Bismillahirrohmaanirrohiim

2642. HUKUM JUAL-BELI DAN SHADAQAH ROKOK

PERTANYAAN :

Assalamu'alaikum, Wr. Wb. Latar belakang Masalah : Seperti yang kita ketahui bersama dalam kalangan Nahdhiyyin bahwa hukum rokok itu relatif seperti yang Shahibul 'Ubab mendasarinya dengan qa'idah "Lil Wasa`il Hukmul Maqashid", dan bahkan Syech Ma'riy bin Yusuf al-Hanafi menegaskan kehalalannya.

ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻠﺔ - ﺍﻟﻔﻘﻪ ﺍﻹﺳﻼﻣﻲ ﻭﺃﺩﻟﺘﻪ 7/438-437 :  ﺍﻟﻘﻬﻮﺓ ﻭﺍﻟﺪﺧﺎﻥ: ﺳﺌﻞ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻌﺒﺎﺏ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﻬﻮﺓ، ﻓﺄﺟﺎﺏ: ﻟﻠﻮﺳﺎﺋﻞ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻤﻘﺎﺻﺪ، ﻓﺈﻥ ﻗﺼﺪﺕ ﻟﻺﻋﺎﻧﺔ ﻋﻠﻰ ﻗﺮﺑﺔ ﻛﺎﻧﺖ ﻗﺮﺑﺔ، ﺃﻭ ﻣﺒﺎﺡ ﻓﻤﺒﺎﺣﺔ، ﺃﻭ ﻣﻜﺮﻭﻩ ﻓﻤﻜﺮﻭﻫﺔ، ﺃﻭ ﺣﺮﺍﻡ ﻓﻤﺤﺮﻣﺔ. ﻭﺃﻳﺪﻩ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺘﻔﺼﻴﻞ. ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﺮﻋﻲ ﺑﻦ ﻳﻮﺳﻒ ﺍﻟﺤﻨﺒﻠﻲ ﺻﺎﺣﺐ ﻏﺎﻳﺔ ﺍﻟﻤﻨﺘﻬﻰ: ﻭﻳﺘﺠﻪ ﺣﻞ ﺷﺮﺏ ﺍﻟﺪﺧﺎﻥ ﻭﺍﻟﻘﻬﻮﺓ، ﻭﺍﻷﻭﻟﻰ ﻟﻜﻞ ﺫﻱ ﻣﺮﻭﺀﺓ ﺗﺮﻛﻬﻤﺎ.

Akhir-akhir ini banyak dan bahkan sudah mewabah fatwa-fatwa atas keharamannya dengan segala bentuk atribut, wacana, dan argumennya, namun kenyataan itu mendapat tanggapan dari Syech Ibnu 'Abidin bahwa tidak wajib untuk mengikuti rekomendasi keharaman rokok tersebut meskipun fatwa itu dihasilkan dari upaya ijtihad sehingga beliau pun tetap atas relatifitas hukum rokok.

ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﻔﻘﻬﻴﺔ، ﺟـ،11 ﺻـ 101
ﻭﺣﺮﺭ ﺍﺑﻦ ﻋﺎﺑﺪﻳﻦ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﺐ ﺗﻘﻠﻴﺪ ﻣﻦ ﺃﻓﺘﻰ ﺑﺤﺮﻣﺔ ﺷﺮﺏ ﺍﻟﺪﺧﺎﻥ ﻻﻥ ﻓﺘﻮﺍﻫﻢ ﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻋﻦ ﺍﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﺎﺟﺘﻬﺎﺩﻫﻢ ﻟﻴﺲ ﺑﺜﺎﺑﺖ ﻟﻌﺪﻡ ﺗﻮﺍﻓﺮ ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻭﺍﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻋﻦ ﺗﻘﻠﻴﺪ ﻟﻤﺠﺘﻬﺪ ﺍﺧﺮ ﻓﻠﻴﺲ ﺑﺜﺎﺑﺖ ﻛﺬﻟﻚ ﻷﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﻨﻘﻞ ﻣﺎ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻓﻜﻴﻒ ﺳﺎﻍ ﻟﻬﻢ ﺍﻟﻔﺘﻮﻯ ﻭﻛﻴﻒ ﻳﺠﺐ ﺗﻘﻠﻴﺪﻫﻢ؟ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ: ﻭﺍﻟﺤﻖ ﻓﻰ ﺇﻓﺘﺎﺀ ﺍﻟﺘﺤﻠﻴﻞ ﻭﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ ﻓﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﺍﻟﺘﻤﺴﻚ ﺑﺎﻷﺻﻠﻴﻴﻦ ﺍﻟﻠﺬﻳﻦ ﺫﻛﺮﻫﻤﺎ ﺍﻟﺒﻴﻀﺎﻭﻯ ﻓﻰ ﺍﻷﺻﻮﻝ ﻭﻭﺻﻔﻬﻤﺎ ﺑﺄﻧﻬﻤﺎ ﻧﺎﻓﻌﺎﻥ ﻓﻰ ﺍﻟﺸﺮﻉ. ﺍﻷﻭﻝ ﺃﻥ ﺍﻷﺻﻞ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻊ ﻭﺍﻻﻳﺎﺕ ﺍﻟﺪﺍﻟﺔ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻛﺜﻴﺮﺓ، ﺍﻟﺜﺎﻧﻰ: ﺃﻥ ﺍﻷﺻﻞ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻀﺎﺭ : ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ ﻭﺍﻟﻤﻨﻊ ﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻻ ﺿﺮﺭ ﻭﻻ ﺿﺮﺍﺭ. ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﻭﺑﺎﻟﺠﻤﻠﺔ ﺇﻥ ﺛﺒﺖ ﻓﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺪﺧﺎﻥ ﺇﺿﺮﺍﺭ ﺻﺮﻑ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻊ ﻓﻴﺠﻮﺯ ﺍﻹﻓﺘﺎﺀ ﺑﺘﺤﺮﻳﻤﻪ ﻭﺍﻥ ﻟﻢ ﻳﺜﺒﺖ ﺇﺿﺮﺍﺭﻩ ﻓﺎﻷﺻﻞ ﺍﻟﺤﻞ ﻣﻊ ﺃﻥ ﺍﻹﻓﺘﺎﺀ ﻣﺤﻠﻪ ﻓﻴﻪ ﺩﻓﻊ ﺍﻟﺤﺮﺝ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻓﺎﻥ ﺃﻛﺜﺮﻫﻢ ﻳﺒﺘﻠﻮﻥ ﺑﺘﻨﺎﻭﻟﻪ ﻓﺘﺤﻠﻴﻠﻪ ﺃﻳﺴﺮ ﻣﻦ ﺗﺤﺮﻳﻤﻪ ﻓﺈﺛﺒﺎﺕ ﺣﺮﻣﺘﻪ ﺃﻣﺮ ﻋﺴﻴﺮ ﻻ ﻳﻜﺎﺩ ﻳﻮﺟﺪ ﻟﻪ ﻧﺼﻴﺮ ﻧﻌﻢ ﻟﻮ ﺃﺿﺮ ﺑﺒﻌﺾ ﺍﻟﻄﺒﺎﺋﻊ ﻓﻬﻮ ﻋﻠﻴﻪ ﺣﺮﺍﻡ ﻭﻟﻮ ﻧﻔﻊ ﺑﺒﻌﺾ ﻭﻗﺼﺪ ﺍﻟﺘﺪﺍﻭﻱ ﻓﻬﻮ ﻣﺮﻏﻮﺏ ﺍﻫـ

Pertanyaan :
1. Bagaimana hukum bersedekah dengan menggunakan rokok ?
2. Apakah masih mendapat pahala atau tidakkah sedekah tersebut sehubungan rokok tergolong barang yang memiliki aroma tak sedap ?
3. Sahkah jual beli rokok di atas relatifitas hukum yang dimiliki rokok ? Sekian dan terima kasih atas jawabanya. Wassalamu'alaikum, Wr. Wb. [Brojol Gemblung].

JAWABAN :

Wa'alaikumussalam. Menjual adalah memberikan barang tersebut pada orang lain dengan pamrih hasil, sedangkan bersedekah memberikan sepenuhnya pada orang lain tanpa pamrih, tentu hukumnya relatif lebih jelas.
بغية 126
مسئلة ب ) يحرم بيع التنباك ممن يشربه اويسقيه غيره ويصح لأنه مال كبيع السيف ونحو الرصاص والباروت من قاطع الطريق والامراد لمن عرف بالفجور والعنب ممن يتخذه خمرا ولوظنا فينبغي لكل متدين ان يجتنب الاتجار في ذلك ويكره ثمنها كراهة شديدة

Ada pendapat, dari ibarot di Bughiyah tersebut di atas, haram menjual rokok karena menolong maksiyat (i'anah pada ma'ashi) disamakan dengan menjual pisau pada bighal / perampok. Kalau menjual haram maka menshodaqohkan pun haram juga.

Namun ini masih butuh rujukan lain, tidak cukup di-istinadkan pada mafhum ibarot yang di Bughyah tersebut. Tapi perlu dipertimbangkan dengan seksama karena tidak semua pedang digunakan untuk begal atau merampok, begitupun dalam hal rokok. Orang merokok dan rokoknya memiliki relatifitas hukum hingga bila dihukumi haram jual belinya itu sama saja menghilangkan relativitas hukum tersebut.

