PERTANYAAN    

>> Aep Ezztt
Assalamualaikum.. Maaf pak mau tanya.
Apa yang harus dilakukan ketika di tengah tengah melakukan suatu rukun, kita lupa sudah melaksanakan rukun atau belum.
1. Seseorang berwudhu, ketika hendak membasuh kaki, dia lupa tadi itu sudah mengusap kepala atau belum.
2. Seseorang melakukan rokaat pertama, setelah bangun dari sujud dan hendak beranjak melaksanakan rokaat kedua dia lupa, tadi itu dia sudah "duduk diantara dua sujud" atau belum.
Apa yang harus dilakukan..
Matur suwun


JAWABAN

>>Mas Hamzah
Wa'alaikum salam
  • No 1. Seseorang berwudhu, ketika hendak membasuh kaki, dia lupa tadi itu sudah mengusap kepala atau belum.. 

Jika seperti itu maka wajib mengusap kepala dan melanjutkan membasuh anggota setelah kepala sampai selesai.
tapi jika keraguannya setelah selesainya wudhu maka keraguan tersebut tidak berpengaruh sama sekali.

- Kitab Al Iqna' (1/46) 

وَلَو شكّ فِي تَطْهِير عُضْو قبل فرَاغ طهره أَتَى بِهِ وَمَا بعده أَو بعد الْفَرَاغ لم يُؤثر 

jika ragu dalam penyucian anggota wudhu sebelum selesainya bersuci maka anggota wudhu yang masih di ragukan didatangi dan juga anggota wudhu setelahnya,
atau jika ragu setelah selesainya bersuci maka keraguan tersebut tidak berpengaruh/wudhunya sudah sah.

- Kitab Fathul Mu'in (1/50) 

فرع لو شك المتوضئ أو المغتسل في تطهير عضو قبل الفراغ من وضوئه أو غسله طهره وكذا ما بعده في الوضوء أو بعد الفراغ من طهره لم يؤثر 

Sub bab
jika seorang yang berwudhu ragu dalam penyucian anggota wudhu sebelum selesainya wudhu maka anggota wudhu tersebut di sucikan , begitu juga angota setelahnya.
atau ragu nya setelah selesai dari wudhu maka tidak berpengaruh.

  • 2. Seseorang melakukan rokaat pertama.. setelah bangun dari sujud dan hendak beranjak melaksanakan rokaat kedua dia lupa, tadi itu dia sudah "duduk diantara dua sujud" atau belum.. 

Untuk kasus tersebut maka saat itu juga dia wajib kembali duduk untuk melaksanakan rukun yang diragukan yaitu duduk diantara dua sujud kemudian sujud satu kali kemudian berdiri untuk melakukan rokaat kedua.
namun jika dia tidak segera kembali duduk tapi malah diam sebentar untuk mengingat-ingat maka batallah sholatnya.

- Kitab Fathul Mu'in (1/124) 

أو شك هو أي غير المأموم في ركن هل فعل أم لا كأن شك راكعا هل قرأ الفاتحة أو ساجدا هل ركع أو اعتدل أتى به فورا وجوبا إن كان الشك قبل فعله مثله أي مثل المشكوك فيه من ركعة أخرى وإلا أي وإن لم يتذكر حتى فعل مثله في ركعة أخرى أجزأه عن متروكة ولغا ما بينهما. 

selain makmum ragu ragu dalam hal rukun, apakah sudah melakukannya apa belum ?
Contohnya : Ragu ragu pada saat ruku' apakah suda baca fatekah apa belum , atau saat sujud apakah sudah rukuk atau belum, atau saat i'tidal, maka dia saat itu juga wajib mendatangi rukun yang diragukan jika keraguan tersebut sebelum dia melakukan rukun yang semisalnya, maksudnya rukun semisal yang diragukannya dalam rokaat yang lain. 
Jika tidak, maksudnya jika tidak ingat hingga dia melakukan rukun yang semisal di ragukan dalam rokaat yang lain maka itu sudah mencukupi dan rukun yang ditinggalkan dan yang diantara keduanya tidak dianggap.

