Bismillahirrohmaanirrohiim

3304. PENJELASAN TENTANG MAKSUD BERTAMBAHNYA UMUR DALAM HADITS DAN DOA

PERTANYAAN :


Assalamualaikum para muallim, semoga tetap dalam lindungan Alloh, saya mau tanya, nieh sering saya dengar dalam sebuah pengajian, seringkali para kiyai mengatakan semoga diberikan umur panjang, karena setahu saya umur itu tidak bisa diperpanjang, nah maksud dari umur panjang itu bagaimana, mohon pencerahannya, syukron, wassalamualaikum. [Harlan Bojes].

JAWABAN :

Wa'aaikumussalam. Hadits : “Barangsiapa yg senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim.”
Maksudnya ajalnya diakhirkan dan rezekinya dilapangkan dan diperbanyak. Dan dikatakan juga maksudnya adalah berkah. Adapun penundaan ajal atau perpanjangan umur, terdapat satu permasalahan; yaitu bagaimana mungkin ajal diakhirkan. Bukankah ajal dan rezeki telah ditetapkan dan tidak dapat bertambah dan berkurang sebagaimana firmanNya:

ﻭَﻟِﻜُﻞِّ ﺃُﻣَّﺔٍ ﺃَﺟَﻞٌ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺟَﺂﺀَ ﺃَﺟَﻠُﻬُﻢْ ﻻَﻳَﺴْﺘَﺄْﺧِﺮُﻭﻥَ ﺳَﺎﻋَﺔً ﻭَﻻَﻳَﺴْﺘَﻘْﺪِﻣُﻮﻥَ

“Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”.
Maka ulama menjawab dengan jawaban yang benar tentang masalah ini :

Pertama : Yang dimaksud dengan tambahan di sini, yaitu tambahan berkah dalam umur. Diberi pertolongan melakukan ketaatan dan mengisi waktunya dg hal yg bermanfaat baginya di akhirat, serta terjaga dari kesia-siaan.

Kedua : Berkaitan dengan ilmu yang ada pada malaikat yg terdapat di Lauh Mahfuzd dan semisalnya. Umpama usia si fulan tertulis dalam Lauh Mahfuzd berumur 60 tahun. Akan tetapi jika dia menyambung silaturrahim, maka akan mendapatkan tambahan 40 tahun, dan Allah telah mengetahui apa yang akan terjadi padanya (apakah ia akan menyambung silaturahim ataukah tidak). Inilah makna firman Allah:

ﻳَﻤْﺤُﻮ ﺍﻟﻠﻪُ ﻣَﺎ ﻳَﺸَﺂﺀُ ﻭَﻳُﺜْﺒِﺖُ

“Allah akan menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki)”.

Demikian ini ditinjau dari ilmu Allah. Apa yang telah ditakdirkan, maka tidak akan ada tambahannya. Bahkan tambahan tersebut adalah mustahil. Sedangkan ditinjau dari ilmu makhluk, maka akan tergambar adanya perpanjangan (usia), dan hal demikian maksud dari hadits tersebut.

Dan yang ketiga : Yang dimaksud, bahwa ia dikenang dengan baik setelah kematiannya seolah-olah ia tidak pernah mati. Demikianlah yang diceritakan oleh Al-Qadhi, dan riwayat ini dha’if (lemah) atau bathil.

Berikut penjelasan tentang bertambahnya umur dalam kitab :
فتح الباري شرح صحيح البخاري أحمد بن علي بن حجر العسقلاني

Allah ta'ala berfirman :

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Maka jika kematian mereka telah tiba niscaya mereka tidak bisa menundanya walau sesaat dan tidak pula mereka bisa menyegerakannya.” (QS. Al-A’raf [7]: 34)

Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda:

من سره أن يبسط له في رزقه أو ينسأ له في أثره فليصل رحمه

" Barangsiapa senang apabila dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali kekerabatannya ". (HR. al bukhori dalam kitabul buyu' dari anas bin malik, dan dalam kitabul adab dari abu hurairoh ).

Rasululloh juga bersabda: “Sesungguhnya tadi malam aku bermimpi dengan sebuah mimpi yang mengherankan. Dalam mimpiku, aku melihat seorang laki-laki dari umatku didatangi oleh malaikat maut ‘alaihis salam untuk mencabut nyawanya. Tiba-tiba datanglah amalan berbakti kepada ayahnya lalu menolak malaikat maut dari orang tersebut.” Al-hafizh Abu Musa Al-Madini mengatakan, “Hadits ini sangat hasan.” (Badruddin Al-’Aini, ‘Umdatul Qari Syarh Shahih Al-Bukhari).