Kalau rujukannya isti'anah bil ma'ashi, kayaknya kurang pas. Terlebih lagi banyak juga pemuka-pemuka kaum yang merokok karena menurut beliau-beliau dengan merokok maka inspirasi akan muncul. Ide-ide cemerlang dalam menuangkan ilmu akan keluar. Sehingga kalau mau hukum yang enak untuk yang perokok berat : Bagaimana hukum bersedekah dengan menggunakan rokok ? tentu jawabannya "Sunnah".

ويجوز بل يندب للقيم ما يعتاد في المسجد من قهوة ودخون وغيرهما مما يرغب نحو المصلين وان لم يعتد قبل اذا زاد على عمارتهبغية المسترشدين

Menurut keterangan yang ada di Bajuri berarti tidak sah kecuali bila tidak merokok menimbulkan bahaya maka jual beli rokok hukum sah. Bagaimana kalau dishodaqohkan kepada orang yang seperti ini :
ﺑﻞ ﻗﺪ ﻳﻌﺘﺮﻳﻪﺍﻟﻮﺟﻮﺏ ﻛﻤﺎ ﺍﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻳﻌﻠﻢ ﺍﻟﻀﺮﺭ ﺑﺘﺮﻛﻪ

- kitab albajuri :

(قوله ولا بيع لا منفعة فيه) قيل منه الدخان المعروف لانه لا منفعة فيه بل يحرم استعماله لان فيه ضررا كبيرا وهذا ضعيف وكذا القول بانه مباح والمعتمد انه مكروه بل قد يعتريه الوجوب كما اذا كان يعلم الضرر بتركه وحينئذ فبيعه صحيح وقد تعتريه الحرمة كما اذا كان يشتريه بما يحتاجه لنفقة عياله او تيقن ضرره

Dan tidak sah jual beli yang tidak ada manfaatnya, ada yang berpendapat rokok itu termasuk gak sah jual belinya karna termasuk barang yang tidak ada manfaatnya bahkan haram menggunakan / menghisapnya karena adanya dampak negatif dan pendapat ini dianggap lemah / dlo'if, begitu juga pendapat yang menyatakan rokok itu halal juga dianggap dloif / lemah..dan pendapat yang mu'tamad / yang bisa dibuat pegangan yaitu sesungguhnya hukum rokok itu makruh, bahkan bisa menjadi wajib jika tau kalau meninggalkan rokok bisa berdampak negatif pada dirinya, kalau sudah begitu maka jual beli rokok tadi hukumnya sah, kadang juga hukumnya rokok tadi menjadi haram seperti membeli rokok dengan uang yang seharusnya untuk nafaqoh keluarganya atau ada keyakinan jika merokok akan langsung berdampak negatif pada dirinya. [ Keterangan dari kitab albajuri juz 1 hal 343 cetakan alhidayah ].
www.piss-ktb.com/2012/04/1418-hukum-merokok.html

Shodaqoh, hadiah itu hibah, tapi tidak bisa dibalik. Setiap barang yang boleh dijual itu boleh dihibahkan. Jadi intinya karena rokok mempunyai hukum tafshil, maka jawaban :
1. Hukum tafshil pun berlaku pada men-shodaqoh kan rokok. Seperti dikemukakan tadi, shodaqoh rokok lebih baik kepada kalangan santri daripada pemuda tongkrongan. Hukum bersedekah dengan rokok mengikuti hukum rokok itu sendiri dengan perinciannya yang panjang. Dan di antara nya boleh saja shodaqoh dengan rokok karena telah memenuhi syarat jual-beli (ba.i'), yaitu suci, muntafa'an bihi, dimiliki, qudroh ala taslim dan ma'lum. Jadi bersedeqah rokok sah / boleh karena rokok sah untuk diperjualbelikan :

.الهبة تمليك عين يصح بيعها غالبا أشار بذلك لقاعدة وهي أن كل ما صح بيعه صحت هبته وما لا يصح بيعه لا يصح هبته. اعانة الطالبين ٣/١٤٢ فكل صدقة وهدية هبة ولا عكس لانفرادها في ذات الأركان. إعانة الطالبين ٣/١٤١

2. Mendapat pahala atau tidaknya mengikuti jawaban ke 1, jika haram maka tentu tidak dapat pahala, jika mubah maka juga tergantung niat (innamal 'amaalu binniyah). Namun pada hukum asalnya sedekah adalah sunnah karena ada unsur menolong orang lain (ta'awun). Oh jelas sedekah rokok mendapat pahala jika disalurkan pada orang yang dirinci tadi, karena bagi santri dapat menambah semangat untuk ngaji atau muthola'ah. Masih bisa berpahala, selama tidak ada Mannu wal adza, kalau masalah bau, mengganggu / tidak itu li aridhin bukan 'ain rokoknya.
Mendapat pahala karena rokok merupakan harta :
لأنه مال
Dan juga menggembirakan hati orang :
إدخال السرور

3. Sah sah saja jual beli rokok (dengan memenuhi syarat dan rukun jual beli). Dari itu kiayi pasti akan menyuruh santri nya buat beli rokok. Min babi hasanatil abror wa sayyitil muqorobin.
Jual beli rokok hukumnya sah tapi harom dan harga/uang yang dihasilkan dari menjual rokok sangat makruh :

.يحرم بيع التنباك ممن يشربه أو يسقيه غيره ويصح لأنه مال___ويكره ثمنها كراهة شديدة. بغية المسترشدين ص : ١٢٦

NB : kalau mengacu pada pendapat yang tidak mengharomkan orang berarti jual beli rokok sah dan tidak harom.

Untuk yang no 1 dan 3 lihat :

- kifayatul akhyar juz 1 hal 324 :
واعلم ان كل صدقة وهدية هبة ولا تنعكس

- kifayatul akhyar juz 1 hal 323 :
فصل فى الهبة . وكل ما جاز بيعه جازت هبته

Untuk syarat mabi' ma'lum, yang perlu dibahas masalah bermanfaat / tidak.
- al minhaj al qowim hal 109 :
والمن بالصدقة حرام يحبطها اى يمنع ثوابها

Dalam pengertian hibah sudah dijelaskan di atas tentang tamlik 'ainin dan rokok termasuk 'ain yang boleh dijual, ibarot ini hanya sebagai penguat hal yang mencegah dapat pahala itu al mannu wal adza, seperti dalam ayat Al-Qur'an.

«عمدة القاري شرح صحيح البخاري (5/ 65)أَن التبشير لأحد بِمَا يسره مَحْبُوب لِأَن فِيهِ إِدْخَال السرُور فِي قلب الْمُؤمن.

Dalam hukum syar'i yang berkaitan dengan ibadah (sedekah) manakala itu termasuk Amrun Khorij (perkara hukum yang di luar hukum masalah tertentu) tidaklah membatalkan suatu ibadah manakala ibadah tersebut tidak batal dari syarat dan rukun ibadah tersebut. Dan Kalau memang mabi’nya mendapatkan legitimasi dari syara’ maka sah, namun jika dikaitkan dengan amrun khorij ( sesuatu di luar koridor masalah) maka bisa berdampak hukum haram atau makruh.

Betapa hebat dan hati-hatinya ulama-ulama syafi'iyah. Sehingga mereka tidak berani memfatwakan, atau berijtihad mengenai hukum rokok. Dan lebih bijak lagi malah menjelaskan hukum tafshil. Al aslu fil asyaa-i al ibahah.

Ya hukumnya sah shodaqoh nya, yang jadi masalah dapat pahala apa ngga ? Nah disini baru bisa diketahui tafsil jika hasil rokok dari cara halal dan dishodaqohkan pada orang yang membutuhkan seperti santri, yang mana dengan merokok dapat menambah hasrat beribadah(ngaji) maka sudah dapat dipastikan sedekahnya pun diganjar. Sebaliknya jika disedekahkan pada preman / pemuda tongkrongan yang biasanya sambil main-main gitar. Sangat wajar jika kemudian seperti rujukan di atas, lil wasail hukmul maqosid.

Rujukannya ibarot-ibarot di atas dari perincian hukum rokok itu sendiri. Ditambah qoidah "annal ithlaaq lilhukmi fii maqoomit tafshiil khotho'un".
Kalau subhat pakai ibarot "wa tukrohu asshodaqoh bi maa fiihi syubhatun" (fiqhul islam 2/922).

Menyenangkan orang itu katanya berpahala. Kami sendiri kalau dikasih rokok seneng banget. Bagaimana tuh kalau sedekah dengan rokok yang bisa menyenangkan orang lain, Apakah itu tidak berpahala ?  Tapi bagi yang merokok. Kalau kami, sepupuku, tetanggaku dan bapakku ( almarhum ) sangat seneng kalo dikasih rokok. Jadi boleh dan berpahala menurutku kalau yang diberi memang tukang hisab seperti kami, kalau kami lebih suka dari pada dikasih uang seharga rokok. ibarohya sudah sangat jelas di atas, bagi yang mengikuti pendapat yang boleh silahkan tapi jangan paksakan pada orang yang suka rokok karena masalah rokok khilaf dari ulama.

مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح (8/ 3140)فَإِنَّ إِدْخَالَ السُّرُورِ فِي قَلْبِ الْمُؤْمِنِ أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الثَّقَلَيْنِ

Pemahaman kami rokok / tembakau tidak termasuk kategori RODI' karena 'illat kemakruhan bersedekah dengan RODI' di sana adalah orang yang menerima sedekah tersebut kurang menyukai/tidak menyenangkan hati, bahkan bisa timbul persepsi tidak baik (tersinggung)nya orang yang menerima, dan hal di atas tidak terjadi pada orang yang menerima sedekah rokok

Perkara yang khilaf keharomannya jatuh pada hukum makruh. Khilaf yang kuat dalam hukum halal / harom maka jatuh pada hukum makruh :

.إذ الخلاف القوي في الحرمة يفيد الكراهة. بغية المسترشدين ص : ٢٦٠

Disebutkan dalam sebuah Hadits :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَصَدَّقَ أَحَدٌ بِصَدَقَةٍ مِنْ طَيِّبٍ وَلَا يَقْبَلُ اللَّهُ إِلَّا الطَّيِّبَ إِلَّا أَخَذَهَا الرَّحْمَنُ بِيَمِينِهِ وَإِنْ كَانَتْ تَمْرَةً فَتَرْبُو فِي كَفِّ الرَّحْمَنِ حَتَّى تَكُونَ أَعْظَمَ مِنْ الْجَبَلِ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ فَصِيلَهُ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak seorang pun yang menyedekahkan hartanya yang halal -yang mana Allah memang tidak akan menerima kecuali yang baik- melainkan Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya, meskipun sedekahnya itu hanya sebutir kurma. Maka kurma itu akan bertambah besar di tangan Allah Yang Maha Pengasih, sehingga menjadi lebih besar daripada gunung, sebagaimana halnya kamu memelihara anak kambing dan anak unta (yang semakin lama semakin besar)". (SHAHIH MUSLIM).

Firman Allah dalam Al-Qur'an surat Al-Baqoroh :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (AL-BAQOROH 267).

Minimal hukum rokok adalah makruh, karena tidak baik bahkan merugikan kesehatan kita tahu itu. Oleh karena itu hukum bersedekah dengan barang yang tidak baik hukumnya minimal juga MAKRUH. Bersedekah dengan barang jelek saja dihukumi makruh kalau memang tidak ada barang lain. Apalagi yang nyata-nyata makruh digunakan dan masih banyak barang lain yang lebih layak digunakan tidak makruh.

- ROUDHUTTHALIB BAB SHODAQOH TATHOWWU' :

(وَتُكْرَهُ الصَّدَقَةُ بِالرَّدِيءِ) لِقَوْلِهِ تَعَالَى {وَلا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ} فَإِنْ لَمْ يَجِدْ غَيْرَهُ فَلا كَرَاهَةَ

Di atas, barang rodi' itu perbandingan saja, itu saja makruh, apalagi bersedekah dengan barang yang tidak halalan thoyyiban, dianjurkan bersedekah dengan barang halal yang tidak ada kesubhatan di dalamnya, sebagaimana Hadits di atas :

إن الله طيب لا يقبل إلا طيباً

"Allah itu Thoyyib, tidak menerima shodaqoh kecuali yang thoyyib".

Dalam syarah Muslim oleh Imam Nawawi disebutkan :

قوله صلى الله عليه وسلّم: «إن الله طيب لا يقبل إلا طيباً» قال القاضي: الطيب في صفة الله تعالى بمعنى المنزه عن النقائص وهو بمعنى القدوس، وأصل الطيب الزكاة والطهارة والسلامة من الخبث، وهذا الحديث أحد الأحاديث التي هي قواعد الإسلام ومباني الأحكام، وقد جمعت منها أربعين حديثاً في جزء، وفي الحث على الإنفاق من الحلال والنهي عن الإنفاق من غيره، وفيه أن المشروب والمأكول والملبوس ونحو ذلك ينبغي أن يكون حلالاً خالصاً لا شبهة فيه،

Mengenai ini dalam Kitab Al-mausu'ah Al-fiqhiyah disebutkan : bahwa barang yang disedekahkan harus berupa barang halalan thoyyiban, tidak boleh dari barang haram atau barang syubhat. juga harus berupa barang yang baik, bukan barang rodi' (remeh) yang tidak baik, demikian agar tercapai maksud dari shodaqoh itu sendiri yaitu berbuat yang lebih baik dan pahala yang lebih besar.

- AL-MAUSU'AH AL-FIQHIYAH :
ثالثا: المتصدق به:20 - المتصدق به هو: المال الذي يعطى للفقير وذي الحاجة، وحيث إن الصدقة تمليك بلا عوض لأجل ثواب الآخرة، فينبغي في المال المتصدق به أن يكون من الحلال الطيب، ولا يكون من الحرام أو مما فيه شبهة، كما ينبغي أن يكون المتصدق به مالا جيدا، لا رديئا، حتى يحصل على خير البر وجزيل الثواب (2) .
(2) ابن عابدين 2 / 26، والمجموع 6 / 24، وكشاف القناع 2 / 295 - 298، والاختيار 3 / 54، وشرح الترمذي 3 / 164.

Anggapan rodi' pada rokok itu, pasti bukan harga mati, karena persepsi pada rokok tergantung pribadi masing-masing. Bagi yang merokok tidak jadi penyakit dan memang pecandunya maka akan memasuk malan jayyidan, dan ketika di sedekahi termasuk Idkholussurur. Tapi bagi yang apabila merokok akan menyebabkan penyakit dan dia memang tidak ngerokok maka pasti mengatakan malan rodi', karena sama baunya saja gak mau, dan ketika di sedekahi pasti gak mau. Rokok yang tidak toyyiban bagi yang menjadi penyakit, buktinya ada ibarot yang rokok mubah, sunnah, wajib. Dalam Majmu' Sab'atu kutubin ada.

Kata RODI` itu biasa dibuat perbandingan dari kata JAYYID. Ini biasanya mengarah pada kualitas barang bukan pada sifat dari barang, andai sifat maka kata yang dipakai biasanya THAYYIB, HASAN, HALAL, dsb.

Maksud dari ibarot di atas adalah barang yang dihasilkan dengan cara yang tidak baik, sehingga predikatnya adalah barang haram atau barang syubhat. Ibarot di atas tidak mengindikasikan dzatiyah barang itu sendiri, kecuali kata ini :

ﻭﻳﻜﺮﻩ ﺗﻌﻤﺪ ﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﺑﺎﻟﺮﺩﻱﺀ

Semisal biasa merokok Malboro eh pas bagian mau sedekah menggunakan tembakau lintingan, maka berdasarkan ibarot tersebut makruh hukumnya sengaja bersedekah dengan barang yang jelek karena firman Allah :

ﻟﻦ ﺗﻨﺎﻟﻮﺍ ﺍﻟﺒﺮ ﺣﺘﻰ ﺗﻨﻔﻘﻮﺍ ﻣﻤﺎ ﺗﺤﺒﻮﻥ

Begitupun makruh bersedekah dengan barang yang dihasilkan dengan cara yang tidak benar, seperti barang ghashoban yang kerelaannya masih terkatung-katung ataupun dapat jatah beras bulog dari pemerintah lalu kemudian disedekahkan, maka ini makruh karena di dalamnya terdapat syubhat.

Nah sekarang kasusnya rokok, rokok itu bukan hasil ghashoban bukan pula curian, uang yang dipakai membelinya juga uang hasil kerja tani, tembakau juga bukan barang najis dari aspek dzatiyahnya, ia disedekahkan atas dasar Thibin Nafsi, hanya saja rokok itu mempunyai aroma yang tidak sedap. Namun bila memandang dari sisi ini, Tsaum & Bashal (bawang) juga mempunyai aroma yang tidak sedap, dan sampai saat ini belum ada yang bilang bawang itu syubhat atau apalah sehingga andai bersedekah dengan itu maka makruh.

Sudah jelas syubhat itu apa. Namun bukan syubhat namanya kalau kemakruhan rokok itu timbul karena syiddatil khilaf tentangnya atau karena faktor mafsadat yang relatif kecil dan tidak seketika, berarti ini jelas bukan syubhat. Kalau mau jujur ingin membahas dzatiyah tembakau maka qa'idah yang pas ialah al-Ashlu Fil Asy-ya` al-Ibahah dan Ashlu Kulli Syai` Thahirun. Memandang pada dampak mafsadat yang tidak kontan maka bukan hanya terjadi pada tembakau, tapi juga pada barang lain seperti buah durian, dsb. Siapapun orangnya kalau selalu mengkonsumsi buah durian tersebut maka 3 sampai 4 bulan kemudian akan berdampak kolesterol yang tinggi, kendatipun demikian tidak ada yang mengatakan bahwa durian itu syubhat.

Nah sekarang kita tahu betapa rumitnya ulama terdahulu dalam mencetuskan hukum, dan betapa mudahnya orang zaman sekarang dalam memvonis sebuah perkara sehingga qa'idah yang dipakai ialah Gebyah Uyah Podho Asine.

