Bismillahirrohmaanirrohiim

6010. SAHKAH ORANG YANG PERNAH ZINA MENJADI IMAM SHOLAT JAAMAAH ?

PERTANYAAN :


Assalaamu'alaikum. ijin bertanya, sahkah jama'ah sholat fardhu yang di-imami oleh orang yang pernah berzina ? mohon jawabannya, dan sebelumnya saya ucapkan terima kasih. Wassalaamu 'alaikum. [Simbah Muchammad Arief].

JAWABAN :

Wa'alaikumussalam. Sah. Makruh jika masih Fasiq, berbeda jika sudah taubat.

ويكره إقتداء بفاسق ومبتدع وان لم يوجد أحد سواهما. (قوله؛ وقيل لا يصح الإقتداء بهما) أي الفاسق والمبتدع.

Setiap ibadah dan muamalah ketika terpenuhi syarat dan rukunnya, dan tidak melakukan pembatalannya, maka dihukumi SAH. Jika syarat dan rukunnya tidak terpenuhi dan melakukan pembatalannya, maka dihukumi batal dan rusak.
Begitu juga shalat yang dilakukan pezina saat ia jadi imam sholat, Untuk soal pahala itu urusan dia dan Allah.
الأَحْكَامُ العِلْمِيَّهُ وَ الْعَمَلِيَّهُ لاَ تَتِمُّ إِلاَّ بِأَمْرَيْنِ وُجُودُ شُرُوطِهَا وَ أَرْكَانِهَا وَ انْتِفَاءُ مَوَانِعِهَا
“Semua hukum ilmu dan amal tidak sempurna kecuali dengan dua perkara: terpenuhi syarat dan rukunnya, serta tidak ada penghalangnya.”
العبادة أو المعاملة إذا تحققت شروطها وأركانها وانتفت موانعها عندئذ تكون صحيحة أما إذا لم تتحقق شروطها وأركانها ولم تنتفِ موانعها تكون باطلة فاسدة ،
فإذا تحققت شروطها وأركانها (المعاملة) وانتفت موانعها عندئذ تفيد المقصود منها وتترتب آثارها عليها ، ما هي آثار العبادة ؟ إيش نقصد بآثار العبادة نحن ؟ نريد بالآثار ما شُرعت المعاملة له فالبيع مثلاً شُرع لماذا ؟ لنقل المِلْكية ، النكاح شُرع لماذا ؟ للتلذذ بالمنكوح فإذا ترتَّب على العقد المقصود وذلك بتحقُّق شروطه وأركانه وانتفاء موانعه يكون صحيحاً ، هذه الغاية التي نريد أن نصل إليها ، إذاً كيف تحكم على العبادة أو المعاملة أنها صحيحة ؟ إذا رأيت أن أركانها وشروطها قد تحققت وأن موانعها قد انتفت أما إذا لم يتحقق شرط أو ركنٌ أو وُجد مانع فعندئذ تحكم على العبادة أو على المعاملة بالبطلان ، ومعنى البطلان والفساد واحد ونحن بهذا نكون قد شرحنا معنى الصحة ومعنى الفساد الذي هو البطلان .

Lihat, Abu Ishaq As-Syirazi, Al-Muhadzdzab fi Fiqhil Imamis Syafi’i, juz II, halaman 98 :

فَإِنْ كَانَ الَّذَي يَكْرَهُهُ الْأَقَلُّ لَمْ يُكْرَهْ أَنْ يَؤُمَّهُمْ لِاَنَّ أَحَدًا لَا يَخْلُو مِمَّنْ يَكْرُهُهُ

Artinya, “Karenanya apabila orang tersebut tidak disukai oleh sedikit orang maka ia tidak makruh menjadi imam mereka, karena tidak ada seorang pun yang semua orang menyukainya,” 
Sampai di sini terlihat jelas kemakruhan menjadi imam bagi orang yang tidak disukai oleh kebanyakan orang atau lingkungan sekitar. Jika dikatakan bahwa orang yang tidak disukai kebanyakan orang makruh menjadi imam bagi mereka, lantas apakah mereka juga makruh bermakmum dengan orang tersebut?
Ketidaksukaan kebanyakan orang terhadap imam tersebut ternyata tidak dengan serta memakrukan mereka untuk bermakmun dengannya. Jadi yang terkena hukum makruh adalah seseorang yang menjadi imam padahal ia tidak disukai oleh mayoritas jamaahnya sehingga jamaah yang bermakmun kepadanya tidak terkena hukum makruh. Demikian sebagaimana yang dipahami dari penjelasan Sulaiman Al-Jamal berikut ini :

