Bismillahirrohmaanirrohiim

5550. HUKUM MENGAWETKAN JENAZAH / MAYAT

PERTANYAAN :

Bagaimana tinjauan fiqh tentang mengawetkan jenazah ? Me-mumi-kan mayat ? [Mamad Potlot].


JAWABAN :


Wa'alaikumussalam.
1. Sunah mengawetkan mayit kalau memakai kapur barus ataupun minyak khusus untuk mayat yang mengandung kapur barus, kayu cendana dan minyak tumbuh tumbuhan supaya mayit awet tahan lama.

مغني المحتاج - (4 / 229)
( ويذر ) بالمعجمة في غير المحرم ( على كل واحدة ) من اللفائف قبل وضع الأخرى ( حنوط ) بفتح الحاء ، ويقال له الحناط بكسرها ، وهو نوع من الطيب يجعل للميت خاصة يشتمل على الكافور والصندل وذريرة القصب ، قاله الأزهري .وقال غيره : هو كل طيب خلط للميت ( وكافور ) - ونص الإمام وغيره على استحباب الإكثار منه فيه ، بل قال الشافعي : ويستحب أن يطيب جميع بدنه بالكافور ؛ لأنه يقويه ويشده

"Setiap helai kain kafan -selain kafannya mayat yang mati saat tengah berikhrom- diolesi Hanuth (minyak khusus mayat, mengandung kapur, kayu cendana, dan minyak tumbuh-tumbuhan menurut versi Al- Azhuri, ada juga yang berpendapat bahwa Hanuth adalah setiap minyak yang diperuntukkan mayat) sebelum ditumpuki lapis yang lain, dan diolesi kapur. Imam Haromain dan selainnya menegaskan bahwa maksud dari mengolesi kafur adalah sunnah memperbanyak kandungan kapur dalam Hanuth. Bahkan imam Syafi'i berkata: Disunnahkan mengolesi semua tubuh mayat dengan kapur karena kapur bisa menjadikan tubuh mayit menjadi kuat (bisa bertahan lama)."

2. Boleh, kalau mengawetkan mayit dengan memakai bahan kimia dengan dosis yang sesuai untuk tujuan mayat tidak cepat busuk.

فتاوى الأزهر (8/ 46)
ما رأى الدين فى تحنيط الموتى ؟ الجواب التحنيط فى أصل اللغة العربية هو استعمال الحَنُوط - بفتح الحاء - وأكثر ما كان يوضع فى أكفان الموتى ، والحنوط والحناط بكسر الحاء-ما يخلط من الطيب لهذا الغرض .والتحنيط المعروف الآن بطريق المواد الكيماوية لمنع التعفن أو تأخيره إذا كان بهذا القدر ولهذا الغرض فلا مانع منه ، 

"Bagaimana pandangan syari'at mengenai hukum Tahnith (pengawetan mayat)?. Jawab: Tahnith dalam bahasa Arab berarti menggunakan Hanuth yang banyak digunakan untuk mengolesi kain kafan mayat. Adapun Hinuth dan Hinath adalah minyak yang digunakan sebagai campuran untuk tujuan tersebut. Tahnith yang kita kenal sekarang menggunakan bahan-bahan kimia agar menjadikan mayat tidak busuk atau menunda pembusukan, maka diperbolehkan asalkan dengan kadar yang sesuai dan tujuan pengawetan.

Sebagai perbandingan, berikut dokumen web group Fikih Kontemporer :

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum. Tetangga saya meninggal dunia di Sumatera karena kecelakaan sementara keluarga yang ada di Jawa Timur meminta jenazahnya untuk dibawa pulang, tapi pihak rumah sakit Sumatera tidak berani membawa ke Jawa kalau tidak diformalin. Yang saya tanyakan, bagaimana hukum memformalin mayat dalam contoh di atas? Tolong sertakan referensinya. Terima kasih. (Dari: Kava EL-Siraj).

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Mengawetkan jenazah dalam konsep Islam diperbolehkan dengan tujuan untuk penyelidikan dalam kasus kiriminal agar dapat mengungkap bukti dari kasus yang terjadi, juga diperbolehkan untuk tujuan pendidikan. Ataupun sekedar untuk mencegah terjadinya pembusukan lebih cepat pada mayat sebelum dikuburkan maupun setelahnya. Ulama Syafi’iyah dalam hal ini menyatakan: Setiap helai kain kafan selain mayat yang meninggal saat tengah berihram diolesi Hanuth (minyak khusus mayat, mengandung kapur, kayu cendana, dan minyak tumbuh-tumbuhan menurut versi Al Azhuri, ada juga yang berpendapat bahwa Hanuth adalah setiap minyak yang diperuntukkan mayat) sebelum ditumpuki lapis yang lain, dan diolesi kapur barus. Imam Haramain dan selainnya menegaskan bahwa maksud dari mengolesi kapur barus adalah sunnah memperbanyak kandungan kapur dalam Hanuth. Bahkan imam Syafi'i berkata: Disunnahkan mengolesi semua tubuh mayat dengan kapur karena kapur bisa menjadikan tubuh mayit menjadi kuat (bisa bertahan lama).