Imam alhafidz ibnu hajar al asqolani dalam kitab fathul baari syarh shohih bukhori menjelaskan tentang tambahnya umur sbb :

 أن هذه الزيادة كناية عن البركة

" Sesungguhnya tambahan ini adalah makna kinayah (bukan yang sebenarnya) dari barokah."
Hal ini dikarenakan ia mendapat taufiq dari Allah untuk melaksanakan ketaatan, mengisi waktunya dengan hal-hal yang membawa manfaat di akhirat dan menjaga dirinya dari menyia-nyiakan waktunya dengan hal-hal yang tidak membawa manfaat di akhirat.
Dalam lailatul qadar, seorang hamba beramal shalih dalam satu malam namun mendapatkan pahala yang lebih baik dan lebih banyak dari amalan selama seribu bulan (83 tahun 4 bulan) yang tidak ada lailatul qadarnya. Itulah pengertian umurnya dipanjangkan, yaitu seakan-aan dipanjangkan selama 83 tahun lebih. Satu malam nilai keberkahannya bahkan melebihi keberkahan umur selama 83 tahun lebih.
Intinya, menyambung tali kekerabatan menjadi sebab mendapat taufik untuk melaksanakan amal-amal ketaatan dan melindungi diri dari perbuatan-perbuatan maksiat. Dengan demikian saat ia meninggal, ia meninggalkan nama yang harum dan pujian yang baik. Pada saat itulah ia seakan-akan belum mati, meskipun jasadnya sudah mati. Ia seakan-akan belum mati karena masyarakat masih senantiasa mengenang keshalihan amalnya dan kemuliaan akhlaknya.

 أن الزيادة على حقيقتها

" Tambahan ini memang secara kenyataan ditambah". Misalnya, Allah Ta’ala berfirman kepada malaikat pencatat usia manusia: “Umur si fulan adalah 100 tahun jika ia menyambung tali kekerabatannya, dan 60 tahun jika ia tidak menyambung tali kekerabatannya.”  Sementara itu Allah dengan ilmu-Nya yang azali telah mengetahui apakah si fulan tersebut akan menyambung tali kekerabatannya ataukah ia akan memutusnya.
Jadi, menurut ilmu azali yang dimiliki oleh Allah Ta’ala, umur si fulan tersebut tidak bertambah dan tidak berkurang sedikit pun. Adapun menurut ilmu yang dimiliki oleh malaikat pencatat usia manusia, umur si fulan tersebut bisa bertambah atau berkurang.

Pengertian ini telah diisyaratkan oleh firman Allah Ta’ala:

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

“Allah menghapus apa yang dikehendaki-Nya dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya dan di sisi-Nya terdapat ummul kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. Ar-Ra’du [13]: 39)

.وقد ورد في تفسيره وجه ثالث ، فأخرج الطبراني في " الصغير " بسند ضعيف عن أبي الدرداء

" Yang ketiga sebagaimana yang disebutkan oleh imam tabrani dalam kitab as shogir dengan sanad yang lemah dari abu darda'
“Disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bahwa barangsiapa menyambung tali kekerabatannya, niscaya akan dipanjangkan umurnya. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Maksudnya bukanlah tambahan pada umurnya, karena Allah telah berfirman: “Jika ajal mereka telah datang kepada mereka, maka mereka tidak bisa memundurkannya walau sesaat dan tidak pula mereka mampu menyegerakannya.”
Akan tetapi maksudnya adalah seseorang memiliki anak-anak keturunan yang shalih, yang mau mendoakan dirinya setelah ia meninggal.”

Dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, imam Ath-Thabarani juga meriwayatkan dari hadits Abu Musyajji’ah Al-Juhani bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُؤَخِّرُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَإِنَّمَا زِيَادَةُ الْعُمُرِ ذُرِّيَّةٌ صَالِحَةٌ

“Sesungguhnya Allah tidak akan menunda usia seorang pun jika kematian telah datang kepadanya. Akan tetapi yang dimaksud dari penambahan usia adalah anak keturunan yang shalih.”