- Kitab Nihayatuz Zain (1/74) 

(أَو شكّ) غير مَأْمُوم فِي ركن هَل فعله أم لَا كَأَن شكّ فِي رُكُوعه هَل قَرَأَ الْفَاتِحَة أَو فِي سُجُوده هَل ركع أم لَا (أَتَى بِهِ) أَي بذلك الرُّكْن حَالا فَإِن مكث قَلِيلا ليتذكر بطلت صلَاته 

Selain makmum ragu dalam hal rukun apakah telah melakukannya apa belum ?
Contoh : misalnya ragu pada saat rukuk apakah telah membaca fatekhah. 
Atau dalam sujud apakah telah ruku' atau belum , maka rukun yang diragukan tersebut di datangi saat itu juga, jika diam sebentar untuk mengingat ingat maka batallah sholatnya.


>> Ghufron Bkl 

Nyumbang ibaroh untuk no 2 

(وَلَوْ سَهَا غَيْرُ الْمَأْمُوْمِ)فِي التَّرْتِيْبِ (بِتَرْكِ رُكْنٍ)إلى أن قال (أَوْ شَكَّ)هُوَ أَيْ غَيْرُ الْمَأْمُوْمِ فِيْ رُكْنٍ هَلْ فَعَلَ أَمْ لاَ، كَأَنْ شَكَّ رَاكِعًا هَلْ قَرَأَ الْفَاتِحَةَ أَوْ سَاجِدًا هَلْ رَكَعَ أَوِ اعْتَدَلَ (اَتَى بِهِ فَوْرًا) وُجُوْبًا (إِنْ كَانَ الشَّكُّ قَبْلَ فِعْلِ مِثْلِهِ) أَيْ فِعْلِ الْمَشْكُوْكَ فِيْهِ مِنْ رَكْعَةٍ أُخْرَى[هامش إعانة الطالبين 1/178-179]

“Apabila selain ma’mum (munfarid atau imam) lupa tertib dengan meninggalkan rukun… atau ia ragu mengenai rukun apa sudah dikerjakan atau belum – misalnya ketika ruku’ ia ragu apa sudah membaca Fatihah, atau ketika sujud apa sudah ruku’ atau i’tidal – maka ia wajib segera mengerja-kan rukun yang diragukan tadi, apabila keraguan timbul sebelum ia mengerjakan rukun yang sama, yakni sama dengan yang diragukan dari raka’at berikutnya”. 
(Hamisy I’anah al-Thalibin I/178-179)

أَمَّا مَأْمُوْمٌ عَلِمَ أَوْ شَكَّ قَبْلَ رُكُوْعِهِ وَبَعْدَ رُكُوْعِ إِمَامِهِ أَنَّهُ تَرَكَ

الْفَاتِحَةَ فَيَقْرَأُهَا وَيَسْعَى خَلْفَهُ، وَبَعْدَ رُكُوْعِهِمَا لَمْ يَعُدْ إِلَى الْقِيَامِ لِقِرَاءتِهِ الْفَاتِحَةَ بَلْ يَتْبَعُ إِمَامَهُ وَيُصَلِّيْ رَكْعَةً بَعْدَ سَلاَمِ اْلإِمَامِ [هامش إعانة الطالبين 1/180].

“Adapun ma’mum yang sudah mengetahui atau ragu sebelum ia ruku’ namun imam sudah ruku’, bahwa ia belum membaca Fatihah, maka ia harus membaca Fatihahnya lalu menyusul imam. Dan apabila tahunya/ragunya sesudah mereka (imam dan ma’mum) ruku’, maka tidak perlu berdiri lagi untuk membaca Fatihah, tetapi mengikuti imam dan menambah satu raka’at setelah salamnya imam” .
(Hamisy I’anah al-Thalibin I/180).

Wallohu A'lam (Rz)



LINK ASAL
 
Top