Bismillahirrohmaanirrohiim

6140. Hukum Panitia "Qurban Wajib" memakan bagian daging qurban tersebut

PERTANYAAN :


Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh. Ada pertanyaan :
1. apakah panitia qurban wajib diperbolehkan makan bagian daging qurban wajib tersebut yang diwakilinya?
2. apakah dikenai denda jika terlanjur memakannya ? serta jika memang harus bayar denda, bagaimana cara bayar nya karena terjadi tahun kemarin? terimakasih, mohon disertai uraian dan ibarohnya, suwun. [Kang Rasjid].

JAWABAN :

Wa Alaikum Salam warahmatullahi wa barokatuh, di dokumen nomor 5926 ada muqodimah kalimat di bawah ini hanya saja ibarotnya masih belum mengena sasaran tentang panitia/wakil :
Wakil / panitia adalah kepanjangan tangan dari orang yang berqurban maka dari itu wakil / panitia hanya boleh mengambil daging qurban / mendapat jatah daging qurban sesuai yang di-idzini / direstui oleh orang yang berqurban baik dengan ucapan atau secara 'urf. Sehingga jawabannya :
1. ada tafshil, jika sudah dapat ijin dari yg berkorban atau dikasih bagian daging dari qurban tersebut maka si wakil boleh memakan bagianya dan itu termasuk tashodduq dari pembagian daging, tapi jika tidak dapat ijin dan tidak dikasih bagian dari si muwakkil maka si wakil tidak boleh memakannya dan dikenai denda.
2. mengenai denda ada 3 wajah/ qoul seperti yang diterangkan dalam kitab Majmu' juz 7 hal 64 yaitu: 
  • wajib mengganti qimahnya, soal waktunya tidak harus diwaktu qurban
  • wajib mengganti daging dari hewan sesamanya dan menshodaqohkannya
  • wajib menyembelih hewan yang sama dan wajib mengikut-sertakan dalam penyembelihan
Perlu diketahui, wakalah untuk menyembelih qurban bukan berarti ijin untuk memakan dagingnya.
Jadi kewenangan wakil hanya menyembelih, bukan memakan dagingnya, sehingga jika wakil mau memakannya, ia harus dapat ijin atau dapat jatah bagian dari muwakkil. Semoga bermanfaat. Wallohu a'lam. [Nur Kholis, Subakti, El Rumi].

Ibarot :
المجموع شرح المهذب
ثُمَّ ما ضمنه على الخِلافِ السّابِقِ لا يَتَصَدَّقُ بِهِ دَراهِمَ بَلْ فِيما يَلْزَمُهُ وجْهانِ (أحَدُهُما) صَرْفُهُ إلى شِقْصِ أُضْحِيَّةٍ (والثّانِي) وهُوَ الأصَحُّ يَكْفِي أنْ يَشْتَرِيَ بِهِ لَحْمًا ويَتَصَدَّقَ بِهِ هَذا هُوَ المَشْهُورُ
* وحَكى صاحِبُ البَيانِ وجْهًا ثالِثًا أنَّهُ يَتَصَدَّقُ بِهِ دَراهِمَ وادَّعى أنَّهُ الأصَحُّ المَنصُوصُ
* وعَلى الوَجْهَيْنِ الأوَّلَيْنِ يَجُوزُ تَأْخِيرُ الذَّبْحِ والتَّفْرِقَةِ عَنْ أيّامِ التَّشْرِيقِ لِأنَّ الشِّقْصَ واللَّحْمَ لَيْسَ بِأُضْحِيَّةٍ ولا يشترط فيه وقتها ولايجوز أن يأكل منه والله أعْلَمُ

المهذب 350/1
لايملك الوكيل من التصرف الا ما يقتضيه اذن الموكل من جهة النطق او من جهة العرف

قوت الحبيب الغريب ص٣٠١
واما ان يكون التوكيل في مالية محضة كتفرقة الزكاة أي كتفرقة كفارة ومنذور فيجوز التوكيل فيها مطلقا ولا يجوز له أخذ شيء منها الا ان عين له الموكل قدرا منها لكن قال بعضهم يجوز لوكيل تفرقة لحم العقيقة أن يأخذ منه قدر كفاية يوم فقط للغداء والعشاء لان العادة تتسامح بذلك

LINK ASAL :
https://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/4488550244501082/


.
Back To Top