Jika ada yang mengatakan Rokok mempunyai bau yang tidak sedap sama halnya dengan bawang..? Tapi apa rokok juga punya manfaatnya (seperti bawang) selain hanya menimbulkan gangguan kesehatan ?! Mari kita kembali ke IPTEK :
1. Merokok Mengurangi Resiko Parkinson
2. Perokok lebih kuat dan cepat sembuh dari serangan jantung dan stroke
3. Merokok mengurangi resiko penyakit susut gusi yang parah
4. Merokok mencegah asma dan penyakit karena alergi lainnya
5. Nikotin membunuh kuman penyebab tuberculosis (TBC)
6. Merokok mencegah kanker kulit yang langka
7. Merokok mengurangi resiko terkena kanker payudara
8. Nitrat Oksida dalam nikotin mengurangi radang usus besar
9. Efek transdermal nikotin pada kinerja kognitif (berpikir) penderita Down Syndrome.
10. Merokok baik bagi ibu hamil untuk mencegah hipertensi di masa kehamilan dan penularan ibu-anak infeksi Helicobacter pylori
Sumber :
http://www.wikimu.com/news/displaynews.aspx?id=17075

المذهب الحنفي :
فمن ذكر تحريمه من فقهاء الحنفية الشيخ محمد العيني ذكر في رسالته تحريم التدخين من اربعة اوجه :الاول :كونه مضرا للصحة بإخبار الاطباء المعتبرين وكل ماكان كذلك يحرم استخدامهإتفاقا.
الثاني :كونه من المخدرات المتفق عليها عندهم المنهي عن استعمالها شرعا لحديث أحمد عن أم سلمة نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن كل مسكر ومفتر وهومفتر باتفاق الاطباء وكلامهم حجة في ذلك وأمثاله باتفاق الفقهاء سلفا وخلفا .
الثالث : كون رائحته كريهه تؤذي الناس الذين لايستعملونه وعلى الخصوص في مجامع الصلاة ونحوها بل يؤذي الملائكة وقد روى الشيخان في صحيحهما عن جابر مرفوعا (من أكل ثوما وبصلا فليعتزلنا وليعتزل مسجدنا وليقعد في بيته) ومعلوم أن رائحة التدخين ليست أقل كراهيه من الثوم والبصل .وفي الحديث عنه عليه الصلاة والسلام أنه قالمن آذى مسلما فقد آذاني ومن آذاني فقد آذى الله) رواه الطبراني في الاوسط عن أنس رضي الله عنه بإسناد حسن.
الرابع :كونه سرفا ليس فيه نفع مباح خال من الضرر بل فيه الضرر المحقق بإخبار أهل الخبرة.
قال النبي صلى الله عليه وسلم" إن الله إذا حرم أكل شيء حرم عليهم ثمنه "

Dengan berdasarkan hadits nabi di atas dan berdasarkan innallaha tayyib layaqbalu illa toyyiban, maka ada pendapat TIDAK BOLEH JUAL BELI DAN SHODAQOH ROKOK.

المذهب الشافعي :ومن فقهاء الشافعيه الشيخ الشهير بالنجم الغزي الشافعي قال مانصه :والتوتون الذي حدث وكان حدوثه بدمشق سنة 15بعد الالف يدعى شاربه أنه لايسكر وإن سلم له فإنه مفتر وهوحرام لحديث أحمد عن أم سلمه قالت : (نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن كل مسكر ومفتر) قال : وليس من الكبائر تناوله المرة أو مرتين أي الاصرار عليه يكون كبيرة كسائر الكبائر وقد ذكر بعض العلماء أن الصغيرة تعطى حكم الكبيرة بواحدة من خمسة أشياء احداها :الاصرار عليها.الثانيه :التهاون بها وهو الاستخفاف بها وعدم المبالاة بفعلها .الثالثه :الفرح والسرور بها .الرابعة :التفاخر بها بين الناس .الخامسة : صدورها من عالم أو ممن يقتدى به.

والدخان من المسلمات اليوم أنه ضار، والنبي صلى الله عليه وسلم يقول: "لا ضرر ولا ضرار"، وضرر يتعدى للغير، فهو ضار، وبالاقتصاد، ويتعدى ضرره للولد، فمن الأدلة التي أصبحت شبه يقينية اليوم أن ولد غير المدخن أذكى بكثير من ولد المدخن، وولد غير المدخن عنده مناعة للأمراض أكثر بكثير من ولد المدخن.