. وجزم ابن فورك بأن المراد بزيادة العمر نفي الآفات عن صاحب البر في فهمه وعقله . وقال غيره في أعم من ذلك وفي وجود البركة في رزقه وعلمه ونحو ذلك

Menurut imam Al-Furak, yang dimaksud dengan penambahan umur dalam hadits-hadits di atas adalah Allah Ta’ala akan menyingkirkan berbagai macam musibah yang mengancam pemahaman dan akal orang yang melakukan amal kebajikan (yaitu menyambung tali kekerabatan).
Sebagian ulama lainnya menyatakan berbagai macam musibah yang disingkirkan tersebut bersifat umum, tidak sebatas musibah yang mengancam pemahaman dan akal pikiran orang yang melakukan amal kebajikan. Selain itu, ia juga bermakna turunnya keberkahan atas rizkinya, ilmunya dan hal-hal lainnya.

(حديث مرفوع) أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ , حَدَّثَنَا أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَخَوَيْهِ , حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْبُوشَنْجِيُّ , وَأَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مِلْحَانَ ح . قَالَ : وَأَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ الْفَقِيهُ , حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مِلْحَانَ , وَمُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْبُوشَنْجِيُّ , قَالا : حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ , حَدَّثَنَا اللَّيْثُ , عَنْ عَقِيلٍ , عَنِ ابْنِ شِهَابٍ , قَالَ : أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : " مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ , وَيُنْسَأُ لَهُ فِي أَثَرِهِ , فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ " . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ فِي الصَّحِيحِ عَنْ يَحْيَى بْنِ بُكَيْرٍ وَأَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنِ اللَّيْثِ وَأَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ أيضا من حديث أبي هريرة عن النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .

Seorang ulama besar hadits dan fiqih madzhab Hanafi, imam Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad bin Musa Al-Hanafi atau lebih popular dengan nama panggilan al-hafizh Badruddin Al-’Aini (wafat tahun 855 H) menyebutkan sebuah hadits.
Beliau mengutip dari al-hafizh Abu Musa Al-Madini dalam kitabnya, At-Targhib wa At-Tarhib, sebuah hadits yang sangat mencengangkan. Hadits tersebut adalah hadits dari Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa salam bersabda:

إِنِّي رَأَيْتُ اْلبَارِحَةَ عَجَبًا، رَأَيْتُ رَجُلاً مِنْ أُمَّتِي أَتَاهُ مَلَكُ الْمَوْتِ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، لِيَقْبِضَ رُوحَهُ فَجَاءَهُ بِرُّ وَالِدِهِ فَرَدَّ مَلَكَ الْمَوْتِ عَنْهُ

“Sesungguhnya tadi malam aku bermimpi dengan sebuah mimpi yang mengherankan. Dalam mimpiku, aku melihat seorang laki-laki dari umatku didatangi oleh malaikat maut ‘alaihis salam untuk mencabut nyawanya. Tiba-tiba datanglah amalan berbakti kepada ayahnya lalu menolak malaikat maut dari orang tersebut.” Al-hafizh Abu Musa Al-Madini mengatakan, “Hadits ini sangat hasan.” (Badruddin Al-’Aini, ‘Umdatul Qari Syarh Shahih Al-Bukhari, 11/181).

Hadits pertama
Dari Abu Hurairah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

«مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ»

“Barangsiapa senang apabila dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali kekerabatannya!” (HR. Bukhari no. 5985)

Hadits kedua
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihiwa salam telah bersabda:

«مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ»

“Barangsiapa senang apabila dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali kekerabatannya!” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557).

Arti kata-kata sulit:
An Yubsatha : Diluaskan atau dilapangkan.
An Yunsa-a : Diakhirkan atau ditunda.
Atsarihi : Makna asalnya secara bahasa adalah bekasnya atau jejaknya. Adapun dalam hadits di atas maksudnya adalah ajal atau umurnya. Ajal seseorang disebut atsar atau bekas dan jejaknya, karena ia mengikuti umur seseorang.

