Bismillahirrohmaanirrohiim

2803. LAIN-LAIN : FUNGSI LAFAZH " WALLAAHU A'LAM "

PERTANYAAN :

Sahlan Albanjari
Assalamualaikum.

Pernah Sahabat Umar bertanya sesuatu pada seseorang.Yang ditanya menjawab : " WALLAHU A'LAM "

Karuan saja dikoreksi oleh beliau (Mungkin dibentak kali ye )
" Ane ga Nanya ALLAH, ane nanya nte "( Klu ga tau ya bilang ga tau, jgn sok kalem gitu, itu namanya menutupi kebodohan, alias ga mau di kata bodoh,pen)

Tanya : Kondisi pengucapan Wallahu A'lam yg tepat gimana ya ?  Makassih.

JAWABAN :

> Abdullah Afif 
Wa'alaikumussalaam warahmatullaah . Insya Allah dalam lafazh atsarnya tidak ada kalimat:" Ane ga Nanya ALLAH, ane nanya nte ". Atsar diatas termaktub dalam kitab Muhadharatul Udaba karya Arrahib Al Ashfihani (2/140)

Teks selengkapnya sbb :
وسأل عمر رجلا شيئا فقال الله أعلم فقال عمر قد خزينا إن كنا لا نعلم أن الله أعلم

إذا سئل أحدكم عن شيء إذا كان لا يعلمه قال لا علم لي بذلك

Sementara shahabat Umar sendiri ketika ditanya oleh Rasulullah shallalllaahu 'alaihi wasallam tentang seorang laki-laki yang datang tiba-tiba dan bertanya kepada beliau, Umar menjawab:ALLAAHU WARASUULUHUU A'LAM

bisa dibaca dalam hadits Arba'in Annawawiyyah hadits nomor dua

Wallaahu A'lam

> Sahlan Albanjari 
Alhamdulillah dpt tambahan ilmu yai...syukron koreksinya.-Usai baca jawaban yai sy jadi nyari2 risalah yg pernah saya baca, bener saja ada yg kurang dlm tarjamah di atas.

Lengkapnya, kira kira begini pernyataan sahabat Umar bin Khottab Ra.

" Ane ga nanya nte tentang Ilmu Allah, Tapi nanya nte, Katakan Ane tau atau ane ga tau. "

Begitu yg saya temukan di risalah Imam Alhabib Abdullah bin Alawi Al-Haddad, Ittihafussa-il, Hal 12.

Jadi pertanyaannya masih sama dengan status.

> Abdullah Afif 
Betul mas Sahlan Albanjari......

saya mencoba mencari dalam kitab Ittihaafussaa`il Bijawaabil Masaa`il karya Al habib Abdullah bin Alwi Al Haddad saya temukan dihalaman 2Teksnya sbb:

وكان عمر رضي الله عنه يسأل جلساءه كثيرا ، وكان إذا سأل أحدا عن شيء فقال: الله أعلم، يغضب ويقول له: لم أسألك عن علم الله، وإنما أسألك عن علمك، فقل : أعلم أو لا أعلم

WA KAANA UMAR RADHIYALLAAHU 'ANHU YAS`ALU JULASAA`AHUU KATSIIRAN WA KAANA IDZAA SA`ALA AHADAN 'AN SYAI`IN FA QAALA ALLAAHU A'LAMU YAGHDHABU WA YAQUULU LAHUU LAM AS`ALKA 'AN 'ILMILLAAH WA INNAMAA AS`ALUKA 'AN 'ILMIKA FA QUL A'LAMU AU LAA A'LAMU 

dengan demikian ada dua riwayat.

----------------------------

ada riwayat dari Ibn Mas'ud yang termaktub dalam kitab al Midkhal ilassunanil Kubro, lil Baihaqi 2/171, syamilah:

حَدَّثَنَا حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ فُورَكٍ ، أنبا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ ، ثنا يُونُسُ بْنُ حَبِيبٍ ، ثنا أَبُو دَاوُدَ ، ثنا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ ، عَنِ الأَعْمَشِ ، عَنْ أَبِي الضُّحَى ، عَنْ مَسْرُوقٍ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ : " مَنْ كَانَ عِنْدَهُ عِلْمٌ فَلْيَقُلْ بِعِلْمِهِ ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ عِلْمٌ فَلْيَقُلِ : اللَّهُ أَعْلَمُ ؛ فَإِنَّ اللَّهَ قَالَ لِنَبِيِّهِ عَلَيْهِ السَّلامُ : قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ 

...dari Abdullah, beliau berkata: Barang siapa disisinya ada ilmu, maka berkatalah dengan ilmunya, barang siapa disisinya tidak ada ilmu maka hendaklah berucap: Allaahu A'lam............

Wallaahu A'lam

> Umam Zein 
Yang disebutkan di atas adalah etika lafazh wallahu a’lam ketika digunakan sebagai kalimat jawaban. Sedangkan lafazh wallahu a’lam yang sering menjadi kalimat pembuka atau penutup sebuah kutipan qaul, atau fatwa, atau bahkan tulisan di dokumen-dokumen Piss-KTB misalnya, maka fungsinya adalah sebagai pengingat akhlak kita agar senantiasa menyadari ilmu yang kita miliki ini bukanlah apa-apa. Sesungguhnya bila disematkan sifat alim pada diri kita maka itu semua hanyalah kiasan. Semuanya milik Allah ‘Azza wa Jalla.

