Bismillahirrohmaanirrohiim

6061. HUKUM BERMAIN BULUTANGKIS DI HALAMAN MASJID

PERTANYAAN :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Tanya ustadz dan ustadzah, pertanyaan titipan :
1. bagaimana hukumnya bermain bulutangkis di halaman masjid ?
2. bagaimana juga jika menggunakan penerangan dalam bermain bulutangkis tersebut itu memakai listrik milik masjid ?
3. bagaimana hukumnya jika ta'mir / nadzir masjid mengijinkan ?
Mohon disertai ibarohnya karena pertanyaan titipan, terimakasih. [Kang Rasjid].

JAWABAN :

Wa'alaikumussalam. Hukum bermain bulutangkis di halaman masjid adalah boleh.
1). hukum bermain bulu tangkis boleh, bila tidak ada taruhan. Bermain bulu tangkis di halaman masjid boleh, bila ada unsur yang bisa mempengaruhi orang yang bermain giat dalam ibadah di masjid.
2). listrik tetap bayar, bila nambah aliran penerangan khusus buat main, disamakan dengan bab ngecas hp.
3). bab tamir masjid, tapi hemat saya tentu ada izin, Bila gak ada izin mana bisa main di halaman masjid. Adapun hukum nya, Ada izin atau tidak, itu tidak mempengaruhi hukum-hukum di atas,
Wallohu a'lam. [Achmad Syafii, Kang Rasjid].

Referensi : 

{احياء علوم الدين، جـ 2، صـ 331}
ومنها ما هو مباح خارج المسجد كالخياطة وبيع الادوية فهذا فى المسجد ايضا لا يحرم الا بعارض

Dan termasuk suatu kegiatan yang diperbolehkan di luar masjid adalah seperti menjahit dan berjualan obat, lalu suatu kegiatan ini dilakukan didalam masjid juga tidak dilarang kecuali bagi orang yang melakukan kegiatan pameran (orang yang melakukan suatu kegiatan demonstrasi).

وهو ان يضيق المحل على المصلين ويشوش عليهم صلاتهم فان لم يكن شيئ من ذلك فليس بحرام والاولى تركه

Dan adapun larangan kegiatan ini (keharaman kegiatan demonstrasi penjualan obat ini) adalah jika mempersempit tempat terhadap para orang yang sholat dan mengganggu ketenangannya para orang yang sholat maka jika tidak sedikitpun dari yang begitu (mempersempit dan mengganggu orang sholat) maka tidaklah dihukumi haram tetapi lebih utama meninggalkan hal ini

ولكن شرط اباحته ان يجري فى اوقات نادرة وايام معدودة فان اتخذ المسجد دكانا على الدوام حرم ومنع منهاهـ 

Dan akan tetapi syarat diperbolehkan atas hal ini jika berlangsung dalam waktu yang jarang-jarang dan dalam beberapa hari tertentu, maka jika (bagian-bagian) masjid diambil / digunakan sebagai toko/warung secara permanen (terus menerus) maka diharamkan dan dilarang dari hal tersebut itu.

.{كتاب الفقه على مذاهب الاربعة، جــ : 1، صــ: 287}
. يحرم اتخاذ المسجد محلا للبيع والشراء

Haram menggunakan masjid sebagai tempat jual beli. 

اذا ازرى بالمسجد اضاع حرمته 

Bila menghinakan sehubungan dengan masjid tersebut itu dengan merendahkan kemuliaannya / menyia-nyiakan kemuliaannya / menghilangkan kemuliaannya

فإن لم يزر كره الا لحاجة ما لم يضيق على المصل فيحرم.

Maka jika tidak menghinakan maka berhukum makruh (itupun) hanya untuk arah kebutuhan, serta selagi tidak mempersempit untuk orang yang sholat maka berhukum haram (jika menghinakan atau mempersempit)

اما عقد النكاح به فإنه يجوز للمعتكف

Adapun akad nikah di masjid maka sesungguhnya diperbolehkan karena arah ibadah i'tikafnya.

{كتاب الفقه على مذاهب الاربعة، جــ : 1، صــ:291}
ويباح الوضوء فى المسجد مالم يؤد الى تقذير ه بصاق او مخاط والا كان حراما عند الشفعية والحنابلة 

Diijinkan berwudhu di masjid selama tidak mendatangkan mengotori masjid sehubungan dengan dahak atau lendir, dan jika tidak begitu (artinya : jika mendatangkan dahak/meludah dan lendir/ingus/air hidung dimasjid) maka keberadaannya berhukum haram menurut Syafi'iyah dan hanabilah.

وكذالك يباح اغلاق المسجد فى غير اوقات الصلاة عند الأئمة الثلاثة.

Dan seperti sedemikian itu pula, diperbolehkan untuk menutup/mengunci masjid di luar waktu shalat, menurut ketiga imam.

Jika berdasarkan pada ibarot ini apakah bisa si pemain bulutangkis itu dianggap sebagai pemakmur masjid ? 

تفسير الرازي - (ج 2 / ص 303)
وثالثها : قوله تعالى : { مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَن يَعْمُرُواْ مَسَاجِدَ الله شاهدين على أَنفُسِهِم بِالْكُفْرِ } [ التوبة : 17 ] وعمارتها تكون بوجهين . أحدهما : بناؤها وإصلاحها . والثاني : حضورها ولزومها ، كما تقول : فلان يعمر مسجد فلان أي يحضره ويلزمه وقال النبي صلى الله عليه وسلم : « إذا رأيتم الرجل يعتاد المساجد فاشهدوا له بالإيمان »وذلك لقوله تعالى : { إِنَّمَا يَعْمُرُ مساجد الله مَنْ ءامَنَ بالله واليوم الأخر } [ التوبة : 18 ] ، فجعل حضور المساجد عمارة لها.