Penjelasan makna hadits : 
Kedua hadits shahih di atas menjelaskan bahwa rizki seseorang bisa ditambah dan kematian seseorang bisa ditunda jika ia menyambung tali silaturahmi. Sebagaimana telah diketahui bersama, rizki dan usia seseorang telah ditentukan oleh Allah. Secara khusus, Allah berfirman tentang usia dan kematian hamba-Nya, 

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Maka jika kematian mereka telah tiba niscaya mereka tidak bisa menundanya walau sesaat dan tidak pula mereka bisa menyegerakannya.” (QS. Al-A’raf [7]: 34)

Lahiriah hadits-hadits tentang “penambahan usia” atau “penundaan kematian” di atas bertentangan dengan lahiriah ayat di atas. Sebenarnya antara ayat tersebut dan hadits-hadits di atas tidak ada perbedaan. Sebab, makna dari semua dalil tersebut masih bisa dipadukan. Para ulama mencoba untuk memberikan beberapa penjelasan yang memudahkan kita untuk memahami maksud dari “ditunda kematiannya” atau “ditambahkan umurnya” dalam kedua hadits di atas.

Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, Badruddin Al-’Aini dalam Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari dan al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari menjelaskan bahwa kedua hadits di atas memiliki dua kemungkinan makna yang paling kuat, yaitu makna hakekat dan makna kiasan.

Makna pertama : Makna kiasan dan aspek kualitas

Tambahan umur dalam kedua hadits ini merupakan bahasa kiasan untuk tercapainya keberkahan pada umur, karena ia mendapat taufiq dari Allah untuk melaksanakan ketaatan, mengisi waktunya dengan hal-hal yang membawa manfaat di akhirat dan menjaga dirinya dari menyia-nyiakan waktunya dengan hal-hal yang tidak membawa manfaat di akhirat.

Makna kedua: Makna hakekat dan aspek kuantitas

Tambahan usia dalam hadits tersebut memiliki makna hakekat, yaitu terjadinya penambahan usia yang sebenarnya, bukan sekedar bahasa kiasan. Penambahan usia ini di sini adalah menurut pandangan malaikat yang mendapat tugas untuk mencatat usia makhluk. Adapun menurut ilmu Allah sebenarnya usia makhluk tersebut tidak mengalami penambahan sedikit pun.

Makna ketiga :

Al-hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan kemungkinan makna ketiga dari kedua hadits di atas. Makna tersebut seperti disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Ash-Shaghir dengan sanad yang lemah dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwasanya:

ذُكِرَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ وَصَلَ رَحِمَهُ أُنْسِيءَ لَهُ فِي أَجَلِهِ فَقَالَ إِنَّهُ لَيْسَ زِيَادَةً فِي عُمُرِهِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ الْآيَةَ وَلَكِنَّ الرَّجُلَ تَكُونُ لَهُ الذُّرِّيَّةُ الصَّالِحَةُ يَدْعُونَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bahwa barangsiapa menyambung tali kekerabatannya, niscaya akan dipanjangkan umurnya. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Maksudnya bukanlah tambahan pada umurnya, karena Allah telah berfirman: “Jika ajal mereka telah datang kepada mereka, maka mereka tidak bisa memundurkannya walau sesaat dan tidak pula mereka mampu menyegerakannya.” Akan tetapi maksudnya adalah seseorang memiliki anak-anak keturunan yang shalih, yang mau mendoakan dirinya setelah ia meninggal.”

Dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, imam Ath-Thabarani juga meriwayatkan dari hadits Abu Musyajji’ah Al-Juhani bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, 

إِنَّ اللَّهَ لَا يُؤَخِّرُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَإِنَّمَا زِيَادَةُ الْعُمُرِ ذُرِّيَّةٌ صَالِحَةٌ 

“Sesungguhnya Allah tidak akan menunda usia seorang pun jika kematian telah datang kepadanya. Akan tetapi yang dimaksud dari penambahan usia adalah anak keturunan yang shalih.” (Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 10/416).

Makna keempat :

Al-hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan bahwa menurut imam Al-Furak, yang dimaksud dengan penambahan umur dalam hadits-hadits di atas adalah Allah Ta’ala akan menyingkirkan berbagai macam musibah yang mengancam pemahaman dan akal orang yang melakukan amal kebajikan (yaitu menyambung tali kekerabatan).

Sebagian ulama lainnya menyatakan berbagai macam musibah yang disingkirkan tersebut bersifat umum, tidak sebatas musibah yang mengancam pemahaman dan akal pikiran orang yang melakukan amal kebajikan. Selain itu, ia juga bermakna turunnya keberkahan atas rizkinya, ilmunya dan hal-hal lainnya. (Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 10/416). Wallahu a'lam. [Mas Hamzah, Ical Rizaldysantrialit, Abd Jabbar].

