnya mendahulukan shalat Isya daripada perintah ibu dalam deskripsi di atas?
2. Apa hukumnya ibu menyuruh mengakhirkan shalat Isya?
3. Bagaimanakah seandainya ketika wanita itu shalat Isya kemudian meninggal dunia, sedangkan ibunya masih marah kepadanya ? Terima kasih. (Wiji Nanang).

JAWABAN :

Wa'alaikumussalam. Dalam kejadian seperti di atas harus mendahulukan perintah orang tua karena waktunya shalat masih luas. Jika ada yang berpendapat sudah benar yang dilakukan sang anak, yaitu medahulukan shalat di awwal waktu daripada perintah ibu, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam ketika sahabat Ibnu mas'ud radliyallahu anhu bertanya kepada beliau :

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى مِيقَاتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Alasannya karena shalat adalah bentuk syukur kepada Allah, sedangkan Birrul walidain adalah bentuk syukur kepada kedua orang tua, bersyukur kepada Allah lebih didahulukan daripada bersyukur kepada kedua orang tua. Allah berfirman :

أن أشكر لي ولوالديك إلي المصير

Maka pendapat ini diluruskan dalam Tafsîr Al-Qurthubi : Penjelasan pada pembahasan ini, bahwasanya ketaatan kepada kedua orang tua tidak dengan cara menyenangkan mereka berdua dengan berbuat dosa besar, ataupun dengan cara meninggalkan kefardluan secara susah payah. Namun, kewajiban taat kepada mereka hanya pada perkara mubah, dan lebih disukai jika meninggalkan perkara sunnah, dalam rangka memenuhi perintah orang tua; diantaranya adalah Jihad Kifâyah (yang mungkin dilakukan oleh orang, dalam rangka menaklukkan suatu negeri), atau memenuhi permintaan Ibu tatkala sedang sholat (sunnah) dimana sholat tersebut dimungkinkan dapat diulang. Ini semua karena perintah keduanya lebih kuat (untuk di ikuti) ketimbang amaliah sunnah". (Tafsîr Al Qurthubi, hal. 61).

Jadi selama masih ada kemungkinan melakukan dua ketaatan yaitu taat kepada ortu dan ta'at  kepada Allah, maka boleh dilakukan. Wallohu a'lam. (Abd JabbarSantriwati Dumay)

Referensi :

- Maqosidur Ri'ayah (1/37) :
الرَّابِع لَا يقدم بر الْوَالِدين الْمَنْدُوب على صَلَاة الْجُمُعَة وَلَا على فَرِيضَة ضَاقَ وَقتهَا  الي ان قال    الثَّامِن إِذا وَجَبت عَلَيْهِ عبَادَة موسعة الْوَقْت كَالْحَجِّ وَالصَّلَاة وَأمره والداه بِأَمْر لَا يفوت عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالْحج فليبدأ بطاعتهما لِإِمْكَان الْجمع بَين طاعتهما وَبَين مَا أوجب الله تَعَالَى عَلَيْهِ. وَكَذَلِكَ يقدم كل مَأْمُور مضيق على كل مَأْمُور موسع لِإِمْكَان جَمعهمَا

صحيح البخاري
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ صَبَّاحٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَابِقٍ حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ مِغْوَلٍ قَالَ سَمِعْتُ الْوَلِيدَ بْنَ الْعَيْزَارِ ذَكَرَ عَنْ أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى مِيقَاتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَسَكَتُّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي

فـــتح المــــنعم شرح صحيح مسلم
وَحَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ ، حَدَّثَنَا أَبِي ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ الْعَيْزَارِ ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا عَمْرٍو الشَّيْبَانِيَّ ، قَالَ : حَدَّثَنِي صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ ، وَأَشَارَ إِلَى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ ؟ قَالَ : الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : ثُمَّ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ : حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ
أما تقديم الصلاة على البر فلأن الصلاة شكر لله والبر شكر للوالدين، وشكر الله مقدم على شكر الوالدين، موافقة لقوله تعالى: { { أن أشكر لي ولوالديك إلي المصير } } [لقمان: 14] .

تفسير الفرطبي
 وجملة هذا الباب أن طاعة الأبوين لا تراعى في ركوب كبيرة ولا في ترك فريضة على الأعيان ، وتلزم طاعتهما في المباحات ، ويستحسن في ترك الطاعات الندب ; ومنه أمر الجهاد الكفاية ، والإجابة للأم في الصلاة مع إمكان الإعادة ; على أن هذا أقوى من الندب ; لكن يعلل بخوف هلكة عليها ، ونحوه مما يبيح قطع الصلاة فلا يكون أقوى من الندب .

Baca juga dokumen 5380 :

LINK ASAL :
www.fb.com/groups/piss.ktb/3509302339092549/


.
Back To Top