Bismillahirrohmaanirrohiim

1309. PERBEDAAN JANGKRIK DAN BELALANG


PERTANYAAN :

> Birrul El-Zamuda
Maaf ni sy mau naxAp yg membedakan jangkrik dgn belalang ? Kok klo belalang halal d makan n klo jangkrik g bleh?Tlg d sertkn ibarot kitabnya


JAWABAN :

> Hadlro Maut 
Tentang jangkrik... bahasa arabnya ash-shurshuru atau al-judjudu atau shorrooru-l-laili

الصرصر:ويقال له الصرصار أيضا، حيوان فيه شبه من الجراد، قفاز يصيح صياحا رقيقا، وأكثر صياحه بالليل ولذلك سمي صرار الليل، وهو نوع من بنات وردان عري عن الأجنحة. 

وقيل: إنه الجدجد وقد تقدم أن الجوهري فسر الجدجد بصرار الليل، ولا يعرف مكانه إلا بتتبع صوته، وأمكنته المواضع الندية، وألوانه مختلفة فمنه ما هو أسود، ومنه ما هو أزرق، ومنه ما هو أحمر، وهو جندب الصحارى والفلوات.

وحكمه: تحريم الأكل لاستقذاره.

Hukumnya HARAM karena kotor
Hayatu al-hayawan al-kubro 2/86
 ____________________________

الحكم:أجمع المسلمون على إباحة أكله وقد قال عبد الله بن أبي أوفى: «غزونا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم سبع غزوات نأكل الجراد

Al-jarood = belalang, dalam sebuah hadits dikatakan" kami berperang beserta Rosululloh, dalam 7 kali perang (dan) kami memakan belalang".
tentang kehalalan belalang ini, sudah disepakati oleh semua al-muslimun...

Hayatu al-hayawan al-kubro 1/272.

========================
> Masaji Antoro 
Nambah dikit :

( قوله وجراد ) مشتق من الجرد وهو اسم جنس واحده جرادة يطلق على الذكر والأثى وهو بري وبحري وبعضه أصفر وبعضه أبيض وبعضه أحمر كبير الجثة وبعضه صغيرها واذا أراد أن يبيض التمس المواضع الصلبة وضربها بذنبه فتنفرج فيلقى بيضه فيها ويكون حاضنا له ومربيا وله ستة أرجل يدان فى صدرها وقائمان فى وسطها ورجلان فى مؤخرها وطرف رجليه صفروان وفى خلقته عشرة من جبابرة البوادى وجه فراس وعين فيل وعنوق ثور وقرن ابل وصدر اسد وبطن عقرب وجناحا نسر وفخذا جمل ورجلا نعامة وذنب حية وليس فى الحيوانات أكثر افسادا منه ولعابه سم على الأشجار ولا يقع على شىء الا أفسدها اهـ برماوى.
Hasyiyah al-jamal I/172

وقوله والجراد مشتق من الجرد وهو بري وبحري وبعضه أبيض وبعضه أحمر وبعضه كبير الجثة وبعضه صغيرها وله يدان في صدره وقائمتان في وسطه ورجلان في مؤخره وليس في الحيوانات أكثر أفسادا منه 
 Hasyiyah al-Baajuri II/303

Spesifikasi belalang yang dihalalkan adalah seperti diidentifikasikan dalam kitab Jamal dan Baajuri bahwa jarod (belalang) adalah :

• Saat bertelur mencari tempat yang keras yang ia gali dengan ekornya yang lancip
• Berkaki enam, 2 didepan yang fungsinya sebagai tangannya, 2 didada dan 2 lagi dibelakang, yang diujung kedua kakinya berwarna kuning
• Dalam penciptaannya memiliki kemiripan menyamai 10 binatang lainnya : Berwajah seperti kuda, berwajah kuda, bermata gajah (sipit), berleher sapi jantan, bertanduk unta, berdada macan, berperut kalajengking, bersayap burung nasar, berpaha unta, berkaki burung unta, berekor ular
• Memiliki racun diliurnya yang mampu merusak segala tumbuh-tumbuhan


> Ulinuha Asnawi 
Wa'alaikumussalam warohmah.. kalaw menurut KH Sahal Mahfudz, terdapat Khilaf, Ulama Malikiyah membolehkan.

HUKUM MAKAN JANGKRIK

Tanya:
Beberapa waktu yang lalu, ramai diberitakan budidaya jangkrik sehingga ada sebagian masyarakat yang membudidayakan dalam bentuk peternakan, pertanyaan yang mengganggu pikiran saya, apakah jangkrik boleh dimakan?

Jawab:
Secara umum, sesuatu (benda mati atau binatang) diharamkan karena 6 (enam) sebab: membahayakan tubuh manusia, memabukkan, najis, menjijikkan, buas dan adanya dalil yang melarang memakannya. Apabila ada hewan yang memiliki salah satu sebab 6 (enam) ini, maka tidak boleh dikonsumsi. Arak memeabukkan karena memabukkan, batu diharamkan karena membahayakan tubuh manusia. Benda hasil curian diharamkan karena dilarang oleh syara’, sebab diperbolehkan secara ilegal, dan seterusnya.
Jangkrik, termasuk jenis serangga. Serangga dalam bahasa arab disebut Al-Hasyarat. Dalam Fiqh, pengertian Al-Hasyarat (serangga) meliputi hewan-hewan kecil seperti tikus, semut, kodok dan lain-lain.
Al-Fiqh ‘ala Al-Madhabi Al-Arba’ah: II/3