Referensi tambahan :

سبل السلام
" وأخرج أحمد عن عائشة رضي الله عنها مرفوعاً " صلة الرحم وحسن الجوار يعمران الديار ويزيدان في الأعمار " وأخرج أبو يعلى من حديث أنس مرفوعاً " إن الصدقة وصلة الرحم يزيد الله بهما في العمر ويدفع بهما ميتة السوء " وفي سنده ضعف 
قال ابن التين : ظاهر الحديث أي حديث البخاري معارض لقوله تعالى : { فأذا جاء أجلهم لا يستأخرون ساعة ولا يستقدمون } قال : والجمع بينهما من وجهين 
أحدهما : أن الزيادة كناية عن البركة في العمر بسبب التوفيق إلى الطاعة وعمارة وقته بما ينفعه في الآخرة وصيانته عن تضييعه في غير ذلك ومثل هذا ما جاء أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم تقاصر أعمار أمته بالنسبة إلى أعمار من مضى من الأمم فأعطاه الله ليلة القدر 
وحاصله أن صلة الرحم تكون سبباً للتوفيق للطاعة والصيانة عن المعصية فيبقى بعده الذكر الجميل فكأنه لم يمت . ومن جملة ما يحصل له من التوفيق العلم الذي ينتفع به من بعده بتأليف ونحوه والصدقة الجارية عليه والخلف الصالح 
وثانيهما : أن الزيادة على حقيقتها وذلك بالنسبة إلى علم الملك الموكل بالعمر والذي في الآية بالنسبة إلى علم الله كأن يقال للملك مثلاً : إن عمر فلان مائة إن وصل رحمه وإن قطعها فستون وقود سبق في علمه أنه يصل أو يقطع فالذي في علم الله لا يتقدم ولا يتأخر والذي في علم الملك هو الذي يمكن فيه الزيادة والنقص وإليه الإشارة بقوله تعالى : { يمحو الله ما يشاء ويثبت وعنده أم الكتاب } ولكن الرجل تكون له الذرّية الصالحة يدعون له من بعده " وأخرجه في الكبير مرفوعاً من طريق أخرى 
وجزم ابن فورك بأن المراد بزيادة العمر نفي الآفات عن صاحب البر في فهمه وعقله قال غيره : في أعم من ذلك وفي علمه ورزقه 
ولابن القيم في كتاب الداء والدواء كلام يقضي بأن مدة حياة العبد وعمره هي مهما كان قلبه مقبلاً على الله ذاكراً له مطيعاً غير عاص فهذه هي عمره 
ومتى أعرض القلب عن الله تعالى واشتغل بالمعاصي ضاعت عليه أيام حياة عمره فعلى هذا معنى أنه ينسأ له في أجله أي يعمر الله قلبه بذكره وأوقاته بطاعته