ﺣﻜﻢ ﺍﻟﺘﺒﻎ:ﺍﺧﺘﻠﻒ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻓﻲ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﺪﺧﺎﻥ-ﺍﻟﺘﺒﻎ- ﻓﻘﺎﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺑﺘﺤﺮﻳﻤﻪ، ﻭﻫﻮﺍﻟﺼﻮﺍﺏ، ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺑﻜﺮﺍﻫﻴﺘﻪ،ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺑﺈﺑﺎﺣﺘﻪ، ﻭﻳﻼﺣﻆ ﺃﻥﺍﻟﺬﻳﻦ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﺑﺎﻟﻜﺮﺍﻫﻴﺔ ﺃﻭ ﺑﺎﻹﺑﺎﺣﺔ،ﺍﺷﺘﺮﻃﻮﺍ ﺃﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻀﺮﺍ، ﻭﻷﻥ ﺍﻟﺪﺧﺎﻥﺛﺒﺘﺖ ﻣﻀﺮﺗﻪ ﻃﺒﻴﺎ ﻓﻬﻮ ﺣﺮﺍﻡ، ﻭﻗﺪ ﺫﻛﺮﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﻋﻠﻴﺶ ﻛﻼﻣﺎﻧﻔﻴﺴﺎ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻓﻘﺎﻝ: )ﻭﻏﺎﻟﺐﻣﺴﺘﻌﻤﻠﻲ ﺍﻟﺪﺧﺎﻥ ﻻ ﻳﺤﻔﻆ ﺑﻪ ﺻﺤﺔﺣﺎﺻﻠﺔ ﻭﻻ ﻳﺠﻠﺐ ﺑﻪ ﺻﺤﺔ ﺯﺍﺋﻠﺔ ﺑﻞﻟﻠﺘﻠﺬﺫ ﻭﺍﻟﺘﻔﻜﻪ ﻭﻫﺬﻩ ﺃﻣﺎﺭﺓ ﺍﻹﺳﻄﺎﻝﺑﻼ ﺇﺷﻜﺎﻝ ﻭﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻲ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻟﻪﺇﻻ ﺗﺴﻮﻳﺪ ﺍﻟﺜﻴﺎﺏ ﻭﺍﻷﺑﺪﺍﻥ ﻭﻛﺮﺍﻫﺔﺍﻟﺮﻳﺢ ﻭﺍﻷﻧﺘﺎﻥ ﻟﻜﺎﻥ ﺯﺍﺟﺮﺍ ﻟﻠﻌﺎﻗﻞ ﻋﻨﻪﺧﺼﻮﺻﺎ ﻣﻊ ﺫﻫﺎﺑﻪ ﺑﺬﻟﻚ ﺍﻟﺨﺒﺚ ﺇﻟﻰﺍﻟﻤﺤﺎﻓﻞ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻟﻠﺼﻠﻮﺍﺕ. ﻭﺗﺄﻣﻞﻳﺎ ﺃﺧﻲ ﺷﺎﺭﺑﻴﻪ ﻭﻫﻮ ﻳﺨﺮﺝ ﻣﻦﺃﻓﻮﺍﻫﻬﻢ ﻭﺃﻧﻮﻓﻬﻢ ﻛﺄﻫﻞ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﻭﻣﻦﻳﻬﻠﻜﻮﻥ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻷﺷﺮﺍﺭ ﻓﻘﺪﻭﺭﺩ ﻓﻲ ﺍﻷﺛﺮ ﺃﻧﻪ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﺁﺧﺮﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﺩﺧﺎﻥ ﻳﻤﻸ ﺍﻷﺭﺽ ﻳﻘﻴﻢﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻓﺄﻣﺎ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻓﻴﺼﻴﺒﻪ ﻣﻨﻪﻣﺜﻞ ﺍﻟﺰﻛﺎﻡ ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮ ﻓﻴﺨﺮﺝ ﻣﻦﻓﻤﻪ ﻭﺃﻧﻔﻪ ﻭﺃﺫﻧﻴﻪ ﻭﻋﻴﻨﻴﻪ ﻭﺑﺎﻗﻲﻣﻨﺎﻓﺬﻩ ﺣﺘﻰ ﻳﺼﻴﺮ ﺭﺃﺱ ﺃﺣﺪﻫﻢﻛﻌﺠﻞ ﺣﻨﻴﺬ ﺃﻱ ﻣﺸﻮﻱ ﻭﻻ ﻳﻨﺒﻐﻲﻷﺣﺪ ﺃﻥ ﻳﺘﺸﺒﻪ ﺑﺄﻫﻞ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﻭﻻ ﺃﻥﻳﺴﺘﻌﻤﻞ ﻣﺎ ﻫﻮ ﻣﻦ ﻧﻮﻉ ﻋﺬﺍﺏ ﻭﻻ ﻣﺎﻫﻮ ﻣﻦ ﻣﻼﺑﺲ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﺬﺍﺏ ﻛﺨﺎﺗﻢﺣﺪﻳﺪ ﺃﻭ ﻧﺤﺎﺱ ﻓﻔﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ »ﺃﻧﻬﻤﺎﺣﻠﻴﺔ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻨﺎﺭ « ﻭﻛﺎﻻﺳﺘﺘﺎﺭ ﻓﻲﺍﻟﺼﻼﺓ ﺑﺤﺠﺮ ﻭﺍﺣﺪ ﻭﻛﺎﻟﺰﻧﺎﺭ ﻭﺍﻟﻐﻴﺎﺭﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﻭﻛﺮﻩ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﺍﻟﺤﺎﺭ، ﻭﻗﺎﻝﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: »ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ-ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ- ﻟﻢ ﻳﻄﻌﻤﻨﺎ ﻧﺎﺭﺍ « ﻭﻟﻮﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻴﻪ ﺇﻻ ﺇﺣﻴﺎﺀ ﺳﻨﺔ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭﺍﻟﺬﻳﻦ ﺃﺧﺮﺟﻮﻩ ﻣﻦ ﺃﺭﺿﻬﻢ ﻷﺭﺽﺍﻹﺳﻼﻡ ﻟﻺﺿﺮﺍﺭ ﻓﻘﺪ ﺃﺧﺒﺮﻧﻲ ﺑﻌﺾﻣﺨﺎﻟﻄﻲ ﺍﻹﻧﻜﻠﻴﺰ ﺃﻧﻬﻢ ﻣﺎ ﺟﻠﺒﻮﻩ ﻟﺒﻼﺩﺍﻹﺳﻼﻡ ﺇﻻ ﺑﻌﺪ ﺇﺟﻤﺎﻉ ﺃﻃﺒﺎﺋﻬﻢ ﻋﻠﻰﻣﻨﻌﻬﻢ ﻣﻦ ﻣﻼﺯﻣﺘﻪ ﻭﺃﻣﺮﻫﻢﺑﺎﻻﻗﺘﺼﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻴﺴﻴﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﻳﻀﺮﻟﺘﺸﺮﻳﺤﻬﻢ ﺭﺟﻼ ﻣﺎﺕ ﺑﺎﺣﺘﺮﺍﻕ ﻛﺒﺪﻩﻭﻫﻮ ﻣﻼﺯﻣﻪ ﻓﻮﺟﺪﻭﻩ ﺳﺎﺭﻳﺎ ﻓﻲﻋﺮﻭﻗﻪ ﻭﻋﺼﺒﻪ ﻭﻣﺴﻮﺩﺍ ﻣﺦ ﻋﻈﺎﻣﻪﻭﻗﻠﺒﻪ ﻣﺜﻞ ﺳﻔﻨﺠﺔ ﻳﺎﺑﺴﺔ ﻭﻓﻴﻪ ﺛﻘﺐﻣﺨﺘﻠﻔﺔ ﺻﻐﺮﻯ ﻭﻛﺒﺮﻯ ﻭﻛﺒﺪﻩ ﻣﺸﻮﻳﺔﻓﻤﻨﻌﻮﻫﻢ ﻣﻦ ﻣﺪﺍﻭﻣﺘﻪ ﻭﺃﻣﺮﻭﻫﻢﺑﺒﻴﻌﻪ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻹﺿﺮﺍﺭﻫﻢ ﻓﻠﻮ ﻟﻢﻳﻜﻦ ﻓﻴﻪ ﺇﻻ ﻫﺬﺍ ﻟﻜﺎﻥ ﺑﺎﻋﺜﺎ ﻟﻠﻌﺎﻗﻞﻋﻠﻰ ﺍﺟﺘﻨﺎﺑﻪ، ﻭﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ »ﺍﻟﺤﻼﻝ ﺑﻴﻦ ﻭﺍﻟﺤﺮﺍﻡﺑﻴﻦ ﻭﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﻣﺘﺸﺎﺑﻬﺎﺕ ﻻ ﻳﻌﻠﻤﻬﻦﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻤﻦ ﺍﺗﻘﻰ ﺍﻟﺸﺒﻬﺎﺕﻓﻘﺪ ﺍﺳﺘﺒﺮﺃ ﻟﺪﻳﻨﻪ ﻭﻣﻦ ﻭﻗﻊ ﻓﻲﺍﻟﺸﺒﻬﺎﺕ ﻛﺎﻥ ﻛﺎﻟﺮﺍﺗﻊ ﺣﻮﻝ ﺍﻟﺤﻤﻰﻳﻮﺷﻚ ﺃﻥ ﻳﻘﻊ ﻓﻴﻪ .« ﻭﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: »ﺩﻉ ﻣﺎ ﻳﺮﻳﺒﻚﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﻻ ﻳﺮﻳﺒﻚ « ﻭﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: »ﺍﻹﺛﻢ ﻣﺎ ﺣﺎﻙﻓﻲ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﺃﻭ ﺣﺎﻙ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻔﺲ « ﻭﻻﺷﻚ ﺃﻥ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺍﻟﺪﺧﺎﻥ ﻣﻤﺎ ﺃﺭﺍﺏﻭﺃﻭﻗﻊ ﺍﻻﺿﻄﺮﺍﺏ ﻭﻟﻮ ﺳﺌﻞ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀﺍﻟﺬﻳﻦ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﺍﻟﺴﻔﻪ ﺍﻟﻤﻮﺟﺐ ﻟﻠﺤﺠﺮﺗﺒﺬﻳﺮ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﺬﺍﺕ ﻭﺍﻟﺸﻬﻮﺍﺕ ﻋﻦﻣﻼﺯﻡ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺍﻟﺪﺧﺎﻥ ﻟﻤﺎ ﺗﻮﻗﻔﻮﺍﻓﻲ ﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﺤﺠﺮ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻔﻬﻪ ﺛﻢﺍﻧﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﺗﺮﺗﺐ ﻋﻠﻰ ﺇﺿﺎﻋﺔﺍﻷﻣﻮﺍﻝ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻀﻴﻴﻖ ﻋﻠﻰﺍﻟﻔﻘﺮﺍﺀ ﻭﺍﻟﻤﺴﺎﻛﻴﻦ ﻭﺣﺮﻣﺎﻧﻬﻢ ﻣﻦﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺑﺸﻲﺀ ﻣﻤﺎ ﺃﻓﺴﺪﻩﺍﻟﺪﺧﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺘﺮﻓﻬﻴﻦ ﺑﻪ ﻭﺳﻤﺎﺣﺔﺃﻧﻔﺴﻬﻢ ﺑﺪﻓﻌﻬﺎ ﻟﻠﻜﻔﺎﺭ ﺍﻟﻤﺤﺎﺭﺑﻴﻦﺃﻋﺪﺍﺀ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﻣﻨﻌﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻹﻋﺎﻧﺔ ﺑﻬﺎﻋﻠﻰ ﻣﺼﺎﻟﺢ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﺳﺪ ﺧﻠﺔﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺟﻴﻦ، ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺃﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢﻭﻻ ﻳﺮﺗﺎﺏ ﻓﻴﻤﺎ ﻗﺮﺭﻧﺎﻩ ﺫﻭ ﺩﻳﻦ ﻭﻻﺻﺎﺣﺐ ﺻﺪﻕ ﻣﺘﻴﻦ ﻓﺨﺬ ﻣﺎ ﺁﺗﻴﺘﻚﻭﻛﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺎﻛﺮﻳﻦ ﻭﺳﻨﻠﺘﻘﻲ ﻣﻊ ﻣﻦﺧﺎﻟﻔﻨﺎ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻳﻮﻡ ﻳﻘﻮﻡ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻟﺮﺏﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻳﻮﻡ ﺗﺒﻠﻰ ﺍﻟﺴﺮﺍﺋﺮ، ﻭﺗﻈﻬﺮﺍﻟﻤﺨﺒﺂﺕ ﻟﻸﺑﺼﺎﺭ ﻭﺍﻟﺒﺼﺎﺋﺮ ﻭﺗﻮﺍﺗﺮﺕﺍﻷﺧﺒﺎﺭ ﺑﺄﻥ ﺍﻟﺘﺠﺮ ﻓﻴﻪ ﻣﻘﺮﻭﻥﺑﺎﻟﺨﺴﺎﺭﺓ ﻭﻣﻤﺎ ﺟﺮﺑﻪ ﺃﻫﻠﻪ ﺃﻥ ﺷﺎﺭﺑﻪﻻ ﻳﻨﻔﻚ ﻋﻦ ﺍﻟﻜﺪﺭ ﻭﺍﻟﺤﺰﻥ ﻭﺳﻮﺀﺍﻟﺨﻠﻖ ﻭﺃﺧﺬﺍ ﻟﻬﻢ ﺑﻨﻔﺴﻪ ﻣﺎ ﺩﺍﻡ ﺃﺛﺮﻩﻣﻌﻪ ﻭﺃﻧﻪ ﻳﻮﺭﺙ ﺍﻟﺠﺒﻦ ﻭﺍﻟﺨﻮﺭﻭﺍﻟﻨﺴﻴﺎﻥ .(-3

Hukum merokok ada beberapa pendapat di kalangan ulama’ :
1. Boleh/mubah, dengan pertimbangan tidak ada dalil yang mengharamkannya dengan jelas dan tidak berbahaya pada kesehatan serta bukan termasuk muskir (perkara yang memabukkan) atau mukhoddir (merusak pikiran).
2. Makruh, dengan pertimbangan tidak ada dalil yang mengharamkannya dengan jelas, hanya bau yang tidak sedap dari mulut orang yang mengkonsumsinya sebagaimana bawang merah atau bawang putih yang mentah.
3. Wajib, jika membahayakan jiwa ketika tidak merokok.
4. Haram, dengan pertimbangan sebagai berikut :
a. Rokok dapat membahayakan kesehatan, menurut kesepakatan para dokter menyebabkan kanker, jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Ajaran islam memerintahkan untuk selalu menjaga diri dan meninggalkan segala yang membahayakan, sebagaimana firman Allah SWT :

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (195)

“ dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (al-baqarah :195)

Dan hadits Rasulullah SAW :
” لَا ضَرَرَ وَلَا ضَرَارَ “.

