Bismillahirrohmaanirrohiim

6158. Kisah Abdullah Ibn Umar : Keutamaan menebar salam meski di pasar

PERTANYAAN :


Assalamualaikum. Bro tanya, kisah Abdullah bin Umar yang Masuk pasar, dengan tujuan menyebarkan salam. [Mas Nopi].

JAWABAN :

Wa'alaikum salam, ini jawabannya :

 وعن الطفيل بن أبي بن كعب أنه كان يأتي عبد الله بن عمر فيغدو معه إلى صاحب بيعة ولا مسكين ولا أحد إلا سلم عليه قال الطفيل فجئت عبد الله بن عمر يوما فاستتبعني إلى السوق فقلت له ما تصنع بالسوق وأنت لا تقف على البيع ولا تسأل عن السلع ولا تسوم بها ولا تجلس في مجالس السوق وأقول: اجلس بنا ههنا نتحدث فقال يا أبا بطن وكان الطفيل ذا بطن إنما تغدو من أجل السلام نسلم على من لقيناه رواه مالك في الموطأ بإسناد صحيح
الشَّرْحُ
هذه الأحاديث في باب فضل السلام وإفشائه سبق الكلام عليها حديث البراء وأبي هريرة وعبد الله بن سلام كلها سبق الكلام عليها فلا حاجة إلى إعادة الكلام أما حديث الطفيل بن أبي بن كعب فإنه ذكر له قصة مع عبد الله بن عمر رضي الله عنه أنه استتبعه يعني عبد الله بن عمر يوما إلى السوق فجعل عبد الله بن عمر يسلم على كل أحد على صاحب الدكان وعلى كل من مر به ممن عرف وممن لا يعرف فجاءه ذات يوم فقال له: اذهب بنا إلى السوق فقال له ماذا تصنع في السوق فأنت لا تشتري شيئا ولا تبيع شيئا اجلس بنا نتحدث فقال إنما أذهب إلى السوق من أجل السلام على الناس لأن الإنسان إذا سلم وأفشى السلام وأظهره كان هذا سببا لدخول الجنة كما في حديث أبي هريرة لا تدخلوا الجنة حتى تؤمنوا ولا تؤمنوا حتى تحابوا أفلا أخبركم بشيء إذا فعلتموه تحاببتم أفشوا السلام بينكم ولأن الإنسان إذا سلم على أخيه فقال السلام عليكم أو السلام عليك إذا كان واحدا فإنه يكتب له بذلك عشر حسنات فإذا سلم على عشرة أشخاص كتب له بذلك مائة حسنة وهذا خير من البيع والشراء فكان عبد الله بن عمر يدخل السوق من أجل المسلم عليهم لأنه في بيته لا يأتيه أحد وإذا أتاه أتاه أقل بكثير ممن يوجد في السوق لكن من في السوق يمر عليهم ويسلم عليهم وفي هذا دليل على أنه لا ينبغي للإنسان أن يمل من كثرة السلام لو قابلت مائة شخص فيما بينك وبين المسجد مثلا فسلم إذا سلمت على مائة شخص تحصل على ألف حسنة هذه نعمة كبيرة وفي هذا أيضا دليل على حرص السلف الصالح على كسب الحسنات ولأنهم لا يفرطون فيها بخلاف وقتنا الحاضر تجد الإنسان يفرط في حسنات كثيرة وابن عمر رضي الله عنهما من أحرص الناس إلى المبادرة إلى فعل الخير لما حدثه أبو هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أن من تبع الجنازة حتى يصلى عليها كتب له قيراط ومن شهدها حتى تدفن كتب له قيراطان قيل وما القيراطان يا رسول الله قال مثل الجبلين العظيمين أصغرهما مثل أحد ولما حدث ابن عمر بهذا الحديث قال والله لقد فرطنا في قراريط كثرة ثم صار لا تحصل جنازة إلا تبعها رضي الله عنه وهكذا السلف الصالح إذا علموا ما في الأعمال من الخير والثواب بادروا إليها وحرصوا عليها فالذي ينبغي للمؤمن أن يكون حريصا على فعل الخير كلما بأن له خصلة خير فليبادر إليها نسأل الله أن يجعلنا وإياكم من المتسابقين إلى الخيرات إنه على كل شيء قدير أما قوله يا أبا بطن فإن الطفيل كان كبير البطن وهذا من باب المداعبة وليس قصده أن يعيره بأنه كبير البطن لكن يداعبه مثل قول الرسول لأبي هريرة

Hadits tersebut tentang keutamaan menyebarkan salam. Islam telah menjadikan salam sebagai identitas kehidupan umat berjamaah, kapan dan di manapun mereka berada. Utuhnya persaudara umat Islam juga sangat bergantung pada eksistensi salam dalam kehidupannya yang harmonis. Komunikasi umat akan semakin berkualitas jika selalu diawali dan diakhiri dengan saling mengucapkan salam dengan tulus. Sementara, komunikasi adalah sarana utama dalam kehidupan umat Islam yang menjunjung nilai-nilai sosial dan imamah jamaah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam telah memberikan perhatian yang besar terhadap amalan salam, beliau memotivasi umatnya untuk senantiasa menanamkan dan mempraktekkan salam dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai umat Islam, tentu tidak ada ruginya jika kita mengucapkan salam ketika bertemu siapa saja. Karena doa dalam salam yang kita sampaikan kepada orang lain, secara tidak langsung juga memberi manfaat untuk diri kita sendiri.

