Bismillahirrohmaanirrohiim

5743. HUKUM SHOLAT MEMBAWA BANGKAI IKAN YANG MASIH ADA KOTORANNYA

PERTANYAAN :

Assalamu'alaikum. Bagaimana hukum sholat membawa bangkai ikan yang di dalam perut ikan itu masih ada kotoran ikannya, apakah boleh ? [Muhammad Ma'mun Arrasyidi Asyyafi'i].

JAWABAN :

Wa'alaikumussalam. Adapun jika dalam perut ikan dan belalang tersebut terdapat najis, maka dapat membatalkan shalat, sebagaimana tersebut dalam kitab fathul mu'in, juz. 1, hal. 106, cet. al-haramain :

ولا تصح صلاة من حمل مستجمرا أو حيوانا بمنفذه نجس أو مذكى غسل مذبحه دون جوفه أو ميتا طاهرا كآدمى وسمك لم يغسل باطنه أو بيضة مذرة فى باطنها دم ، ولا صلاة قابض طرف متصل بنجس وإن لم يتحرك بحركته

"Dan tidak sah shalat orang yang membawa orang yang istijmar (istinja dengan menggunakan batu), atau (membawa) hewan yang pada manfadz (dubur) nya itu ada najis, atau (membawa binatang) yang disembelih yang dicuci (leher) tempat sembelihnya dan tidak (dicuci) rongga (perut) nya, atau (membawa) bangkai yang suci seperti manusia dan ikan yang tidak dicuci (bagian dalam) perutnya, atau (membawa) telur mandul yang didalamnya ada darah.
Dan (tidak sah) shalat orang yang memegang ujung (tali) yang bersambung dengan najis sekalipun (ujung tali tersebut) tidak bergerak-gerak dengan sebab orang tersebut bergerak-gerak”.
Namun yang membatalkan shalat bukanlah bangkai ikan atau belalang, tetapi najis yang ada dalam perutnya yang tidak dimaafkan.
Dan pula, hukum najis yang tidak dimaafkan tersebut tidak berlaku secara mutlak. akan tetapi hanya berlaku pada ikan dan belalang yang besar (menurut 'urf -kebanyakan orang-). sementara ikan dan belalang yang kecil, maka dimaafkan dan tidak dapat membatalkan shalat walaupun belum dibersihkan isi perutnya, hal ini disebabkan karena sukar untuk membersihkannya, sebagaimana dinyatakan oleh imam Ibnu Hajar al-Haitamy dalam kitab fatawa al-fiqhiyyah al-kubra, juz. 1, hal. 167, cet. Darul fikri :

وَأَمَّا ما ذَكَرَهُ السَّائِلُ من جَوَازِ أَكْلِ رَوْثِ الْجَرَادِ وَنَحْوِهِ معه فَهُوَ ما مَشَى عليه الشَّيْخَانِ في صِغَارِ السَّمَكِ وَأَلْحَقَ بِهِ في الرَّوْضَةِ الْجَرَادَ وهو الْمُعْتَمَدُ خِلَافًا لِمَا يُوهِمُهُ كَلَامُ الْقَمُولِيِّ وَغَيْرِهِ فَلَا يَتَنَجَّسُ الْفَمُ وَلَا يَجِبُ غَسْلُهُ لِلصَّلَاةِ وَلَا لِغَيْرِهَا

"Dan adapun pernyataan dari penanya yang menyatakan boleh memakan kotoran belalang dan seumpamanya sekalian dengan belalangnya itu merupakan pendapat syaikhani (imam nawawy dan imam rafi'i) pada masalah ikan kecil. Dan dalam kitab Raudhah, imam nawawy mengqiyaskan hukum tersebut kepada belalang, dan itulah pendapat yang kuat. namun, pendapat tersebut berbeda dengan apa yang terfaham dari perkataan al-qamuly dan lainnya. maka mulut tidak bernajis (dengan sebab memakan kotoran ikan atau belalang kecil) dan tidak wajib mencuci mulut untuk mengerjakan shalat dan tidak pula wajib untuk selain shalat.
Dari matan tersebut, bisa kita fahami bahwa tidak mengapa membawa bangkai ikan dan belalang yang kecil dalam shalat, walaupun belum dibersihkan isi perutnya. Wallohu a'lam. [Calon Mayit].

LINK ASAL :


.
Back To Top