“ Tidak boleh ada bahaya, dan tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan”

b. Pembelajaan harta untuk sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan membahayakan kesehatan. Hal ini adalah bentuk isrof atau tabdzir (pemborosan) harta yang diharamkan, sebagaimana firman Allah SWT :

:وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (27)

“ Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”, (al-Isra’ : 26-27)

c. Dapat merubah mental dan watak pecandunya.


KETERANGAN :

Pendapat pertama, rokok adalah mubah karena tidak membahayakan kesehatan, maka telah menjadi maklum secara medis bahwa rokok sangat berbahaya untuk kesehatan baik dalam jangka waktu dekat atau lama. Sedangkan mengkonsumsi sesuatu yang membahayakan kesehatan haram menurut kesepakatan ulama’.

Pendapat kedua, rokok adalah makruh karena tidak ada dalil tegas yang mengharamkannya. Oleh karena itu, jika membahayakan, maka berubah hukum menjadi haram, bahkan wudhu’ yang wajib pun menjadi haram jika membahayakan.

Pendapat ketiga, rokok wajib ketika membahayakan jika ditinggalkan. Sesungguhnya pendapat ini hanyalah wacana yang berlaku ketika benar-benar terjadi sebagaimana keadaan di atas. Oleh karena itu, tidak bisa digunakan sebagai dalil kebolehan merokok, bahkan makan bangkai menjadi wajib jika tidak memakannya akan mati.

Pendapat terakhir, rokok haram. Pendapat ini menurut kami lebih berhati-hati (ihtiyath) dan untuk menjaga kesehatan, nikmat yang teramat mahal, serta menghindari dari pemborosan (isrof). Allah SWT berfirman :

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ (215)

“ Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (al-baqarah: 215).

Oleh karena itu, alangkah indah dan elok bagi orang yang tidak merokok, utamanya kalangan ustadz, ulama’ dan tokoh agama untuk menjadi contoh bagi awam meninggalkan hal-hal yang tidak berguna bahkan merugikan diri, agama dan harta. Rasulullah SAW bersabda :

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ ، رواه الترمذي واحمد

“ Termasuk kesempurnaan islam pada seseorang adalah meninggalkan segala yang tidak manfaat (dalam agama) baginya “ (H.R. Tirmidzi dan Ahmad).

Namun sangatlah ironis sekali pada zaman sekarang, orang-orang yang menjadi uswah / tauladan bagi umat memberikan contoh yang tidak positif dan tidak bernilai ibadah bahkan karena, mereka anak-anak yang belum baligh pun dengan bebasnya menghisap rokok. Siapakah yang akan bertanggung jawab di hadapan Allah nanti di hari kiamat ? Al Habib Abdullah bin Umar as-Syathiri berkata :

تَسْتَحْسِنُ التُّنْــبَاكَ فِي فِيْكَ وَتَسْـ # تَحْيِي بِأَنْ تَسْتَعْمِلَ الْمِسْوَاكَا
Kamu menilai bagus rokok di mulutmu, namun kamu malu menggunakan siwak.

وَالشَّرْعُ ثُمَّ الطِّبُّ قَدْ نَهَيَاكَ عَنْ # ذَاكَ الْأَذَى وَبِفِعْلِ ذَا اَمَــرَاكَا
Padahal syari’at dan medis benar-benar telah melarangmu dari penyakit (rokok) itu, dan dengan menggunakan siwak keduanya (syari’at dan medis) menganjurkanmu.

لَوْ كُنْتَ تَعْكِسُ فِي الْقَضِيَّةِ كَانَ اَوْ # لَى مِنْكَ لَكِنَّ اللَّعِيْنَ اَغْـوَاكَا
Jika kamu membalik kejadian di atas, maka lebih baik bagimu, namun yang terkutuk (syetan) telah menyesatkanmu.

فَلكَمْ اَضَعْـتَ بِهِ نَفِيْسَ اْلمـَالِ لَوْ # اَنْفَقْتَهُ يَا صَاحِ فِي اُخْـَـراكَا
Berapa banyak engkau hamburkan harta yang bernilai, seandainya saja engkau sedekahkan -wahai sahabatku- untuk kebahagiaan akhiratmu.

260/بغية المسترشدين(مسألة) : التنباك معروف من أقبح الحلال إذ فيه إذهاب الحال والمال، ولا يختار استعماله أكلاً أو سعوطاً أو شرباً لدخانه ذو مروءة من الرجال، وقد أفتى بتحريمه أئمة من أهل الكمال كالقطب سيدنا عبد الله الحداد والعلامة أحمد الهدوان، كما ذكره القطب أحمد بن عمر بن سميط عنهما وغيرهم من أمثالهم، بل أطال في الزجر عنه الحبيب الإمام الحسين ابن الشيخ أبي بكر بن سالم وقال: أخشى على من لم يتب عنه قبل موته أن يموت على سوء الخاتمة والعياذ بالله تعالى. وقد أشبع الفصل فيه بالنقل العلامة عبد الله باسودان في فيض الأسرار وشرح الخطبة وذكر من ألف في تحريمه كالقليوبي وابن علان وأورد فيه حديثاً، وقال الحساوي في تثبيت الفؤاد من كلام القطب الحداد أقول: ورأيت معزواً لتفسير المقنع الكبير قال النبي : «يا أبا هريرة يأتي أقوام في آخر الزمان يداومون هذا الدخان وهم يقولون نحن من أمة محمد وليسوا من أمتي ولا أقول لهم أمة لكنهم من السوام» قال أبو هريرة: وسألته : كيف نبت؟ قال: «إنه نبت من بول إبليس، فهل يستوي الإيمان في قلب من

يشرب بول الشيطان؟ ولعن من غرسها ونقلها وباعها» . قال عليه الصلاة والسلام: «يدخلهم الله النار وإنها شجرة خبيثة» اهـ ملخصاً اهـ. ورأيت بخط العلامة أحمد بن حسن الحداد على تثبيت الفؤاد: سمعت بعض المحبين قال: إن والدي يشرب النتن خفية وكان متعلقاً ببعض أكابر آل أبي علوي، فلما مات رأيته فسألته: ما فعل الله بك؟ قال: شفع فيَّ فلان المتقدم إلا في التنباك فهو يؤذيني وأراني في قبره ثقباً يجيء منه الدخان يؤذيه وقال له: إن شفاعة الأولياء ممنوعة في شرب التنباك. وقال لي بعضهم: رأيت والدي وكان صالحاً لكنه كان ينشق التنباك، فرأيته بعد موته قال: إن الناشق للتنباك عليه نصف إثم الشارب فالحذر منه اهـ. وقال الولي المكاشف للشريف عبد العزيز الدباغ: أجمع أهل الديوان من الأولياء على حرمة هذا النتن الخ

فائدة : قال السيوطي في الأشباه والنظائر: قال بعضهم مراتب الأكل خمس: ضرورة، وحاجة، ومنفعة، وزينة، وفضول. فالضرورة بلوغه إلى حدّ إذا لم يتناول الممنوع هلك أو قارب وهذا يبيح تناول الحرام. والحاجة كالجائع الذي لو لم يجد ما يأكله لم يهلك غير أنه يكون في جهد ومشقة وهذا لا يبيح الحرام. والزينة والمنفعة كالمشتهي الحلوى والسكر والثوب المنسوج بالحرير والكتان. والفضول كالتوسع بأكل الحرام والشبهات

الموسوعة الطبية الفقهية ص 183- 184أحكام تدخين التبغ :مشروعية التدخين : لقد ذهب الفقهاء في حكم تدخين التبغ مذاهب شتى لأنه لا نص فيه, وذلك على النحو الأتي :

تحريم التدخين : ذهب بعضهم إلى تحريمه لأنه يسكر في ابتداء تعاطيه إسكارا سريعا, ثم لايزال في كل مرة ينقص شيئا فشيئا حتى يطول الأمد جدا فيصير لايحس به, لكنه يجد نشوة وطربا أحسن عنده من السكر, وأنه يترتب على شربه الإضرار بالبدن, وأن الأطباء أجمعوا على ضرره وثبت عندهم أنه يسبب الكثير من الأمراض مثل سرطانات الرئة والحنجرة واللسان والشفتين والمثانة, كما يسبب الضعف الجنسي, وفيه إضاعة للمال وتبذير منهي عنه .. وقد نص المالكية على تحريمه وكذلك فعل المؤتمر العالمي الإسلامي لمكافحة المسكرات والمخدرات, الذي عقد في الجامعة الإسلامية بالمدينة المنورة في 30/ 5/ 1402 هـ حيث أصدر فتوى بحرمة استعمال التبغ للأضرار التي ذكرناها