تفسير الرازي ج ٢ ص ٣٠٣
وثالثها : قوله تعالى : { مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَن يَعْمُرُواْ مَسَاجِدَ الله شاهدين على أَنفُسِهِم بِالْكُفْرِ } (التوبة : ١٧ )

Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Surah At-Taubah (9:17).

وعمارتها تكون بوجهين .

Memakmurkan masjid itu bisa dengan dua cara :

أحدهما : بناؤها وإصلاحها .

1. Membangunnya dan memperbaikinya

والثاني : حضورها ولزومها ،

2. Menghadirinya dan melaziminya (berdiam diri di masjid)

كما تقول : فلان يعمر مسجد فلان

Sebagaimana perkataan : Si fulan memakmurkan masjid (bernama) Fulan.

أي يحضره ويلزمه

artinya dia selalu hadir di masjid dan berdiam diri di masjid tersebut.

وقال النبي صلى الله عليه وسلم : إذا رأيتم الرجل يعتاد المساجد فاشهدوا له بالإيمان .

sebagaimana sabda rasulullah: Apabila kalian melihat seseorang yang sering berada di masjid maka saksikanlah akan keimanannya.

وذلك لقوله تعالى :

dan demikian itu karena ada firman Allah SWT sbb:

{ إِنَّمَا يَعْمُرُ مساجد الله مَنْ ءامَنَ بالله واليوم الأخر }. ( التوبة : ١٨ )

Sungguh yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. Surah At-Taubah (9:18)

فجعل حضور المساجد عمارة لها .

Maka mendatanginya masjid-masjid itu menjadi termasuk memakmurkan terhadap masjid-masjid tersebut itu.

بغية المسترشدين ص 66 :
(مسئلة ك) قال الخطيب فى المغنى ويصرف الموقوف على المسجد وقفا مطلقا على عمارته فى البناء والتجصيص المحكم والسواري للتظليل بها والمكانس والمساحي لينقل بها الترب وفي ظلة تمنع حطب الباب من نحو المطر إن لم تضر بالمارة وفى أجرة قيّم لا مؤذن وإمام وحصر ودهن لأن القيم يحفظ العمارة بخلاف الباقي، فان كان الوقف لمصالح المسجد صرف من ريعه لمن ذكر لا لتزويقه ونقشه بل لو وقف عليها لم يصح اهـ .

Al-Khathib di dalam Al-Mughni berkata: Wakaf mutlak untuk imaratul masjid ditasarufkan untuk pembangunan, pengapuran tembok agar kokoh, pembuatan tiang-tiang payung, pembelian sapu, pembelian sekop untuk memindahkan tanah, pembuatan payung untuk melindungi kayu dari kelapukan akibat hujan jika tidak mengganggu para pejalan dan untuk upah pengurus masjid, tidak ditasarufkan untuk upah mu`adzdzin, imam, karpet dan minyak, karena pengurus itu memelihara pembangunan masjid berbeda dengan lainnya. Kalau wakaf itu untuk kemaslahatan masjid maka boleh ditasarufkan untuk orang-orang tersebut tetapi tidak boleh untuk dekorasi dan ukir-ukiran, bahkan kalau diwakafkan untuk dekorasi dan ukir-ukiran itu hukumnya tidak sah.

Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin disebutkan :
Kolam-kolam (wadah-wadah air) yang dikenal dan tepiannya (pojokan-pojokannya) itu tidaklah termasuk rohbah (serambi) masjid dan juga tidak termasuk harim (pelataran) masjid, tetapi hal tersebut itu berdiri sendiri menurut apa yang telah diposisikan terhadapnya (artinya ia berdiri sendiri sesuai dengan tujuan bangunan nya). 
Dan (boleh) setiap orang yang ingin menggunakan menurut apa yang terbiasa dalam hal ini (atau menurut sesuai tujuan membangun nya) dengan tanpa ada yang mengingkari 
Dan boleh sebagian dari yang begitu adalah melakukan kencing didalam omah-omahan yang dipojokkan-pojokan dan berdiam dirinya orang junub didalam 2 hal tersebut.
Dan tidak perlu atau tidak membutuhkan mengetahui keterangannya orang yang mewakafkan hal tersebut, karena urf atau kebiasaan Sudah cukup / sah / membolehkan dalam hal itu.
Dan juga diperbolehkan istinjak (cebok) dan membasuh najis mukhafafah dari tempat itu, tetapi adapun jalanan dari tempat sesuci tersebut sampai ke masjid lalu sesuatu yang terhubung dengan masjid adalah termasuk bagian masjid dan sesuatu hal yang memisahkan diantara 2 hal tersebut dengan jalan yang dipalang maka bukan termasuk masjid. Dan Ibn Mazru' memutlakkan bahwa area-area tersebut bukanlah masjid. Hal ini karena sudah berlaku secara umum.

بغية المسترشدين، صـ:63
1. (مسئلة ب) ليست الجوابي المعروفة وزواياها من رحبة المسجد ولا حريمه بل هي مستقلة لما وضعت له ويستعمل كل على ما عهد فيه بلا نكير ومن ذلك البول فى مضاربها ومكث الجنب فيهما ولا تحتاج الى معرفة نص من واقفها إذ العرف كاف فى ذلك ويجوز الاستنجاء وغسل النجاسة الخفيفة منها وأما الممر من المطاهر الى المسجد فما اتصل بالمسجد مسجد وما فصل بينهما بطريق معترضة فلا وأطلق ابن مزروع عدم المسجدية فيه مطلقا للعرف.

LINK ASAL :
www.fb.com/groups/piss.ktb/3580537855302330


.
Back To Top