Bismillahirrohmaanirrohiim

1965. SIFAT KEAMPUHAN KERIS PUSAKA SAKTI DARI SISI TAUHID

P E R T A N Y A A N :
Keris adalah peninggalan bersejarah di jawa. Bagaimana hukumnya percaya pada keris, bahwa keris itu punya kekuatan ? tetapi memang sudah terbukti bahwa keris itu punya kekuatan karena ada khodam di dalamnya,, dan tidak diketahui pakah khodamnya itu setan atau jin kafir atau yang lain, yang pasti keris itu terbukti ampuh, semisal, orang yang megang keris tersebut menjadi kebal tidak mempan pokulan berat dan senjata tajam. Bagaimana hukumnya percaya keris tersebut yang mempunyai kekuatan ? Dan bagaimana hukumnya memakai keris untuk berobat dengan keris yang mempunyai kekuatan bisa menyembuhkan ? Mohon keterangan yang detail dan jelas bukan cuman ibarot saja. Terimakasih. [Amien Rowie].
J A W A B A N :
Yang BENAR adalah kita percaya bahwa semua dzat selain Dzat ALLAH tidak berhasiat apapun, sebab ALLAH bersifat WAHDANIYAT FIL 'AF'AL, FISH-SHIFAT dan FIDZ-DZAT. Kalaupun ada kejadian pada waktu membawa keris tahan tembak, misalnya. Kebal misalnya, itu semata-mata dikebalkan oleh-Nya yang bersamaan / MUQOORONAH dengan membawa keris itu. Begitu juga Tongkat Nabi Musa. Kehebatannya bukan dari watak tongkat itu sendiri, tapi pada sejatinya dari-Nya.
Kita berpaku pada sebuah ayat " WALLAAHU KHOLAQOKUM WA MAA TA'MALUUNA " Mengapa KAMI katakan. " Orang yang beri'tiqod bahwa keris itu berkhasiat dikarenakan watak keris itu sendiri adalah KAFIR " karena ALLAH Wahdaniyat fil 'af'al, fish-shifat dan fidz-Dzat. Kita hanya memahami darì sifat Wahadiyyat-Nya, gusti ALLAAH, yang menafikan kam yang 5 itu, dari sebuah kitab Syarh Kifayatul 'awam. Memang semuanya dan pastinya semua dari-Nya, dan juga tidak ada pekerjaan dan khasiat apapun kecuali dari-Nya, dan juga tak ada satupun pekerjaan yang pada hakikatnya adalah pekerjaan makhluk, melainkan pekerjaan itu adalah pekerjaan ALLAH Semata.
Jika ada orang bekerja maka pekerjaan itu sebenarnya pekerjaan ( yang diciptakan ) oleh-Nya. Walaahu kholaqookum wa maa ta'maluuna. MEMANG sebab musabbab dan perantara adalah SUNNATULLAH, dalam artian bahwasanya ALLAH menjadikan PENGARUH sesuatu ketika mendapatinya SEBAB-SEBAB, lalu ALLAH menjadikan kebakaran ketika menyentuhnya api pada sesuatu yang dibakar, menjadikan potongan ketika menyentuhnya pisau pada barang yang akan dipotong dst. Sama halnya dengan orang yang membawa KERIS dan dìtusuk atau ditembak kok kebal / tak apa-apa ini semata-mata orang tersebut dikebalkan oleh-Nya bersamaan / muqooranah dengan membawa keris itu.
Imam al-Munawi menjelaskan, menggunakan rukyah (kecuali yang syar’iyyah), jimat dan pelet (pengasihan) dianggap syirik sebagaimana dalam redaksi hadits, karena hal-hal di atas yang dikenal di zaman Rasulallah sama dengan yang dikenal pada zaman jahiliyah yaitu ruqyah (yang tidak syar’iyyah), jimat dan pengasihan yang mengandung syirik. Atau dalam hadits, Rasulallah menganggap rukqah adalah syirik karena menggunakan barang-barang tersebut berarti pemakainya mengi’tikadkan bahwa benda-benda itu mempunyai pengaruh (ta’tsir) yang bisa menjadikan syirik kepada Allah. Imam ath-Thayyibi menanggapi hadits tersebut bahwa yang dimaksudkan dengan syirik pada hadits di atas adalah mengi’tikadkan bahwa jimat tersebut mempunyai kekuatan dan bisa mempengaruhi (kekuatan merubah sesuatu) dan itu jelas-jelas bertentangan dengan ke-tawakkal-an.
Di bagian lain al-Munawi menjelaskan bahwa pengguna jimat sama dengan melakukan pekerjaan ahli syirik yang mengi’tikadkan bahwa jimat tersebut dapat menolak takdirnya yang sudah tercatat. Namun, jika jimat tersebut berupa asma atau kalam Allah atau dengan (tulisan berbentuk) dzikir Allah yang tujuannya untuk ber-tabarruk kepada Allah atau penjagaan diri serta tahu bahwa yang dapat memudahkan segala sesuatu adalah Allah maka hal itu tidak diharamkan. Pendapat ini disampaikan Ibnu Hajar yang dikutip oleh al-Munawi dalam Faidh al-Qadir.

