Oleh Ustadz Moh Ilhamudin

Bismillahir rohmaanir rohiim. Adapun Sayyid Ibrahim bin Sayyid Rohmat , beliau menikah dengan Dewi iroh bin Jaka Qondar lalu dikaruniai seorang putri bernama Rohil , Sayyid Ibrohim menjadi pemimpin penduduk Lasem dan Tuban lalu beliau menetap di daerah Lasem tepatnya di desa Bonang , beliau menyendiri untuk beribadah di atas gunung Gading yaitu suatu gunung yang dekat dengan pantai. Beliau bersungguh-sungguh dalam riyadlohnya, sedikit makan, mengurangi tidur serta bersemangat melawan hawa nafsu dan selalu mendirikan kewajiban dan kesunahan hanya untuk melaksanakan ketaatan pada Allah yang maha Rohman serta mengasingkan diri dari masyarakat , sehingga menjadi pembesar / pemimpin para auliya' dan masyhur dengan sebutan Sunan Bonang.

Sebagian dari karomahnya yaitu dahi, hidung, kedua lutut serta telapak kaki beliau masih membekas di batu besar nan keras bahkan sampai sekarang pun masih terlihat jelas kemudian batu tersebut dikenal dengan nama Pasujudan dan sampai sekarang banyak masyarakat mengalap berkah diatas gunung tersebut.

Di dekat batu itu ada makam seorang putri keturunan raja dari negri china yang bernama Putri Cempo , di ceritakan bahwa putri tersebut memeluk agama islam. Ia melihat Sayyid Ibrahim sujud di atas batu, lalu ia jatuh hati pada Sayyid Ibrahim kemudian ia menunggunya sampai beliau selesai Sholat, tapi Sayyid Ibrahim tak kunjung selesai dari Sholatnya sehingga putri tersebut meninggal dunia dalam penantiannya, lalu dimakamkan di situ serta dibangunkan kubah / cungkup di makamnya yang mana di bawah tiang bangunan tersebut ( umpaknya ) berbahan tulang dari punggung ikan yang besar.

Diceritakan sebagian dari karomahnya yaitu ada dua batu yang berbentuk babi yang sedang kawin , kejadian tersebut pada waktu Sayyid Ibrahim sedang berjalan-jalan bersama sebagian para murid , tiba-tiba didepan Sayyid Ibrahim ada dua babi yang sedang kawin , para murid menyangka bahwa Sayyid Ibrahim tak melihatnya. Sang murid berkata: "di depan ada dua babi yang sedang kawin". Sayyid Ibrahim menjawab: "tidak tapi itu adalah dua batu". Maka seketika itu berubahlah kedua babi tersebut menjadi batu. Kedua batu tersebut masih ada sampai sekarang dan dikenal dengan sebutan watu celeng, berada di desa Karas kecamatan Sedan, suatu kecamatan yang ikut kabupaten Rembang. Wallohu a'lam.

واما السيد ابراهيم ابن السيد رحمة فتزوج ديوى ايراه بنت جاكا قندر وولد له منها ولدانثى يقال لها راحيل وصار اماما لأهل لاسم و لأهل طوبان واستوطن فى قرية يقال لها بوناع من ولاية لاسم وتخلى للعبادة فوق جبل يقال له كاديع قريب من ساحل البحر واجتهد فى الرياضة بتقليل الطعام وهجر لذيذ المنام وجاهد نفسه بمخالفة هواها والزم نفسه على فعل الفرائض ونوافل العبادات متجردا لطاعة الرحمن ومجاهدة الشيطان معتزلا عن الناس
فلم يزل السيد ابراهيم على ذلك حتى صار من كبار اولياء الله تعالى و اشتهر بسونان بوناع
ومن كراماته الظاهرة بقاء اثر جبهته وانفه وركبتيه واطراف قدميه على صخرة صماء الى هذا الزمان واشتهر تلك الصخرة باسم سجودان وتبقى متبركا بها الناس الى الآن فوق الجبل المذكور
وفى موضع قريب من تلك الصخرة قبر امرأة من بنات ملوك الصين يقال لها فوترى جمفا ،، قيل انها اسلمت ورأت السيد ابراهيم يصلى على الصخرة فعشقته فمكثت هناك منتظرة لانصرافه عن الصلاة فلم ينصرف حتى ماتت فدفنت هناك وضربت على قبرها قبة كانت على اعمدتها عظام من فقرات عظام ظهر سمك البحر
قيل ومن كراماته حجران على صورة خنزير ينزو على خنزيرة ،، وذلك انه مر فى ذلك الطريق مع بعض مريديه فإذا امامه خنزير ينزو على خنزيرة فقال له مريده وهو يظن انه لم يعرفهما ، ان امامك خنزير ينزو على خنزيرة ، فقال بل هما حجران فصار حجرين ، وهما باقيان الى الآن فى محلة يقال لها حجر الخنزير ،، واتو جيليع ،، من قرية كاراس من ناحية سيدان من اعمال رمباع ، وغير ذلك من الكرامات

Sumber : Kitab Ahlal Musamiroh Fi Hikayatil Auliya`il 'Asyaroh : 34-35. Karya : Mbah Fadhol - Tuban

LINK ASAL
 
Top