إباحة التدخين : وذهب بعضهم إلى إباحته لأنه لم يثبت إسكاره ولاتخديره, مع أن الذي يشربه في البداية يصيبه شيئ من الغشي لكنه لايوجب التحريم, لأن الأصل في الأشياء الإباحة حتى يرد نص بالتحريم فيكون التبغ مباحا جريا على قواعد الشرع وعمومياته
كراهة التدخين : وذهب أكثرهم إلى كراهته لعدم ثبوت أدلة التحريم, وكرهوه لكراهة رائحته قياسا على البصل النيئ والثوم ونحوه.
أما من الوجهة الطبية فإننا نميل إلى كراهته كراهة تحريم لما ثبت من أضراره الشديدة على صحة الفرد والمجتمع, وجريا على قاعدة : لا ضرر ولاضرار, ولأنه لم يثبت أن له أية فوائد صحية, وأما ما يدعيه المدخنون من فوائد نفسية للتدخين وأنه يريح الأعصاب ويبهج النفس وغير ذلك من الدعاوى الباطلة فلا تعدو أن تكون أوهاما وتزيينا من الشيطان الذي لايكف عن الكيد لبني أدم ليرديهم ويوقعهم في الإثم والضرر

مع الناس / 2/ 39 للشيخ محمد سعيد رمضان البوطيما حكم بيع الدخان ؟ حكم التبغ من حيث تعاطيه والتعامل المالي به يتبع قرار الأطباء في اثره على جسم الإنسان ومن المعلوم ان اطباء العالم متفقون على انه يسبب اضرارا متنوعة في جسم الشخص الذي يتعاطاه اذن فالشرع يقرر وجوب تجنبه وحرمة استعماله، وكل ما حرم بيعه وشراؤه والقاعدة الشرعية في ذلك وهي حديث رسول الله r ” لا ضرر ولا ضرار

حاشية البجيرمي على الخطيب – (ج 6 / ص 440)
قَوْلُهُ : ( وُصُولُ دُهْنٍ ) وَمِنْهُ دُخَانٌ لَا عَيْنَ فِيهِ كَالْبَخُورِ ، بِخِلَافِ مَا فِيهِ عَيْنٌ كَالدُّخَانِ الْمَشْهُورِ الْآنَ ق ل . وَعِبَارَةُ عَبْدِ الْبَرِّ : وَمِنْهُ يُؤْخَذُ أَنَّ وُصُولَ الدُّخَانِ الَّذِي فِيهِ رَائِحَةُ الْبَخُورِ أَوْ غَيْرِهِ إلَى جَوْفِهِ لَا يَضُرُّ وَإِنْ تَعَمَّدَ فَتْحَ فِيهِ لِذَلِكَ ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ عَيْنًا ، أَيْ فِي الْعُرْفِ ، وَأَمَّا الدُّخَانُ الْحَادِثُ الْآنَ الْمُسَمَّى بِالنَّتِنِ لَعَنَ اللَّهُ مِنْ أَحْدَثَهُ فَإِنَّهُ مِنْ الْبِدَعِ الْقَبِيحَةِ ، فَقَدْ أَفْتَى شَيْخُنَا الزِّيَادِيُّ أَوَّلًا بِأَنَّهُ لَا يُفْطِرُ لِأَنَّهُ إذْ ذَاكَ لَمْ يَكُنْ يَعْرِفُ حَقِيقَتَهُ ، فَلَمَّا رَأَى أَثَرَهُ بِالْبُوصَةِ الَّتِي يَشْرَبُ بِهَا رَجَعَ وَأَفْتَى بِأَنَّهُ يُفْطِرُ

حاشية البجيرمي على الخطيب – (ج 13 / ص 200)
( وَيَحْرُمُ مَا يَضُرُّ الْبَدَنَ أَوْ الْعَقْلَ ) وَمِنْهُ يُعْلَمُ حُرْمَةُ الدُّخَانِ الْمَشْهُورِ لِمَا نُقِلَ عَنْ الثِّقَاتِ أَنَّهُ يُورِثُ الْعَمَى وَالتَّرَهُّلَ وَالتَّنَافِيسَ وَاتِّسَاعَ الْمَجَارِي . ا هـ . ق ل وَقَوْلُهُ : مَا يَضُرُّ الْبَدَنُ قَالَ الْأَذْرَعِيُّ : الْمُرَادُ الضَّرَرُ الْبَيِّنُ الَّذِي لَا يُحْتَمَلُ عَادَةً لَا مُطْلَقُ الضَّرَرِ شَوْبَرِيٌّ .

تحفة الأحوذي – (ج 4 / ص 416)
تَنْبِيهٌ : اِعْلَمْ أَنَّ بَعْضَ أَهْلِ الْعِلْمِ قَدْ اِسْتَدَلَّ عَلَى إِبَاحَةِ أَكْلِ التُّنْبَاكِ وَشُرْبِ دُخَانِهِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى { وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا } وَبِالْأَحَادِيثِ الَّتِي تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْأَصْلَ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةُ . قَالَ الْقَاضِي الشَّوْكَانِيُّ فِي إِرْشَادِ السَّائِلِ إِلَى أَدِلَّةِ الْمَسَائِلِ بَعْدَمَا أَثْبَتَ أَنَّ كُلَّ مَا فِي الْأَرْضِ حَلَالٌ إِلَّا بِدَلِيلٍ مَا لَفْظُهُ : إِذَا تَقَرَّرَ هَذَا عَلِمْت أَنَّ هَذِهِ الشَّجَرَةَ الَّتِي سَمَّاهَا بَعْضُ النَّاسِ التُّنْبَاكَ وَبَعْضُهُمْ التوتون لَمْ يَأْتِ فِيهَا دَلِيلٌ يَدُلُّ عَلَى تَحْرِيمِهَا وَلَيْسَتْ مِنْ جِنْسِ الْمُسْكِرَاتِ وَلَا مِنْ السُّمُومِ وَلَا مِنْ جِنْسِ مَا يَضُرُّ آجِلًا أَوْ عَاجِلًا ، فَمَنْ زَعَمَ أَنَّهَا حَرَامٌ فَعَلَيْهِ الدَّلِيلُ وَلَا يُفِيدُ مُجَرَّدُ الْقَالِ وَالْقِيلِ اِنْتَهَى .

بغية المسترشدين(مسألة: ك): قال: لم يرد في التنباك حديث عنه ولا أثر عن أحد من السلف، وكل ما يروى فيه من ذلك لا أصل له، بل مكذوب لحدوثه بعد الألف، واختلف العلماء فيه حلاً وحرمة، وألفت فيه التآليف، وأطال كل في الاستدلال لمدعاه، والخلاف فيه واقع بين متأخري الأئمة الأربعة، والذي يظهر أنه إن عرض له ما يحرمه بالنسبة لمن يضره في عقله أو بدنه فحرام، كما يحرم العسل على المحرور والطين لمن يضره، وقد يعرض له ما يبيحه بل يصيره مسنوناً، كما إذا استعمل للتداوي بقول ثقة أو تجربة نفسه بأنه دواء للعلة التي شرب لها، كالتداوي بالنجاسة غير صرف الخمر، وحيث خلا عن تلك العوارض فهو مكروه، إذ الخلاف القوي في الحرمة يفيد الكراهة

Kami sebenarnya ada di tengah-tengah di antara dua pendapat mengenai rokok. Menerima yang mengharamkan sekaligus yang membolehkan. Mengapa kami selalu lampirkan ibarah, kisah tentang keburukan merokok karena Jika menanyakan sebuah hukum yang khilafiyyah semacam ini maka kedua sisi mesti seimbang, dan kami rasa hanya kami yang menyertakan sisi-sisi keharamnnya, mengapa kami kekeh demikian, karena pertanyaan SAIL nantinya pun mesti dirumuskan jawabannya sesuai dengan kenyataan KHILAF nya merokok. Keseimbangan demikian yang kami inginkan. Kami takutnya nanti hanya disimpulkan dari sisi makruh dan jaiz nya saja, ini tentu tidak bisa diterima.

Kami menerima kedua-dua pendapat baik yang membolehkan ataupun yang mengharamkan. Karena kedua -duanya keluar dari para ulama yang mu'taman yang meskipun bukan mujtahid tetapi pendapat para ulama yang rutbahnya Mufti bisa dipegang, sebagaimana seorang mufti tiada sah menjadi mufti kecuali telah mengusai asas-asas dalam mazhabnya..

Pendapat bahwa mufti setelah era Ibnu Hajar itu tidaklah lebih dari seorang Naaqil Qaul 'Anil Madzhab, itu baru asumsi sebagian ulama mengenai rutbatul ifta', malah dalam ranah ijtihad mutlaq pun ulama berbeda pendapat apakah telah hilang ataupun tidak ? Sesungguhnya derajat Mufti bukanlah sekedar naqlul aqwal saja, jika kita banyak mengenal sosok-sosok yang diutarakan dalam Kitab-Kitab semacam NURUS SAFIR atau kitab mutakhirin yang lain. Alhabib Abibakar bin Abdullah Al Aidarus Al Adaniy menyatakan dirinya mencapai Rutbatul Ijtihad. Suatu saat ketika seorang murid mengisykali pendapat Alhabib Thahir bin Husan dan si murid berkata : Ya Syeikh, pendapat tuan itu bertentangan dengan pendapat Ibnu Hajar. Alhabib berkata : Kamu itu lebih memilih pendapatnya Ibnu HAJAR atau IBNU BASYAR ? Intinya Wafauqo dzu 'ilmin 'alim, di atas langit masih ada langit.