ﺷﺮﺡ ﻣﺴﻠﻢ – ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ – ﺝ – ١٦ ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١١٤ – ١١٥
ﻣﻦ ﺃﺣﺐ ﺃﻥ ﻳﺒﺴﻂ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺭﺯﻗﻪ ﻭﻳﻨﺴﺄ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺃﺛﺮﻩ ﻓﻠﻴﺼﻞ ﺭﺣﻤﻪ
ﻳﻨﺴﺄ ﻣﻬﻤﻮﺯ ﺃﻱ ﻳﺆﺧﺮ ﻭﺍﻷﺛﺮ ﺍﻷﺟﻞ ﻷﻧﻪ ﺗﺎﺑﻊ ﻟﻠﺤﻴﺎﺓ ﻓﻲ ﺃﺛﺮﻫﺎ ﻭﺑﺴﻂ ﺍﻟﺮﺯﻕ ﺗﻮﺳﻴﻌﻪ ﻭﻛﺜﺮﺗﻪ ﻭﻗﻴﻞ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻓﻴﻪ ﻭﺍﻣﺎ ﺍﻟﺘﺄﺧﻴﺮ ﻓﻲ ﺍﻷﺟﻞ ﻓﻔﻴﻪ ﺳﺆﺍﻝ ﻣﺸﻬﻮﺭ ﻭﻫﻮ ﺃﻥ ﺍﻵﺟﺎﻝ ﻭﺍﻷﺭﺯﺍﻕ ﻣﻘﺪﺭﺓ ﻻ ﺗﺰﻳﺪ ﻭﻻ ﺗﻨﻘﺺ ﻓﺈﺫﺍ ﺟﺎﺀ ﺍﺟﻠﻬﻢ ﻻ ﻳﺴﺘﺄﺧﺮﻭﻥ ﺳﺎﻋﺔ ﻭﻻ ﻳﺴﺘﻘﺪﻣﻮﻥ
ﻭﺃﺟﺎﺏ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺑﺄﺟﻮﺑﺔ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻣﻨﻬﺎ ﺃﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﺑﺎﻟﺒﺮﻛﺔ ﻓﻲ ﻋﻤﺮﻩ ﻭﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﻟﻠﻄﺎﻋﺎﺕ ﻭﻋﻤﺎﺭﺓ ﺃﻭﻗﺎﺗﻪ ﺑﻤﺎ ﻳﻨﻔﻌﻪ ﻓﻲ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻭﺻﻴﺎﻧﺘﻬﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﻀﻴﺎﻉ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ
ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺃﻧﻪ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﻳﻈﻬﺮ ﻟﻠﻤﻼﺋﻜﺔ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﻠﻮﺡ ﺍﻟﻤﺤﻔﻮﻅ ﻭﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﻓﻴﻈﻬﺮ ﻟﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻮﺡ ﺃﻥ ﻋﻤﺮﻩ ﺳﺘﻮﻥ ﺳﻨﺔ ﺇﻻ ﺃﻥ ﻳﺼﻞ ﺭﺣﻤﻪ ﻓﺎﻥ ﻭﺻﻠﻬﺎ ﺯﻳﺪ ﻟﻪ ﺃﺭﺑﻌﻮﻥ ﻭﻗﺪ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣﺎ ﺳﻴﻘﻊ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻭﻫﻮ ﻣﻦ ﻣﻌﻨﻰ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﻳﺸﺎﺀ ﻭﻳﺜﺒﺖ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻨﺴﺒﺔ ﺇﻟﻰ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﻣﺎ ﺳﺒﻖ ﺑﻪ ﻗﺪﺭﻩ ﻭﻻ ﺯﻳﺎﺩﺓ ﺑﻞ ﻫﻲ ﻣﺴﺘﺤﻴﻠﺔ ﻭﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﻇﻬﺮ ﻟﻠﻤﺨﻠﻮﻗﻴﻦ ﺗﺘﺼﻮﺭ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﻭﻫﻮ ﻣﺮﺍﺩ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ
ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻘﺎﺀ ﺫﻛﺮﻩ ﺍﻟﺠﻤﻴﻞ ﺑﻌﺪﻩ ﻓﻜﺄﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﻤﺖﺣﻜﺎﻩ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﻭﻫﻮ ﺿﻌﻴﻒ ﺃﻭ ﺑﺎﻃﻞ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ

ﺻﺤﻴﺢ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ ﺍﻟﻄﺤﺎﻭﻳﺔ – ﺣﺴﻦ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ – ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ٢٧١ – ٢٧٢
ﻭﺃﻣﺎ ﻣﺎ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ 10 / 415 ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻣﺮﻓﻮﻋﺎ: ﻣﻦﺳﺮﻩ ﺃﻥ ﻳﺒﺴﻂ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺭﺯﻗﻪ، ﻭﺃﻥ ﻳﻨﺴﺄ ﻟﻪ ﺃﺛﺮﻩ ﻓﻠﻴﺼﻞ ﺭﺣﻤﻪ.
ﻓﻤﻌﻨﻰ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻤﺮ ﻫﻨﺎ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻓﻴﻪ ﻻ ﺯﻳﺎﺩﺓ ﻋﺪﺩ ﺍﻟﺴﻨﻴﻦ ﻭﺍﻷﻳﺎﻡ. ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺘﺢ:416 / 10ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺘﻴﻦ: ﻇﺎﻫﺮ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻳﻌﺎﺭﺽ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﻓﺈﺫﺍ ﺟﺎﺀ ﺃﺟﻠﻬﻢ ﻻ ﻳﺴﺘﺄﺧﺮﻭﻥ ﺳﺎﻋﺔ ﻭﻻ ﻳﺴﺘﻘﺪﻣﻮﻥ. ﻭﺍﻟﺠﻤﻊ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﻣﻦ ﻭﺟﻬﻴﻦ:
ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﺃﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﻛﻨﺎﻳﺔ ﻋﻦ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻤﺮ ﺑﺴﺒﺐ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻄﺎﻋﺔ، ﻭﻋﻤﺎﺭﺓ ﻭﻗﺘﻪ ﺑﻤﺎ ﻳﻨﻔﻌﻪ ﻓﻲ ﺍﻵﺧﺮﺓ، ﻭﺻﻴﺎﻧﺘﻪ ﻋﻦ ﺗﻀﻴﻴﻌﻪ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ. ﻭﻣﺜﻞ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﺟﺎﺀ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺹ ﺗﻘﺎﺻﺮ ﺃﻋﻤﺎﺭ ﺃﻣﺘﻪ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻷﻋﻤﺎﺭ ﻣﻦ ﻣﻀﻰ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﻢ ﻓﺄﻋﻄﺎﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻘﺪﺭ. ﻭﺣﺎﺻﻠﻪ ﺃﻥ ﺻﻠﺔ ﺍﻟﺮﺣﻢ ﺗﻜﻮﻥ ﺳﺒﺒﺎ ﻟﻠﺘﻮﻓﻴﻖ ﻟﻠﻄﺎﻋﺔ ﻭﺍﻟﺼﻴﺎﻧﺔ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻌﺼﻴﺔ ﻓﻴﺒﻘﻰ ﺑﻌﺪﻩ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﺍﻟﺠﻤﻴﻞ، ﻓﻜﺄﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﻤﺖ. ﻭﻣﻦ ﺟﻤﻠﺔ ﻣﺎ ﻳﺤﺼﻞ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ، ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﺍﻟﺨﻠﻒ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ. ﻭﺳﻴﺄﺗﻲ ﻣﺰﻳﺪ ﻟﺬﻟﻚ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ.
ﺛﺎﻧﻴﻬﻤﺎ ﺃﻥ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﻋﻠﻰ ﺣﻘﻴﻘﺘﻬﺎ، ﻭﺫﻟﻚ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﺇﻟﻰ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺍﻟﻤﻮﻛﻞ ﺑﺎﻟﻌﻤﺮ، ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻷﻭﻝ ﺍﻟﺬﻱ ﺩﻟﺖ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻵﻳﺔ ﻓﺒﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﺇﻟﻰ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻛﺄﻥ ﻳﻘﺎﻝ ﻟﻠﻤﻠﻚ ﻣﺜﻼ: ﺇﻥ ﻋﻤﺮ ﻓﻼﻥ ﻣﺎﺋﺔ ﻣﺜﻼ ﺇﻥ ﻭﺻﻞ ﺭﺣﻤﻪ، ﻭﺳﺘﻮﻥ ﺇﻥ ﻗﻄﻌﻬﺎ. ﻭﻗﺪ ﺳﺒﻖ ﻓﻲ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻧﻪ ﻳﺼﻞ ﺃﻭ ﻳﻘﻄﻊ، ﻓﺎﻟﺬﻱ ﻓﻲ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﺘﻘﺪﻡ ﻭﻻ ﻳﺘﺄﺧﺮ، ﻭﺍﻟﺬﻱ ﻓﻲ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻤﻜﻦ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﻭﺍﻟﻨﻘﺺ ﻭﺇﻟﻴﻪ ﺍﻹﺷﺎﺭﺓ ﺑﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﻳﻤﺤﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﻳﺸﺎﺀ ﻭﻳﺜﺒﺖ ﻭﻋﻨﺪﻩ ﺃﻡ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ. ﻓﺎﻟﻤﺤﻮ ﻭﺍﻹﺛﺒﺎﺕ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻤﺎ ﻓﻲ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻤﻠﻚ، ﻭﻣﺎ ﻓﻲ ﺃﻡ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻓﻲ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻼ ﻣﺤﻮ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺒﺘﺔ. ﻭﻳﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﺍﻟﻤﺒﺮﻡ، ﻭﻳﻘﺎﻝ ﻟﻸﻭﻝ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﺍﻟﻤﻌﻠﻖ. ﻭﺍﻟﻮﺟﻪ ﺍﻷﻭﻝ ﺃﻟﻴﻖ ﺑﻠﻔﻆ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﺒﺎﺏ، ﻓﺈﻥ ﺍﻷﺛﺮ ﻣﺎ ﻳﺘﺒﻊ ﺍﻟﺸﺊ، ﻓﺈﺫﺍ ﺃﺧﺮ ﺣﺴﻦ ﺃﻥ ﻳﺤﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺑﻌﺪ ﻓﻘﺪ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﺍ ﻫ.


LINK ASAL :


.
Back To Top