Bismillahirrohmaanirrohiim

5878. Bagaimana Cara Orang Bisu itu Membaca Al Qur'an ?

PERTANYAAN :


Assalamualaikum. Bagaimana cara membaca Alqur'an bagi orang yang bisu? Terus kalau membaca Alquran bukan dalam sholat menggunakan isyarat tangan itu bagaimana ya ? Soalnya kemaren baru lihat video anak bisu setoran hafalan Qur'an damel isyarat tangan. [Abdul Mustofa].

JAWABAN :

Waalaikumsalam. Isyarat orang bisu itu seperti ucapannya dalam urusan ibadah, sehingga saat junub dia tidak boleh berisyarat dengan alquran, dan haram berisyarat quran saat haid menurut mayoritas ulama. Orang bisu dikatakan membaca alquran bila sudah berisyarat dengannya, perhatikan redaksi kitab berikut :

قال شيخ الإسلام زكريا الأنصاري: «وللجنب إجراءُ القرآن على قلبه ونظر في المصحف، وقراءة ما نسخت تلاوته، وتحريك لسانه وهمسه بحيث لا يسمع نفسه؛ لأنها ليست بقراءة قرآن، بخلاف إشارة الأخرس». (أسنى المطالب شرح روض الطالب 1/67، ط. دار الكتاب الإسلامي).

Syaikh Islam Zakaria al Anshori berkata : "Bagi orang junub boleh menjalankan alquran dalam hatinya dan sambil melihat mushaf, boleh membaca ayat yang sudah dinash (dihapus keberadaannya, boleh menggerakkan bibirnya dengan tanpa terdengarkan suaranya oleh dirinya dengan bacaan alqurannya, berbeda dengan isyaratnya orang bisu (saat orang bisu junub berisyarat dengan alquran, tidak boleh.. Karena sudah masuk ranah Junub membaca quran)" [Asna al Matholib I/67].

وقال السيوطي في «الأشباه والنظائر»: «فرع قال الإسنوي: إشارة الأخرس بالقراءة -وهو جنب- كالنطق، صرح به القاضي حسين في فتاويه». (الأشباه والنظائر ص314، ط. دار الكتب العلمية

Assuyuthi dalam Asybah wan Nadhooir hal 314 berkata : Al Isnawy berkata : "Isyarat orang bisu dengan bacaan (dalam keadaan junub) seperti membaca alquran".

وعليه: فإن إشارة الأخرس كنطقه في التعبد، ويحرم عليه الإشارة بالقرآن وهو جنب، وتحرم على الخرساء الإشارة بالقرآن وهي حائض على مذهب الجمهور، وتجوز عند المالكية.

Kesimpulan : Isyarat orang bisu seperti ucapannya dalam urusan ibadah, saat junub tidak boleh berisyarat dengan alquran, haram berisyarat quran saat haid menurut mayoritas ulama, sedang ulama Malikiyyah memperbolehkan.

Sekedar meluaskan pembahasan tentang hukum orang bisu yang berkaitan dengan shalat. Sebab didalam pelaksanaan shalat juga ada bacaan al-Qur'an nya, dalam kitab Al-Mausuah Al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah diterangkan:

“Siapa yang tidak dapat berbicara karena bisu, maka gugur baginya kewajiban bacaan. Ini kesepakatan para ulama fikih. Akan tetapi, mereka berbeda pendapat dalam masalah menggerakkan lisan saat takbir dan membaca Al-Fatihah. Menurut ulama dalam mazhab Maliki dan Hambali dan pendapat yang shahih dalam mazhab Hanafi, ‘Tidak diwajibkan bagi orang yang bisu untuk menggerakkan lisannya, akan tetapi dia cukup takbirotul ihram dengan hatinya, karena menggerakkan lisan tak ada gunanya dan tidak diajarkan syariat.
Adapun menurut ulama dalam mazhab Syafii, wajib bagi orang yang bisu untuk menggerakkan lisannya, kedua bibir dan katup nafasnya untuk bertakbir semampunya. Dikatakan dalam kitab Al-Majmu, ‘Demikian pula hukumnya dalam tasyahud, salam dan seluruh zikir dalam shalat . Ibnu Rif’ah berkata, ‘Jika hal itu juga dia tidak mampu, cukup diniatkan dalam hatinya seperti orang sakit. Akan tetapi, yang tampak dalam mazhab Syafii, hal ini berlaku bagi orang yang bisu kemudian. Adapun bisu sejak lahir, maka tidak wajib baginya menggerakkan sesuatupun.”
Wallohu A'lam bis Showaab. [Faisol Tantowi, Abi Nadhif, Anake Garwane Pake, Umronuddin].

Referensi:

- Al-Mausuah Al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah juz19 hal 92 :

فَمَنْ كَانَ عَاجِزًا عَنِ النُّطْقِ لِخَرَسٍ : تَسْقُطُ عَنْهُ الأْقْوَال ، وَهَذَا بِاتِّفَاقِ الْفُقَهَاءِ .
وَاخْتَلَفُوا فِي وُجُوبِ تَحْرِيكِ لِسَانِهِ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةِ.
فَعِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ وَهُوَ الصَّحِيحُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ : لاَ يَجِبُ عَلَى الأْخْرَسِ تَحْرِيكُ لِسَانِهِ ، وَإِنَّمَا يُحْرمُ لِلصَّلاَةِ بِقَلْبِهِ ؛ لأِنَّ تَحْرِيكَ اللِّسَانِ عَبَثٌ ، وَلَمْ يَرِدِ الشَّرْعُ بِهِ .
وَعِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ يَجِبُ عَلَى الأْخْرَسِ تَحْرِيكُ لِسَانِهِ وَشَفَتَيْه وَلَهَاتِهِ بِالتَّكْبِيرِ قَدْرَ إِمْكَانِهِ ، قَال فِي الْمَجْمُوعِ : وَهَكَذَا حُكْمُ تَشَهُّدِه ، وَسَلاَمِهِ ، وَسَائِرِ أَذْكَارِهِ ، قَال ابْنُ الرِّفْعَةِ : وَإِنْ عَجَزَ عَنْ ذَلِكَ نَوَاهُ بِقَلْبِهِ كَالْمَرِيضِ . لَكِنْ يَظْهَرُ أَنَّ هَذَا عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ بِالنِّسْبَةِ لِلْخَرَسِ الطَّارِئِ ، أَمَّا الْخَرَسُ الْخِلْقِيُّ فَلاَ يَجِبُ مَعَهُ تَحْرِيكُ شَيْءٍ .

- Iqna' :
الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع ج ١ ص ٦٧
(وَ) الثَّالِثُ (قِرَاءَةُ) شَيْءٍ مِنْ (الْقُرْآنِ) بِاللَّفْظِ أَوْ بِالْإِشَارَةِ مِنْ الْأَخْرَسِ كَمَا قَالَ الْقَاضِي فِي فَتَاوِيهِ، فَإِنَّهَا مُنَزَّلَةٌ مَنْزِلَةَ النُّطْقِ هُنَا

LINK ASAL :


.
Back To Top