Kalau kita bisa menerima pendapat Syeikh Ibnu Hajar alHaytami mengapa kita tidak menerima pendapat Al Adaniy ? Mereka satu zaman, sama-sama mumpuni keilmuannya ? Artinya dalam derajat kita menerima pendapat yang membolehkan merokok pada saat yang sama dan derajat yang sama pula kita mesti menerima pendapat yang mengharamkannya. Dan keduanya ini sama-sama populer di kalangan ulama. Tetapi di kalangan mutaakhirin Syafi'iyyah memang lebih condong mengharamkannya. Adapun ulama kontemporer di zaman global ini seperti Abuya al Malikiy, Shulthonul Ulama As Syathiriy mereka dengan keras mengharamkannya, sebagaimana fatwa guru-guru mereka...

Yang bikin rokok berbahaya bukan nikotinnya, tetapi zat additifnya, kenikmatannya yang memabukkan hati, jika hati sudah termabukkan oleh selain Alloh maka hati tiada kan bisa mengenal Alloh, wainna abadan nasi laqolbun qosi. Jadi jika anda merokok tetapi hati anda tidak taalluq, cinta dan tergantung wa termabukkan dengan rokok maka silahkan, tetapi jika tidak, anda dalam bahaya yang teramat besar, sedikit sekali seseorang yang bisa terhindar dari candu rokoknya, karena demi Alloh, rokok itu nikmat sekali bagi pecandunya...

Nilai lebih Hukum MAKHDHUR buat Rokok dibanding Jaiz. Jika ulama yang memperbolehkan merokok dengan dasar kaedah-kaedah Fikih maka pada manhaj yang sama Ulama yang mengharamkan rokok pun dengan kaedah-kaedah fikihnya pula. Tetapi nilai plus yang mengharamkan adalah : MEREKA DIDUKUNG OLEH PARA ULAMA YANG TELAH DIYAKINI KEDEKATANNYA DENGAN ALLOH [ para Auliya' Agung] seperti Al Haddad, muallif Nashoih, Ad Dabbagh [ Seorang Aqthob dari Maghrib] dan masih banyak lagi. Dan juga yang melarang rokok pun dikuatkan oleh mimpi-mimpi shadiqoh yang menyatakan Rasululloh tidak menyukai rokok dan hal sedemikian itu tidak ditemukan di kalangan yang memperbolehkannya.

KISAH SEPUTAR ROKOK DAN ULAMA

Pengarang Is'adur Rafiq Syaikh Sa'id Babushail menyatakan bahwa siapa yang merokok dan 40 hari sebelum meninggal dunia dia belum bertaubat dari dosa merokoknya maka dihawatirkan dia meninggal dalam keadaan SU'Il KHOTIMAH.

Qola Sayyidiy : Wa roaytun nabi Shallollohu alaihi wasallama khorijan min ba'dhil buyut fi Syiwun fasaltuhu faqola Ji'u liakhdhura maulidan fi hadhad dari lakin Roaytu fihit Tambak fakhorojtu. Al Imam Ahmad bin Hasan Al Athos berkata : aku bermimpi melihat Rasululloh SAW keluar dari satu rumah di kota Sewun lalu aku bertanya apa sebab, beliau menjawab : " Aku datang ke rumah ini untuk mengikuti Maulidan, tetapi aku lihat di situ ada rokok maka akupun keluar ". [ KITAB TAZKIRUNNAS hal 270 ]. Bersedekah kok sesuatu yang tidak disukai kanjeng nabi ? Bersedekah mestinya yang baik-baik saja. YAA AYYUHAL LADHINA AMANU ANFIQUU MIN THOYYIBATI MA ROZAQNAKUM.

Masih tentang rokok : Suatu saat seorang syarif memasuki Kubbatul Hadhro dan hendak berziarah ke makam datuknya yakni Baginda nabi SAW, begitu ziarah, tiba-tiba datang sang juru kunci dan berkata kepadanya : "Tuan, saya baru saja tertidur dan bermimpi bertemu dengan Rasululloh SAW. beliau berkata kepada saya : Ya Fulan, bangkit dan bilang kepada cucuku yang sedang berziarah itu, Aku, Kakeknya tidak akan pernah menerima kehadiran dirinya sampai dia membuang bungkus rokok dari dalam saku bajunya..". Maka mendengar perkataan itu Sang Syarif menangis hebat dan serta-merta membuang rokok nya dan bertaubat atas kesalahannya. Bagi dirinya, tiada kemuliaan apapun jika Rasululloh enggan bersama nya. ternyata meskipun Rokok itu makruh hukumnya, Rasululloh tidak meridhoinya. Jadi sesungguhnya yang jadi masalah itu bukan masalah makruh haramnya, tetapi RASULULLOH tidak menyukainya. Ah, Adakah sesuatu itu berharga jika Rasululloh tidak menyukainya ?

Mengapa ROKOK tidak ada Nash yang shorih sebagaimana KHAMR, karena keberadaan rokok baru ditemukan sesudah abad ke 10 hijriyyah. Qola as Syaikh Abdulloh Ba saudan rohimahullohu ta'ala, Wakullu ma dhukiro fil KHASYI_SYI minal khoba-its wal 'ilali yadh-haru 'ala musta'malit tanbaqi warubbama LAU ADROKAS SYAIKH IBNU HAJAR ROHIMAHULLOHU KHUDU-TSAHU LAQODHO BIHA 'ALAYHI, idh lam yukhdats illa ba'dal Qornil 'assyir. [ Is'adurrofiq Juz 2 Hal 63 ]. Kata Syaikh Basaudan, Andai Imam Ibnu Hajar Alhaytami menemui masa ditemukannya rokok maka beliau akan MENGHARAMKANNYA, karena rokok baru muncul sesudah abad ke 10.

Diceritakan, suatu Saat Al Habib Abdulloh bin Umar bin Yahya saat beliau sampai ke Makkah dan beliau melihat seorang Ulama yang merokok di sana beliau menegur : " Hal semacam ini tidak patut dilakukan oleh seorang Ahli Ilmu. Merokok ini bid'ah yang buruk. Hati-hati yang muthmainnah pasti menolaknya. Dan akal yang sehat pun tiada bisa menerimanya." Ulama itu membantah : " Qahwah yang kalian anjurkan itupun Bid'ah!". Habib menjawab : " Baiklah kamu berkata begitu. Sekarang mari kita bersama-sama menuju Hijir Isma'il. Masing-masing kita mengeluarkkan bid'ah kita masing-masing. Saya akan menyeduh kopi di sana dan engkau menghisaplah rokok disana pula. Maka dimana para kaum muslimin akan mengingkari dan tidak menyukai perbuatan di antara kita maka perbuatan dialah yang keliru..." Dan Habib pun mengalahkan hujjah Ulama tersebut dengan hujjah-hujjah 'aqliyyah belaka dan membuat sang ulama kembali ke jalan lurus sesudahnya. [ Tazkirun Nas Hal 270 ].

Ada Cerita nyata lain : Beliau adalah seorang Ulama, yang mana beliau selalu Istiqomah melakukan sholat malam (Tahajud), beliau mulai tidur jam 23.00 dan bangun jam 02.00, namun sebelum tidur Beliau menyiapkan SESUATU, supaya waktu Bangun badan seger dan tidak merasa ngantuk lagi dan dapat menjalankan Sholat malam tersebut dengan penuh KHUSYU', nah apakah sesuatu itu..!? sesuatu itu adalah KOPI dan TEMBAKAU LINTINGAN. Beliau adalah Ulama Besar era tahun 70, yang membuat Konsep "al istiqoomah khoiru min alfi karoomah". Jangankan mimpi, dalam keadaan nyata pun diriwayatkan Beliau Sering ditemui Rosululloh saw.

Sebenarnya banyak cerita tentang para Masyayikh kita yang merokok, tetapi dengan penghormatan besar kami kepada mereka kami lihat titik lemah cerita-cerita para beliau ada pada perawinya, tidak demikian dengan cerita dalam kitab yang shahih perawi dan pentashihnya. Tentang Syaikh Alfadani, perlu diluruskan jika beliau sama sekali tidak pernah menghisap tembakau [tambak] seumur hidup beliau tetapi yang beliau hisap adalah SYISYA. Wallohu a'lam. [Brojol Gemblung, Abdur Rahman Assyafi'i, SandalKayu HilangSatu, Ghufron Bkl, Sunde Pati, -Boim Nizta- 多回个从 الخواص, Ibnu Lail, Yazid Anwar, Abdurrofik Ingin Ridlo Robby, Hasyim Toha, Abu Zaki, Pedagang Roti, Ja'fu Hdr, Muhajir Madad Salim].

LINK ASAL :
www.fb.com/groups/piss.ktb/579667422056070
.

PALING DIMINATI

Back To Top