Hukum berobat dengan orang semacam PONARI dan batunya boleh selama meyakini bahwa mu’astirnya (yang menyembuhkan) adalah Allah, bukan air yang dicelupkanin batu. Karena hukum keyakinan diklasifikasikan dalam 4 bentuk:
1.Kalau menyakini bahwa yang menyembuhkan adalah batu ponari maka ulama’ sepakat dihukumi kufur.
2.Kalau Menyakini bahwa yang menyembuhkan adalah batu ponari atas kekuatan yang di titipkan Allah pada batu tersebut maka khilaf :
a.Pendapat Al-Ashoh tidak dihukumi kufur dan bisa disebut fasiq.
b.Muqobil Ashoh dihukumi kufur.
3.Kalau meyakini bahwa batu tersebut pasti bisa menyembuhkan dengan ketentuan Allah maka tergolong jahil (orang bodoh) dan tidak menyebabkan kufur
4.Kalau meyakini bahwa batu tersebut biasanya bisa menyembuhkan dengan ketentuan Allah maka termasuk golongan yang selamat.
LAA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL ALIYYIL 'ADZIM. HANYA ALLOH LAH YANG PUNYA KEKUATAN. Semua kekuatan hanya dari Allah, benda sejarah hanya sebagai pelantara. percaya sama kekuatan benda bisa mengakibatkan kekufuran. Yang penting i'tiqod-nya harus diluruskan. Keris atau apapun juga hanyalah sabab. Allah-lah yang memberi ta'tsir (efek).
Benda-benda yang memiliki kekuatan seperti keris adalah bagian kecil yang menunjukkan bahwa Allah Maha Berkuasa, Maha Menghendaki benda apapun untuk memiliki kkuatan. Justru tidak mmpercayai bahwa Allah mampu mmberikan kkuatan kepadaa ssuatu itu bisa mengingkari akan qudrat dan iradat Allah. yang tidak boleh adalah meyakini bahwa benda-benda itu (keris) punya kekuatan independent artiya meyakini bahwa benda-benda itu benar-benar, memiliki kkuatan dengan melepaskan diri dari kmahakuasaan Allah atau tanpa peran serta Allah. Sama seperti pasien yang berobat ke dokter, lalu dia yakin bahwa dokterlah yang menybuhan penyakitnya secara independent tanpa peran serta Allah, itu tidak boleh, karenaa Allah lah zat Yang Maha Penyembuh. Dan Allah berkuasa untuk berkehendak memberikan "kekuatan" atau kelebihan kepadaa orang-orang tertentu untuk menjadi dokter. [Umi Davin, Sulis Saja Imuet, Zaedun Kaslanun, Amien Rowie, Satria Cirebon, Sunde Pati, Maeqien Jaedied, Didy Humaidy,  El-mahendra Berdo'a, Brandal Loka Jaya].
Referensi : Tuhfah Al-Murid hlm. 58, Ghoyatu Talkhish hlm. 206, Majmu’ vol. IX hlm. 51, Kifayah Al-’Awam hlm. 44, Tuhfah Al-Muhtaj vol. VI hlm. 163 Fatawi Al-Haditsiyah hlm 316.
- Khoridatul Bahiyyah :
ومن يقل بالطبع أو بالعلة فذاك كفر عند أهل الملة ومن يقل بالقوة المودعة فذاك بدعي فلا تلتفت
WAMAN YAQUL BITTOB'I AU BIL ILLATTI, FADZAKA KUFRUN INDA AHLIL MILLATI WAMAN YAQUL BIQUWWATIL MUDA'ATI, FADZAKA BID IYYUN FALA TALTAFITI.
- Kitab  Addasuki :
إعلم أن العقلاء على أربعة أقسام فمنهم من اعتفد أن الاسباب العادية تؤثر بطبعها وذاتها والتلازم بينهما عقلى وهذا كفر اجماعا