Rasulullah juga tidak pernah segan untuk mengulangi salamnya beberapa kali ketika mendatangi umatnya, hal ini sebagai bukti betapa pentingnya salam. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, bahwa apabila Rasulullah mendatangi suatu kaum, maka beliau mengucapkan salam kepada mereka sebanyak tiga kali. (Riwayat Bukhari).

Demikianlah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam menegaskan kepada kita akan perlunya menyebarkan salam, terlebih-lebih bagi mereka yang kehidupannya menjadi sorotan umat di dunia ini. Teramat banyak publik figure saat ini yang mengabaikan salam ketika mereka bertemu orang lain apalagi orang miskin lagi papa. Mereka hanya menyampaikan salam jika memiliki maksud dan tujuan tertentu, itupun hanya pada kalangan atau koleganya saja.

Hal ini bertolak belakang dengan kehidupan di zaman Rasulullah. Pernah suatu hari, Abdullah bin Umar RA pergi ke pasar dan mengucapkan salam pada setiap orang yang dijumpainya, seseorang bertanya padanya. “Apa yang engkau lakukan di pasar wahai Ibnu Umar? Engkau tidak berniaga, tidak juga membeli sesuatu dan tidak menawarkan dagangan, engkau juga tidak bergabung dalam majelis orang-orang di pasar.” Ibnu Umar menjawab, ”Sesungguhnya aku pergi ke sana hanya untuk menyebarkan salam pada orang yang aku jumpai.”

Makna yang tersirat dalam kisah tersebut adalah keutamaan menyebarkan salam karena merupakan adab yang istimewa dalam kehidupan masyarakat Muslim. Salam bukanlah sekedar tradisi pada pembukaan dan penutupan suatu acara semata, ataupun disampaikan pada orang-orang tertentu saja.
Rasulullah bersabda, “Islam yang baik adalah memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun tidak dikenal.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sudah cukup jelas, kita sebagai umat Islam yang memiliki sejarah peradaban mulia, semestinya mempertahankan dan melestarikan tradisi berbagi salam kepada siapapun, kapanpun dan di manapun kita berada. Rasulullah sebagai teladan umat telah memberi contoh kepribadian Muslim yang santun dalam berbagi salam. Sudah seharusnya menyampaikan salam dan wajib menjawab salam, jika dirinya mengaku dan bertekad menjadi ahlus sunnah wal jamaah.
Allah Subhanahu Wata’ala juga memerintahkan kita untuk saling menebar salam, terutama ketika kita sedang bersilaturahmi ke rumah seseorang.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS an-Nuur [24]: 27)

Kaidah Mengucapkan Salam
Dalam Islam, kaidah-kaidah menebar salam telah diatur sistematis dan strategis untuk menjaga ukhuwah Islamiyah. Dan, Rasulullah dalam banyak hadisnya telah memberi tuntunan atau tata cara memberi salam yang baik. Bahkan banyak ahli hadis yang mengkhususkan dan meletakkan pembahasan salam dalam satu bab tersendiri yang biasa disebut “Kitab Salam” atau pun “Bab Salam”.
Beberapa kaidah salam yang baik diantaranya; bagi orang yang berkenderaan mengucapkan salam kepada yang berjalan kaki dan pejalan kaki memberi salam kepada yang duduk. Orang yang lebih muda memberi salam kepada yang lebih tua, mereka yang kuat memberi salam kepada yang lemah. Bagi yang kaya memberi salam kepada yang miskin dan seterusnya. Jika seperti itu, secara sendirinya akan menghilangkan egoisme dalam diri umat sekaligus menjalin interaksi sosial yang baik.
Salam tidak hanya untuk kaum pria saja, Asma’ binti Yazid RA pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah ketika lewat di depan masjid dan sekelompok perempuan sedang duduk-duduk di sana, maka Rasulullah melambaikan tangannya sambil memberi salam. Selanjutnya, dianjurkan juga untuk mengucapkan salam kepada anak-anak, agar membiasakan mereka dengan adab-adab memberi salam. Anas RA Menceritakan bahwa ketika ia melewati anak-anak kecil, kemudian ia mengucapkan salam kepada anak-anak tersebut.