أَمَّا الْمُقْتَدُونَ اَلَّذِينَ يَكْرَهُونَهُ فَلَا تُكْرَهُ لَهُمُ الصَّلَاةُ خَلْفَهُ

Artinya, “Adapun orang-orang yang bermakmum kepada (imam) yang mereka tidak sukai maka tidak makruh bagi mereka untuk shalat di belakangnya,” (Lihat Sulaiman Al-Jamal, Hasyiyatul Jamal, Beirut, Darul Fikr, juz II, halaman 767).

Sebagai perbaandingan, berikut soal jawab dari web PP. Alkhairot :
Assalamu'alaikum wr wb. ustad, di daerah saya ada seorang imam musholah yang berzinah dengan istri tetangganya dan kasusnya hanya sampe di balai desa imam tersebut mengakuinya kemudian selesai secara kekeluargaan tapi sampai saat ini masih aktif jadi imam musholah. Yang saya ingin tanyakan apakah diperbolehkan orang seperti itu jadi imam ??

JAWABAN :

Orang yang fasiq atau pelaku dosa besar hukumnya tetap sah menjadi imam hanya saja makruh baginya menjadi imam. Makruh artinya tidak dianjurkan, artinya lebih baik tidak menjadi imam dan tidak dijadikan imam, namun tetap sah shalatnya. Kalau memungkinkan, petugas masjid atau musholla terkait mencari gantinya. Adapun jamaah yang bermakmum padanya tetap sah dan mendapat fadhilah shalat berjamaah.

URAIAN :

Imam Syafi'i dalam Al-Umm 1/ 295 menyatakan:
(وكذلك أكره إمامة الفاسق، والمظهر البدع. ومن صلى خلف واحد منهم أجزأته صلاته، ولم تكن عليه إعادة، إذا أقام الصلاة
Artinya: Makruh imamnya orang fasiq dan pelaku bid'ah yang ditampakkan. Orang yang bermakmum pada mereka hukumnya sah shalatnya dan tidak perlu mengulangi lagi.

Al-Aitah dalam Fiqh Al-Ibadat ala Mazhab al-Syafi'i 1/ 407 menyatakan:
والعدل أولى من الفاسق، وإن كان الفاسق أفقه، على أن الصلاة خلفه تصح
Artinya: Adil itu lebih utama dari orang fasiq walaupun yang fasiq itu lebih pintar agama namun shalat di belakang imam yang fasiq hukumnya sah.
Sementara pada halaman 1/411 disebutkan, walaupun makruh akan tetapi makmum tetap mendapat pahala dan keutamaan shalat berjamaah.

Khatib As-Syarbini dalam Mughnil Muhtaj 1/ 237 menyatakan:
(والعدل أولى بالإمامة من الفاسق، وإن اختص الفاسق بصفات مرجحة، ككونه أفقه أو أقرأ
Artinya: Orang yang adil lebih utama menjadi imam walaupun yang fasiq memiliki kelebihan seperti lebih pintar agama atau lebih fasih bacaannya.

Al-Syairozi dalam Al-Muhadzab 1/ 183 menyatakan:
وتجوز الصلاة خلف الفاسق
Artinya: Boleh shalat bermakmum pada orang fasiq.

Al-Muzani dalam Muktashor Al-Muzani 1/ 26 berkata:
وأكره إمامة الفاسق، والمظهر للبدع. ولا يعيد من ائتم بهما
Artinya: Makruh orang fasiq (pendosa) dan pelaku bid'ah menjadi imam tapi makmum yang bermakmum pada mereka tidak perlu mengulangi shalatnya.

As-Suyuti dalam Ashbah wan Nadzair 1/ 685 menyebutkan siapa saja yang makruh untuk menjadi imam:
من تكره إمامته وهم: ولد الزنا، والفاسق، والمبتدع، واللاحن، والتمتام، والفأفاء، وغير الحر
Artinya: Orang yang makruh menjadi imam adalah: anak zina, fasiq, pelaku bid'ah, tidak fasih, timtam, fakfak, tidak merdeka.
Wallohu a'lam. [Calon Mayit, Kaka Aw, Ibnu Salman Al Asy'Ary, Hambo Lemah].

LINK ASAL :
web.fb.com/groups/piss.ktb/3772371889452258/


.
Back To Top