Karena itu, untuk mengetahui status memakan jangkrik, perlu diperjelas hokum memakan serangga secara umum. Dalam menentukan hokum memakan serangga, Fuqoha’ (ulamak fiqh) berbeda pendapat. Imam Malik, pendiri fikih Maliki menyatakan halal. Sedangkan jumhur (mayoritas) ulamak, yang terdiri atas fuqoha’ Madhab Hanafi, Syafi’I, Hanbali dan Zhahiri cenderung mengharamkan.
Ahkam Al-Ath’imah Al-Syirbah Al-islamiyah; 257, Al-Majmu’: IX/16, Al-Fiqh ‘ala Al-madzahihib Al-Arba’ah: II/3.
Pendapat yang membolehkan didasarkan pada firman Alloh Swt:

قُلْ لا أَجِدُ فِي ما أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً عَلى طاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَماً مَسْفُوحاً أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقاً أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ باغٍ وَلا عادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ( الأنعام: 145)
Artinya: “Katakanlah: Tiadalah aku proleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesungguhnya yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalaw makanan itu bangkai atau darah yang mengalir, atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Alloh. Barang siapa yang dalam keadaan terpaksa sedangkan dia tidak menginginkan dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesunguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Al-An’am: 145)
Ayat ini secara eksplisit membatasi perkara yang diharamkan hanya pada 4 (empat) hal, dan serangga tidak termasuk salah satunya. Karena itu dengan sendirinya serangga, termasuk didalamnya jangkrik dihalalkan.
Kesimpulan ini diperkuat oleh sebuah hadits, yang salah seorang sahabat berkata, “saya menemani Rosululloh Saw, dan tidak pernah mendengar tentang keharaman serangga bumi”
Sunah Abu Dawud : II/318, Nail Al-Authar: VIII/122.

Oleh mayoritas fuqoha’, kedua dalil tersebut ditolak. Dalil pertama menurut mereka hanya menjelaskan pelarangan memakan bangkai, darah, babi dan binatang yang disembelih bukan atas nama Alloh Swt. Tidak lebih dari itu, ayat tersebut tidak dapat dipahami sebagai pembatasan perkara yang dilarang ke dalam 4 (empat) perkara saja. Mengingat dalam kenyataannya banyak ditemukan dalil-dalil yang melarang memakan selain 4 (empat) hal tersebut dalam ayat.
Dalil kedua, seandainya hadits diatas shohih, tetap tidak dapat digunakan sebagai dalil halalnya memakan serangga. Karena bisa saja ada sahabat yang lain yang mendengar Rosululloh Saw. Pernah melarang. Menurut kebiasaan, tidak mengkin dia menemani Rosululloh, dimanapun dan kapanpun berada.

Berpijak pada Al-Qur’an dan hadits, ayat Al-Qur’an yang dijadikan pegangan dalam menghukumi serangga adalah:
وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ ( الأعراف:157)
Artinya: “Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS. Al-A’raf: 157)

Serangga termasuk barang yang menjijikkan, sehingga mereka enggan memakannya. Manusia sebagai makhluk yang diberi karomah (kemuliyaan) oleh Alloh Sw, tidak selayaknya memakan hal-hal yang tidak baik dan menjijikkan.
Keharaman serangga didasarkan pada sebuah hadits dari ‘Aisyah RA, beliau berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : خَمْسٌ فَوَاسِقُ (1) يُقْتَلْنَ فِي الْحَرَمِ وَالْحِلِّ : الْفَأْرَةُ ، وَالْعَقْرَبُ ، وَالْحُدَأَةُ (رواه مسلم)

Artinya: “Rosululloh Saw. Bersabda, ada lima binatang yang semuanya fasiq dan dibunuh baik ditanah halal atau ditanah haram, yaitu ular, gagak, tikus, anjing buas, dan burung elang.” (HR Muslim)

Hadits ini menjelaskan kelima binatang ini hukumnya haram, karena memakai redaksi “dibunuh”. Jika halal maka redaksi yang dipakai adalah “diburu” atau “disembelih”. Sedangkan salah satu dari binatang yang diharamkan adalah serangga, yaitu tikus. Sedangkan binatang yang lain, yang termasuk jenis seraangga, diqiyaskan dengan tikus.

Kalau dicermati lebih jauh, perbedaan pendapat tersebut diakibatkan perbedaan dalam menyikapi dan memahami ayat 145, dari surat Al-An’am tersebut. Apakah ayat itu dapat dipahami sebagai membatasi makanan yang diharamkan hanya 4 (empat) hal yang tercantum didalamnya atau tidak?
Disamping itu perbedaan juga bersumber pada pengertian “segala yang baik dan segala yang buruk” (at-tayyibat dan Al-Khobaits) pada surat Al-‘Araf 157. Apakah ukuran kebaikan dan keburukan sesuatu (makanan) ? jawabnya bisa bermacam-macam. Sebagian menyatakan ukurannya adalah kehalalan dan keharaman. Sebagian yang lain menjadikan aspek manfaat dan madharatnya bagi agama. Ada pula yang mendasarkan pada selera dan perasaan.

Dari uraian diatas. Memakan jangkrik termasuk masalah khilafiyah,antara yang membolehkan dan yang melarang sesuai dengan hasil ijtihad masing-msing.
Wallohu A’lam …

Dinukil dari: Dialog Problematika Umat, oleh KH. MA. Sahal Mahfudh, Rois ‘Aam PBNU Hal: 424 Cet Khalista & LTN PBNU.

Wallaaahu A'lamu Bis Showaab.

Link Diskusi :
.

PALING DIMINATI

Back To Top