ومنهم من اعتقد أن الاسباب العادية تؤثر فى مسبباتها بقوة أودعهاالله فيها والتلازم فيها والتلازم بيهما عادي وهذا فى كفره قولان والصحيح عدم كفره ومن هذا يعلم أن الصحيح عدم كفر المعتزلة لأنهم يقولون ان العبد يخلق أفعال نفسه الاختيارية بقوة أودعها الله فيه وهى القدرة الحادثة التى خلقها فيه ومنهم من يعتقد أن المؤثر فى المسببات العادية كالاحراق والشبع هو الله وحده الا أنه يعتقد أن الملازم بين الاسباب والمسببات عقلية لا يمكن تخلفها فمتى وجدت النار وجد الاحراق ومتى وجد الأكل وجد الشبع وهذا غير كافر اجماعا الا انه هذا الاعتقاد جهل وربما جره ذلك الجهل الى الكفر لانه يلزمه انكار ماخالف العادة فربما أنكر البعث واحياء الموتى فيكفر وذلك لان العادة أن الميب اذا مات يوضع فى القبر ولا يحيا ذلك فربما اعتقد أنه لا يمكن تخلق ذلك فيكفر البعث واحياء الموتى فيكفر ومنهم من يعتقد أن المؤثر فى المسسبا العادية هو الله وحده وأن الملارمة والمقارنة بين الاسباب والمسباب عادي يمكن تحلفه بأن يوجد السبب والمسب هذا الاعتقاد هو المنجى عند الله وهو اعتقاد أهل السنة
- Fathul Wahab Juz 2 hal 151 :
(مسألة فى أقسام السحر وحكمه) السحر أنواع منها سحر قوم نسبوا للأفلاك والكواكب تأثيرا لكونها آلهة أو أن الإله أعطاها قوة نافذة فى العالم وفوض تدبيره إليها ومنها سحر أصحاب الأوهام الزاعمين أن الإنسان يبلغ بالتصفية فى القوة إلى حيث يقدر على الإيجاد والإعدام والإحياء والإماتة وقلب الأشكال وكلا النوعين كفر عملا وتعلما, ومنها التخييلات الآخذة بالعيون وهى الشعوذة وما يجرى مجراها من إظهار الأمور العجيبة بواسطة ترتيب الآلات الهندسية وخفة اليد والاستعانة بخواص الأدوية والأحجار وليست كفرا وإطلاق السحر عليها تجوز وفى التحريم إن لم يترتب عليها مفسدة خلاف, ومنها الاستعانة بالأرواح الأرضية بواسطة الرياضة وقراءة العزائم إلى حيث يخلق الله تعالى عقب ذلك على سبيل جرى العادة بعض خوارق وهذا النوع قالت المعتزلة إنه كفر لأنه لا يمكن معه معرفة صدق الرسل عليهم الصلاة والسلام للالتباس ورد بأن العادة الإلهية جرت بصرف المعارضين للرسل عن إظهار خارق ثم التحقيق أن يقال إن كان من يتعاطى ذلك خيرا متشرعا فى كامل ما يأتى ويذر وكان من يستعين به من الأرواح الخيرة وكانت عزائمه لا تخالف الشرع وليس فيما يظهر على يده من الخوارق ضرر شرعى على أحد وليس ذلك من السحر بل من الأسرار والمعونة وإلا فهو حرام إن تعلمه ليعمل به بل يكفر إن اعتقد حل ذلك فإن تعلمه ليتوقاه فمباح وإلا فمكروه. إهـ
- Tuhfatu-Murid 58 :
فمن اعتقد أن الأسباب العادية كالنار والسكين والأكل والشرب تؤثر في مسبباتها كالحرق والقطع والشبع
والري بطبعهاوذاتها فهو كافر بالإجماع
أو بقوة خلقها الله فيها ففي كفره قولان والأصح أنه ليس بكافر بل فاسق مبتدع ومثل القائلين بذالك المعتزلة القائلون بأن العبد يخلق أفعال نفسه الإختيارية بقدرة خلقها الله فيه فالأصح عدم كفرهم
ومن اعتقد أن المؤثر هو الله لكن جعل بين الأسباب ومسبباتها تلازما عقليا بحيث ﻻ يصح تخلفها فهو جاهل وربما جره ذالك الى الكفر فإنه قد ينكر معجزات الأنبياء لكونها على خلاف العادة
ومن اعتقد أن المؤثر هو الله وجعل بين الأسباب والمسببات تلازما عاديا بحيث يصح تخلفها فهو المؤمن الناجي إن شاء الله تعالى
LINK ASAL :

www.fb.com/groups/piss.ktb/487839737905506/
.

PALING DIMINATI

Back To Top