Bismillahirrohmaanirrohiim

PERTANYAAN :

Assalaamu'alaikum. Mohon pencerahan. Saya pernah mendengar seorang penghulu KUA bahwa : tidak boleh menyerahkan/mewakilkan kewalian yang telah diwakilkan. Contoh : seorang bapak mewakilkan kepada anaknya (yang laki-laki) atau kepada orang lain untuk menikahkan putrinya. Lalu orang yang mewakili tersebut mewakilkan lagi kepada orang lain. Ini tidak diperbolehkan. Apakah betul demikian ?. Matur nuwun. [Cikong Mesigit].

JAWABAN :

Wa'alaikum salam wr.wb. Seorang wakil tidak boleh mewakilkan lagi kepada orang lain, kecuali jika orang yang mewakilkan awal meridhoinya. Lihat kitab al umm (7/125) :

( قال الشافعي ) رحمه الله تعالى : وإذا وكل الرجل الرجل بوكالة فليس للوكيل أن يوكل غيره مرض الوكيل ، أو أراد الغيبة ، أو لم يردها ; لأن الموكل له رضي بوكالته ولم يرض بوكالة غيره فإن قال وله أن يوكل من رأى كان ذلك له برضا الموكل .

- I'anatut Tholibin :
إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين • الموقع الرسمي للمكتبة الشاملة :
(ولا) له (توكيل بلا إذن) من الموكل (فيما يتأتى منه) لانه لم يرض بغيره. وخرج بقولي فيما يتأتى منه: ما لم يتأت منه، لكونه يتعسر عليه الاتيان به لكثرته، أو لكونه لا يحسنه، أو لا يليق به، فله التوكيل عن موكله، لا عن نفسه،

Wakil tidak boleh mewakilkan pada orang lain lagi bila bisa melaksanakan sendiri dengan tanpa idzin dari muwakkil, bila tidak bisa melaksanakan sendiri karena tidak pantas atau lainnya maka boleh mewakilkan pada orang lain. Wallohu a'lam. (Mas Hamzah, Ghufron BKL).

LINK DISKUSI :
www.fb.com/groups/piss.ktb/926297624059713/

www.fb.com/notes/928163917206417
 
Top