Bismillahirrohmaanirrohiim

2063. HUKUM MENDO'AKAN SESEORANG DALAM SHALAT DENGAN NAMA SELAIN ARAB

PERTANYAAN :
Assalamu`alaykum. Mau tanya, pernah dengar tentang riwayat Imam Ahmad bin Hanbal Rah yang selalu mendoakan Imam Syafi'i RA.
1. Itu dalam shalat atau setelah shalat ?
2. Kalau dalam shalat, apakah boleh berdoa dengan mengucapkan nama seseorang ?
3.Untuk kasus Imam Syafi'i, mungkin namanya masih ada unsur bahasa Arab'nya, lalu bagaimana jika nama tersebut bukan dari nama Arab, misal : doa dalam sujud terakhir " Allaahumaghfurli wa li ustadz Tukijo", apakah itu termasuk mengucap kata-kata selain bacaan shalat yang berpotensi membatalkan shalat ? Mohon pencerahan. [Si Trexz].
JAWABAN :
Wa'alaikumussalam. Berdo'a di dalam sholat, hukumnya boleh dan tidak membatalkan sholat, boleh untuk semua do'a-doa yang diperbolehkan di luar waktu sholat, baik baik urusan dunia ataupun urusan akhirat. Ibarot (AL-MAJMU') :
فرع: قد سبق في فصل تكبيرة الإحرام بيان حكم الدعاء بغير العربية فيما يجوز الدعاء به في الصلاة. مذهبنا أنه يجوز أن يدعو فيها بكل ما يجوز الدعاء به خارج الصلاة من أمور الدين والدنيا وله: اللهم ارزقني كسباً طيباً وولداً وداراً وجارية حسناء يصفها، واللهم خلص فلاناً من السجن وأهلك فلاناً وغير ذلك. ولا يبطل صلاته شيء من ذلك عندنا،
Imam Muslim dalam kitab shahihnya (juz II halaman 134, hadits nomor 1572) meriwayatkan :
حَدَّثَنِى أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى قَالاَ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِى يُونُسُ بْنُ يَزِيدَ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِى سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَأَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنَّهُمَا سَمِعَا أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ حِينَ يَفْرُغُ مِنْ صَلاَةِ الْفَجْرِ مِنَ الْقِرَاءَةِ وَيُكَبِّرُ وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ « سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ». ثُمَّ يَقُولُ وَهُوَ قَائِمٌ « اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِى رَبِيعَةَ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ كَسِنِى يُوسُفَ اللَّهُمَّ الْعَنْ لِحْيَانَ وَرِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَتِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ». ثُمَّ بَلَغَنَا أَنَّهُ تَرَكَ ذَلِكَ لَمَّا أُنْزِلَ (لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَىْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ
......Adalah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam ketika selesai membaca (Al Fatihah....) dalam shalat fajar, beliau bertakbir, beliau mengangkat kepalanya, maka beliau mengucapkan : SAMI'ALLAAHU LIMAN HAMIDAH RABBANAA WALAKAL HAMD
Kemudian beliau mengucapkan dalam keadaan berdiri : ALLAAHUMMA ANJI AL WALIID IBN AL WALIID WA SALAMAH IBN HISYAAM WA 'AYYAASY IBN ABII RABII'AH..... (ya Allah, selamatkanlah Walid bin Walid, Salamah bin Hiysam dan Ayyasy bin Abu Rabi'ah............).
Imam Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan:
قوله : ( كان رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يقول حين يفرغ من صلاة الفجر من القراءة ويكبر ويرفع رأسه : سمع الله لمن حمده ربنا ولك الحمد ، ثم يقول : اللهم أنج الوليد بن الوليد ) إلى آخره فيه استحباب القنوت والجهر به ، وأنه بعد الركوع ، وأنه يجمع بين قوله : ( سمع الله لمن حمده ) ( وربنا لك الحمد ) . وفيه : جواز الدعاء لإنسان معين وغير معين
.......WA FIIHI JAWAAZUDDU'AA`I LI INSAANIN MU'AYYANIN WA GHAIRI MU'AYYANIN..... dan di dalam ucapan KAANA RASUULULLAAH SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM ....ALLAAHUMMA ANJI AL WALIIDA IBNA AL WALIIDI, diperbolehkannya berdoa untuk orang yang ditentukan dan yang tidak ditentukan.
Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata : Tidaklah aku shalat sejak 40 tahun kecuali saya mendoakan Imam Syafi'iy RA.
يقول الإمام احمد بن حنبل : ما صليت صلاة منذ أربعين سنة إلا وأنا أدعو للشافعي رحمه الله
KESIMPULAN :
Berdoa dalam shalat (dalam kasus sya adalah ketika sujud terakhir), dengan menyebutkan nama seseorang, baik nama Arab maupun Ajam adalah dibolehkan dan tidak membatalkan shalat... karena penyebutan nama tersebut tidak termasak kata-kata di luar bacaan shalat.
Doa di dalam sholat ada dua macam :
1. Do'a yang ma'tsur.
2. Do'a ghairu ma'tsur.
Do'a do'a tersebut tidak membatalkan sholat, sebagaimana contoh-contoh dalam ibarot MAJMU' diatas dan juga contoh dalam Hadits Yai Afif diatas. Kalau di luar konteks doa, maka menyebut nama orang baik bhs arab atau bhs ajam, tetap batal. Kemudian Nama orang yang Ajami dalam bahasa Arab tetap dilafazhkan sebagaimana nama Ajami, karena dalam kaidah bahasa arab disebut ISIM 'ALAM yang tak bisa dirubah. [Susilo Bambang Yudhoyono, Ibnu Toha, Abdullah Afif, Si Trexz].
Link Asal :

www.fb.com/groups/piss.ktb/494591147230365/
.

PALING DIMINATI

Back To Top