Sedangkan untuk kasus yang ditanyakan oleh saudara penanya maka masih ada celah kebolehannya karena ada hajat, yaitu mencegah agar mayat tidak membusuk dalam perjalanan. Masalah pengawetan ini tidak bisa dihindari layaknya perkara yang darurat. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqih: 

الْحَاجَةُ تَنْزِلُ مَنْزِلَةَ الضَّرُورَةِ عَامَّةً كَانَتْ أَوْ خَاصَّةً

Hajat / kebutuhan itu menduduki kedudukan darurat, baik secara umum ataupun khusus.

Adapun mengawetkan mayat dengan tujuan bukan untuk dikuburkan seperti untuk pajangan maka ini tidak diperbolehkan karena bertentangan dengan syari’at Islam. Hal ini berlawanan dengan firman Allah:

مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ . مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ . ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ . ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ

"Dari benda apa Dia menciptakan manusia? Dia ciptakan manusia dari setetes mani, lalu Dia tetapkan takdirnya. Kemudian Dia mudahkan jalannya. Kemudian Dia matikan manusia dan Dia tetapkan untuk dikuburkan." (QS. Abasa: 18-21).

Imam al Qurthubiy menjelaskan: Dia jadikan untuknya kuburan dan diperintahkan agar dia dikuburkan. Wallahu a’lam. (Dijawab oleh: Siroj Munir dan Al Murtadho).

Referensi :

- Mughniy al Muhtaj juz 4 hal. 229 :

ويذر) بالمعجمة في غير المحرم (على كل واحدة) من اللفائف قبل وضع الأخرى (حنوط) بفتح الحاء ، ويقال له الحناط بكسرها ، وهو نوع من الطيب يجعل للميت خاصة يشتمل على الكافور والصندل وذريرة القصب ، قاله الأزهري .وقال غيره : هو كل طيب خلط للميت (وكافور) - ونص الإمام وغيره على استحباب الإكثار منه فيه ، بل قال الشافعي : ويستحب أن يطيب جميع بدنه بالكافور ؛ لأنه يقويه ويشده

- Fiqh al Islamiy wa Adillatuh juz 3 hal. 521-522 :

وأجاز الشافعية شق بطن الميتة لإخراج ولدها وشق بطن الميت لإخراج مال منه كما أجاز الحنفية كالشافعية شق بطن الميت فى حال ابتلاعه مال غيره إذا لم تكن له تركة يدفع منها ولم يضمن عنه أحد وأجاز المالكية أيضا شق بطن الميت إذا ابتلع قبل موته مالا له أو لغيره إذا كان كثيرا هو قدر نصاب الزكاة فى حالة ابتلاعه لخوف عليه أو لعذر أما إذا ابتلعه بقصد حرمان الوارث مثلا فيشق بطنه ولو قل وبناء على هذه اللآراء المبيحة: يجوز التشريح عند الضرورة أو الحاجة بقصد التعليم لأغراض طبية أو لمعرفة سبب الوفاة وإثبات الجناية على المتهم بالقتل ونحو ذلك لأغراض جنائية إذا توقف عليها الوصول فى أمر الجناية للأدلة الدالة على وجوب العدل فى الأحكام حتى لا يظلم بريئ ولا يفلت من العقاب مجرم أثيم كذلك يجوز تشريح جثث الحيوان للتعليم لأن المصلحة فى التعليم تتجاوز إحساسها بالألم وعلى كل حال ينبغى عدم التوسع فى التشريح لمعرفة وظائف الأعضاء وتحقيق الجناية والإقتصار على قدر الضرورة أو الحاجة وتوفير حرمة الإنسان الميت وتكريمه بمواراته وستره وجمع أجزائه وتكفينه وإعادة الجثمان لحالته بالحياطة ونهوها بمجرد الانتهاء من تحقيق الغاية المقصودة كما يجوز نقل بعض أعضاء الإنسان لأخر كالقلب والعين إذا تأكد الطبيب المسلم الثقة العدل موت المنقول عنه لأن الحي أفضل من الميت وتوفير البصر أول الحياة لإنسان نعمة عظمى مطلوبة شرعا

- Al Asybah wan Nadzair lis Suyuthiy hal. 88 :

القاعدة الخامسة: الحاجة تنزل منزلة الضرورة عامة كانت أو خاصة

- Fatwa Islamiyah :

والضرورة هي بلوغ الشخص حداً إن لم يتناول الممنوع هلك أو قارب، وألحق بعض العلماء بالضرورة الحاجة عامة كانت أو خاصة كما جاء في الأشباه والنظائر للسيوطي قال: الحاجة تنزل منزلة الضرورة عامة كانت أو خاصة. انتهى

LINK ASAL :


.
Back To Top