(قوله والله سبحانه وتعالى أعلم ) أي من كل ذي علم قال الله تعالى ( وفوق كل ذي علم عليم ) أي حتى ينتهي الأمر إلى الله سبحانه وتعالى فهو أعلم من كل ذي علم وكأن المصنف قصد بذلك التبري من دعوى الأعلمية ففي باب العلم من صحيح البخاري في قصة موسى مع الخضر مع نبينا وعليهما الصلاة والسلام ما يقتضي طلب ذلك حيث سئل موسى عن أعلم الناس فقال أنا فعتب الله عليه إذ لم يرد العلم إليه أي كأن يقول الله أعلم وفي القرآن العظيم الله أعلم حيث يجعل رسالته . ويسن لمن سئل عما لا يعلم أن يقول الله ورسوله أعلمالكتاب : حاشية إعانة الطالبين ج4 ص109

[Allah -Maha Suci Allah lagi Maha Luhur- yang lebih tahu] yakni daripada setiap orang yang berpengetahuan. Allah ta’ala telah berfirman (dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang lebih tahu) yakni sampai terhenti perkara itu kepada Allah subhanahu wata’ala. Dialah yang lebih tahu daripada setiap makhluk lain yang berpengetahuan. Demikianlah seolah-olah penyusun kitab ini dengan lafazh itu ingin berlepas diri dari julukan sifat alim.Di kitab Shahih Bukhari, pada bab ilmu, tentang cerita Nabi Musa beserta Khidhir, beserta perawi Nabi kita Muhammad ‘alaihima shalah wassalam terdapat perkara yang menganjurkan hal tersebut. Ketika Musa ditanya siapakah orang yang paling alim, lalu dia menjawab diriku, maka Allah menegurnya karena tidak mengembalikan sifat alim kepada Allah, yakni dengan semisal berucap Allahu a’lam. Di dalam Al-Qur’an juga telah disebutkan ‘Allah lebih mengetahui di mana Dia akan menempatkan tugas kerasulan itu’.Disunahkan hukumnya bagi seseorang yang ditanya masalah yang tidak diketahuinya untuk berucap: Allah wa Rasuluhu a’lam.
(Ianah Thalibin, 4/109)

---------------

PERBANDINGAN

وَلَا يُنَافِيهِ مَا فِي الْبُخَارِيِّ أَنَّ عُمَرَ سَأَلَ الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عَنْ سُورَةِ النَّصْرِ فَقَالُوا اللَّهُ أَعْلَمُ فَغَضِبَ وَقَالَ قُولُوا نَعْلَمُ أَوْ لَا نَعْلَمُوَفِي رِوَايَةٍ أَنَّهُ قَالَ لِمَنْ قَالَهُ مَرَّةً قَدْ تَيَقَّنَّا إنْ كُنَّا لَا نَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ لِتَعَيُّنِ حَمْلِهِ عَلَى أَنَّهُ فِيمَنْ جَعَلَ الْجَوَابَ بِهِ ذَرِيعَةً إلَى عَدَمِ إخْبَارِهِ عَمَّا سُئِلَ عَنْهُ ، وَهُوَ يَعْلَمُالكتاب : تحفة المحتاج ج1 ص223

Keterangan ini [anjuran mengucapkan wallahu a’lam di awal dan akhir tulisan, pent] tidak menyalahi apa yang tercantum dalam hadits Bukhari, bahwa sesungguhnya Umar bertanya pada para shahabat radhiyallahu ‘anhum tentang tafsir dari surat An-Nashr, lalu mereka hanya menjawab ‘Allahu a’lam’, akhirnya Umar murka dan berkata: ucapkanlah kami tahu atau kami tidak tahu.Dalam riwayat lain, bahwa sesungguhnya Umar pada satu kesempatan berkata pada orang yang berucap Allahu a’lam tersebut: kita sungguh meyakini, bahwa jika kita tidak tahu maka Allah lah yang tahu. Keterangan itu tidak menyalahi kisah Umar sebab hadits Bukhari itu jelas diarahkan pada situasi orang yang menjadikan kata ‘wallahu a’lam’ sebagai jawaban yang dijadikan alasan (alibi) ketidaktahuannya atas apa yang ditanyakan, sementara dia sebenarnya bisa saja tahu. (Tuhfatul Muhtaj, 1/223)

Kesimpulannya, kalimat wallahu a’lam bila dipakai dalam sebuah pendapat, dalam kalimat berita, maka fungsinya adalah sebagai usaha kita bertawadhu, bahwa meskipun kita yakin tahu tapi pada akhirnya Allah juga lah yang lebih tahu kebenarannya. Sedangkan bila dalam kalimat bertanya, bila kita tidak tahu jawabannya, maka disunahkan untuk menjawabnya dengan ucapan ‘wallahu a’lam’.Adapun riwayat kisah Umar yang seolah menolak ucapan wallahu a’lam dan lebih cenderung pada jawaban ‘aku tahu’ atau ‘aku tidak tahu’ maka itu maksudnya agar lebih memahamkan penanya, yakni dengan secara tegas memberitahukan dia tahu atau dia tidak tahu atas apa yang ditanyakan. Sebab mungkin saja dia sebenarnya tahu tapi mencari alibi seolah tidak tahu dengan berkata wallahu a’lam. Disamping itu pada riwayat lain Umar telah menegaskan bahwa jawaban ‘saya tidak tahu’ punya keniscayaan Allah lah yang tahu. Dengan demikian tidak ada perbedaan mendasar disini.

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (البقرة:32)

Mereka menjawab: Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Ya Allah, jauhkanlah kami dari sifat kesombongan atas sekelumit ilmu yang Engkau titipkan pada kami Ya Rabbi. Wallahu subhanahu wata’ala a’lam


LINK ASAL :
DOKUMEN FB :
.

PALING DIMINATI

Back To Top