1961. WAKAF : MENJUAL UNTUK MENUKAR TANAH WAKAF - Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)

1961. WAKAF : MENJUAL UNTUK MENUKAR TANAH WAKAF

Senin, 29 Oktober 20120 komentar

PERTANYAAN

Sluman Slumun Slemet
Assalamu'alaikum.langsung aja.
Ada tanah waqof dari kakek,sebidang tanah sisa dr tanah waris yg udah dibagi.tanah waqaf tsb cuma seluas 5mx7m dan letaknya walau ditengah kota tapi terjepit dibelakang pertokoan hanya gang buntu selebar 1m aksesnya.
Ahli waris sbg muwakif bingung mau dimanfaatkan untuk apa.buat musholla,dekatnya selisih 10mtr udah ada.
Maka,ada inisiatif dijual aja tanah tsb lalu uang hasil penjualan,semuanya dibelikan tanah di desa yg kebetulan ada madrasah + masjid yg membutuhkan perluasan.
Pertanyaannya,bolehkah menjual tanah wakaf tsb lalu diganti dg tanah lain? Makasih,poro asatidz wal masyayih piss. Wassalam.

JAWABAN

Soesilo Bambang Yudhoyono
( وَ ) جَازَ ( شَرْطُ الِاسْتِبْدَالِ بِهِ ) أَرْضًا أُخْرَى حِينَئِذٍ ( أَوْ ) شَرْطُ ( بَيْعِهِ وَيَشْتَرِي بِثَمَنِهِ أَرْضًا أُخْرَى إذَا شَاءَ فَإِذَا فَعَلَ صَارَتْ الثَّانِيَةُ كَالْأُولَى فِي شَرَائِطِهَا وَإِنْ لَمْ يَذْكُرْهَا ثُمَّ لَا يَسْتَبْدِلُهَا ) بِثَالِثَةٍ لِأَنَّهُ حُكْمٌ ثَبَتَ بِالشَّرْطِ وَالشَّرْطُ وُجِدَ فِي الْأُولَى لَا الثَّانِيَةِ ( وَأَمَّا ) الِاسْتِبْدَالُ وَلَوْ لِلْمَسَاكِينِ آلَ ( بِدُونِ الشَّرْطِ فَلَا يَمْلِكُهُ إلَّا الْقَاضِي ) دُرَرٌ

Syarah nya :
( قَوْلُهُ : وَجَازَ شَرْطُ الِاسْتِبْدَالِ بِهِ إلَخْ ) اعْلَمْ أَنَّ الِاسْتِبْدَالَ عَلَى ثَلَاثَةِ وُجُوهٍ : الْأَوَّلُ : أَنْ يَشْرِطَهُ الْوَاقِفُ لِنَفْسِهِ أَوْ لِغَيْرِهِ أَوْ لِنَفْسِهِ وَغَيْرِهِ ، فَالِاسْتِبْدَالُ فِيهِ جَائِزٌ عَلَى الصَّحِيحِ وَقِيلَ اتِّفَاقًا .
وَالثَّانِي : أَنْ لَا يَشْرُطَهُ سَوَاءٌ شَرَطَ عَدَمَهُ أَوْ سَكَتَ لَكِنْ صَارَ بِحَيْثُ لَا يُنْتَفَعُ بِهِ بِالْكُلِّيَّةِ بِأَنْ لَا يَحْصُلَ مِنْهُ شَيْءٌ أَصْلًا ، أَوْ لَا يَفِي بِمُؤْنَتِهِ فَهُوَ أَيْضًا جَائِزٌ عَلَى الْأَصَحِّ إذَا كَانَ بِإِذْنِ الْقَاضِي وَرَأْيِهِ الْمَصْلَحَةَ فِيهِ .
وَالثَّالِثُ : أَنْ لَا يَشْرُطَهُ أَيْضًا وَلَكِنْ فِيهِ نَفْعٌ فِي الْجُمْلَةِ وَبَدَلُهُ خَيْرٌ مِنْهُ رِيعًا وَنَفْعًا ، وَهَذَا لَا يَجُوزُ اسْتِبْدَالُهُ عَلَى الْأَصَحِّ الْمُخْتَارِ

Sahlan Albanjari
Boleh ditambahin ga kang?.. Al-alim, al-allamah, alfaqih. Asshufi, assyafi'e Habib Zein bin Sumaith pernah menambahkan keterangan ttg tanah wakaf. Kata beliau. Boleh jual tanah wakaf,tapi peruntukkannya tidak berubah. Maksudnya, umpama wakaf itu utk masjid, jika dijual, maka hasil harganya dibelikan utk tanah wakaf masjid lagi. Tdk boleh utk pesantren atau lainnya, begitu sebaliknya. Ini bisa terjadi jika memang lahan tanah wakafnya terlalu sempit.