Kaidah salam yang lain juga telah mengatur rendah dan tingginya suara ketika mengucapkan salam. Terutama ketika malam hari, mengucapkan salam harus dengan suara rendah dan lembut selama dapat didengar oleh orang yang masih terjaga. Dengan kata lain, apabila mengucapkan salam pada malam hari selama bukan urusan yang amat penting dan mendesak, tidak boleh mengganggu orang yang sedang tidur apalagi membangunkannya.

Dan masih banyak adab-adab lainnya yang mengatur tata cara dalam mengucapkan salam. Rasulullah dan para sahabatnya adalah umat terbaik sepanjang sejarah kehidupan umat manusia, mereka telah mencontohkan tata cara yang baik dalam menebar salam antara satu dengan yang lain. Mereka tidak lupa berbagi salam entah itu di masjid, di majelis, di pasar, di jalanan dan di medan perang sekali pun. Inilah spirit yang harus kita ambil, agar sesama kita senantiasa saling mendoakan melalui salam yang kita sebarkan demi meraih kesejahteraan hidup baik di dunia maupun di akhirat.

Keutamaan Berbagi Salam
Allah Subhanahu Wata’ala telah mengajarkan salam sejak menciptakan Nabi Adam AS, sebagai manusia pertama. Dengan harapan, keturunan manusia selanjutnya, kapanpun dan di manapun mereka berada selalu berpegang teguh pada salam. Karena salam mengandung makna keselamatan yang sudah tentu disenangi dan disukai seluruh umat manusia. Hebatnya, umat Islam adalah satu-satunya umat yang masih mengucapkan salam rabbani yang murni hingga detik ini.
Sesungguhnya, salam yang kita sebarkan adalah doa untuk orang yang mendengarnya dan juga doa untuk diri kita sendiri.
Allah berfirman;

فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتاً فَسَلِّمُوا عَلَى أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُون

“…Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya), yang artinya juga memberi salam kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya bagimu, agar kamu memahaminya.” (QS an-Nuur [24]: 61)

Ayat tersebut menjelaskan perintah Allah kepada siapapun yang berkunjung ke rumah seseorang, untuk mengucapkan salam sebelum meminta izin memasuki rumah yang dikunjunginya. Dengan salam tersebut, diharapkan dapat mendatangkan keberkahan Allah bagi seisi rumah yang mendengar salam, sekaligus menjadi berkat bagi yang mengucapkannya. Inilah fadhilah salam yang dijanjikan Allah bagi umat manusia yang gemar berbagi salam dengan baik.

Bahkan, Rasulullah menyuruh kita mengucapkan salam lebih dahulu sebelum meminta izin memasuki suatu rumah. Pernah datang seorang Bani Amir ke rumah Rasulullah dan meminta izin untuk memasuki rumah beliau. Maka Rasulullah berkata kepada pembantunya, “Keluarlah kamu dan ajarkan laki-laki itu adab meminta izin, katakanlah padanya untuk mengucapkan: ‘Assalamu’alaikum, bolehkah aku masuk?’ (Riwayat Bukhari).

Selain itu, keutamaan salam yang lain adalah sebagai salah satu wasiat Rasulullah yang diperintahkan kepada para sahabat dan umat setelahnya untuk diterapkan dalam kehidupan sosial mereka. Ada tujuh wasiat Rasulullah, yakni: menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, mendoakan yang bersin, menolong yang lemah, membantu yang terzalimi, menyebarkan salam dan menunaikan janji (sumpah).
Inilah pentingnya kita sebagai umat Muslim untuk saling menebar salam di antara kita, baik itu di pasar, di perjalanan, di masjid dan di manapun ketika kita bertemu dengan siapapun, terlebih-lebih bertemu saudara seiman. Salam dapat menumbuhkan bibit-bibit cinta dalam jiwa, melapangkan dan menguatkan ikatan kasih sayang dan keakraban antara pribadi dan masyarakat.

Menebar salam dengan ikhlas dapat menjaga keimanan dan menumbuhkan ikatan cinta yang kuat dalam kehidupan umat Muslim. Sebagaimana Rasulullah bersabda, yang artinya, “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang sesuatu yang jika kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkan salam di antara kalian.” (Riwayat Muslim)

Betapa indahnya ukhuwah Islamiyah ketika masing-masing kita saling menebar salam yang baik lagi santun. Salam yang lahir murni dari dalam sanubari dengan ikhlas, tanpa embel-embel untuk mengharapkan sesuatu, kecuali ridha Allah. Dan Allah telah menyiapkan tempat yang mulia bagi siapapun yang selalu menebar salam. Rasulullah berkata, “Sesungguhnya orang yang paling utama di sisi Allah adalah mereka yang memulai salam.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).
Wallohu a'lam. [Rizalullah].

LINK ASAL :
https://www.facebook.com/groups/piss.ktb/posts/1834260636596736/


.
Back To Top