Masaji Antoro 
@ Kang Sahlan Albanjari ~ Pendapat yang kakang utarakan tersebut memang ada dasarnya, yakni mengacu pada pendapat Imam hanafi yang memperkenankan mengganti barang wakafan pada yang lebih manfaat.

وَلاَ يَجُوْزُ اسْتِبْدَالُ الْمَوْقُوْفِ عِنْدَنَا وَاِنْ خَرَبَ ، خِلاَفًا لِلْحَنَفِيَّةِ . وَصُوْرَتُهُ عِنْدَهُ اَنْ يَكُوْنَ الْمَحَلُّ قَدْ آلَ اِلَى السُّقُوْطِ فَيُبْدَلُ بِمَحَلٍّ آخَرَ اَحْسَنَ مِنْهُ بَعْدَ حُكْمِ حَاكِمٍ يَرَى صِحَّتَهُ .
  "Tidak boleh menukarkan barang wakaf menurut madzhab kami (Syafi'i), walaupun sudah rusak. Berbeda dengan madzhab Hanafi yang membolehkannya. Contoh kebolehan menurut pendapat mereka adalah apabila tempat yang diwakafkan itu benar-benar hampir longsor, kemudian ditukarkan dengan tempat lain yang lebih baik dari padanya, sesudah ditetapkan oleh Hakim yang melihat kebenarannya". (As Syarqawi II/178)

فَاِنْ تَعَطَّلَتْ مَنَافِعُهُ بِالْكُلِّيَّةِ كَدَارٍ اِنْهَدَمَتْ اَوْ اَرْضٍ خَرَبَتْ وَعَادَتْ مَوَاتًا لَمْ يُمْكِنْ عِمَارَتُهَا اَوْ مَسْجِدٍ اِنْتَقَلَ اَهْلُ الْقَرْيَةِ عَنْهُ وَصَارَ فِى مَوْضِعٍ لاَ يُصَلَّى فِيْهِ اَوْ ضَاقَ بِاَهْلِهِ وَلَمْ يُمْكِنْ تَوْسِيْعُهُ فِى مَوْضِعِهِ ، فَاِنْ اَمْكَنَ بَيْعُ بَعْضِهِ لِيُعَمَّرَ بَقِيَّتُهُ جَازَ بَيْعُ الْبَعْضِ وَاِنْ لَمْ يُمْكِنِ الإِنْتِفَاعُ بِشَيْءٍ مِنْهُ بِيْعَ جَمِيْعُهُ .
  "Jika manfaat dari wakat tersebut secara keseluruhan sudah tidak ada, seperti rumah yang telah roboh atau tanah yang telah rusak dan kembali menjadi tanah yang mati yang tidak mungkin memakmurkannya lagi, atau masjid yang penduduk desa dari masjid tersebut telah pindah; dan masjid tersebut menjadi masjid di tempat yang tidak dipergunakan untuk melakukan shalat, atau masjid tersebut sempit dan tidak dapat menapung para jama'ah dan tidak mungkin memperluasnya di tempat tersebut, ... jika mungkin menjual sebahagiannya untuk memakmurkan sisanya, maka boleh menjual sebahagian. Dan jika tidak mungkin memanfaatkannya sedikitpun, maka boleh menjual seluruhnya". (Syarhul Kabir juz III /420)
Share this article :

Postingan Populer

 
Didukung Oleh : PISS-KTB Group | PISS FANS PAGE
Boleh diCopy © 2010 asal tetap mencantumkan URL artikel.
Grup Tanya Jawab dan Diskusi Keislaman
Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Indonesia Raya