Bab VII Shalat Jamaah (Bag 3)

Makmum Masbûq dan Muwâfiq

a. Makmum Masbûq

Makmum masbûq adalah makmum yang–setelah  takbiratul ihram–tidak  memiliki  waktu yang cukup untuk membaca Fâtihah (dengan bacaan sedang; tidak terlalu cepat dan tidak terlalu pelan) bersama imam baik di rakaat pertama atau lainnya[1]. Seperti makmum yang melakukan takbîratul ihrâm sementara imamnya sedang ruku’ atau hampir melakukan ruku’ (begitu dia tuntas dari takbirnya, imamnya melakukan ruku’).

Makmum yang sedemikian rupa, baginya, tidak berkewajiban bahkan tidak disunnatkan membaca Fâtihah. Sebab, bacaan Fâtihahnya gugur sebab ditanggungoleh imamnya. Makmum harus langsung melakukan ruku’ bersama imam untuk memperoleh rakaat. Jika makmum tersebut sempat thuma’nînah saat melakukan ruku’ bersama imam, maka dia memperoleh hitungan rakaat. Beda halnya jika dia terlambat melakukan ruku’ sehingga belum sempat thuma’nînah bersama imam dalam ruku’, ternyata imamnya sudah berdiri melakukan i’tidal, maka tidak mendapat hitungan rakat.

Termasuk makmum masbûq, orang yang tidak memiliki waktu yang cukup untuk menuntaskan bacaan Fâtihahnya. Seperti makmum yang baru memulai shalatnya pada saat imam hampir menyelesaikan bacaan surat atau Fâtihahnya. Makmum yang sedemikian wajib langsung memulai bacaan Fâtihahnya. Jika di pertengahan membaca Fâtihah ternyata imamnya melakukan ruku’, maka dia harus langsung melakukan ruku’ bersama imamnya, tanpa menuntaskan bacaan Fâtihahnya. Jika makmum tersebut sempat thuma’nînah bersama imam dalam melakukan ruku’, maka dia memperoleh hitungan rakaat.

Jika makmum masbûq tersebut tidak ikut melakukan ruku’ bersama imamnya sehingga imamnya berdiri melakukan i’tidal, maka dia tidak boleh melakukan ruku’, melainkan harus menyesuaikan diri dengan imam dalam rukun yang dilakukan oleh imamnya yaitu i’tidal. Dan, apabila dia tidak mengikuti imam sujud, maka shalatnya batal. Sebab, makmum tersebut tertinggal dua rukun fi’li. Ketertinggalan dua rukun tersebut dapat membatalkan shalatnya jika makmum tersebut tidak berniat mufâraqah(pisah dari imam).

Makmum masbûq yang membaca bacaan sunnat sebelum membaca Fâtihah, semisal membaca doa iftitâh, atau taawwudz. Jika dia menduga dirinya dapat melakukan ruku’ bersama imam, ternyata dugaannya tidak tepat, maka dia tidak boleh ikut ruku’ bersama imam dan wajib membaca Fâtihah sekedar bacaan sunnat (iftitâhatau taawwudz) yang dibacanya. Lalu jika sudah selesai membaca Fâtihah sekedar bacaan sunnat yang dibacanya, dia bisa ruku’ bersama imam. Jika ruku’nya itu dilakukan secara thuma’nînah bersama ruku’nya imam, maka ia mendapat hitungan rakaat. Jika tidak thuma’nînah bersama ruku’nya imam, maka dia tidak mendapatkan hitungan rakat dan harus menambah rakaat setelah imamnya salam.

Namun, bila ternyata imamnya bangun dari ruku’, sedangkan dia masih belum menyelesaikan bacaanya yang harus dibaca, maka dia tidak boleh melanjutkan urutan rukun shalatnya (ruku’). Melainkan, setelah menyelesaikan kadar bacaan yang harus diselesaikan, harus mengikuti rukun yang sedang dilakukan oleh imamnya.

Dan, jika imamnya hendak turun untuk sujud sementara dia masih belum menyelesaikan kadar bacaan Fâtihahnya, maka dia wajib berniat mufâraqah. Kalau dia tidak melakukan niat mufâraqah, maka shalatnya batal.

b. Makmum Muwâfiq

Makmum muwâfiq adalah adalah makmum yang–setelah  takbîratul ihrâm–memiliki waktu yang cukup untuk membaca Fâtihah (dengan bacaan sedang; tidak terlalu cepat dan tidak terlalu pelan) bersama imam baik di rakaat pertama atau lainnya.

Bagi makmum muwâfiq, jika belum selesai bacaan Fâtihahnya, tidak boleh mengikuti ruku’ bersama imamnya untuk mendapatkan hitungan rakat–sebagaimana makmummasbûq–, melainkan wajib menyempurnakan bacaan Fâtihahnya dan mendapatkan hitungan rakaat sekalipun tidak melakukan ruku’ bersama imamnya.

Makmum muwâfiq diperbolehkan tertinggal tiga rukun panjang dari imam kalau ketertinggalannya untuk membaca Fâtihah sebelum imam ruku’ karena ada udzur. Contohnya seperti makmum yang memiliki waktu cukup untuk membaca Fâtihah sebelum imam ruku’ tapi dia membaca bacaan sunnat terlebih dahulu. Dia menduga bahwa sekalipun membaca bacaan sunnat waktunya masih cukup untuk menyelesaikan bacaan Fâtihahnya.  Ternyata imamnya melakukan ruku’ sebelum dia selesai membaca Fâtihah. Maka, dia wajib menyelesaikan Fâtihahnya dan tidak boleh ikut ruku’ bersama imamnya.

Dalam menyempurnakan Fâtihahnya ini, dia diperbolehkan tertinggal tiga rukun fi’lipanjang yaitu; ruku’ dan dua sujud (imamnya belum bangun dari sujud yang kedua). Setelah dia selesai membaca Fâtihah dia harus melanjutkan urutan shalatnya (ruku’ lalu i’tidal dan seterusnya) dan tetap mendapatkan hitungan rakaat.

Jika imamnya sudah bangun dari sujud kedua sementara dia masih belum selesai membaca Fâtihah, maka dia harus menyesuaikan diri dengan imamnya yaitu tetap berdiri (jika imamnya berdiri) atau duduk tasyahhud (jika imamnya duduk tasyahhud). Dalam kasus ini, dia wajib menambah rakaat setelah salam imamnya sebab dia tidak mendapatkan hitungan rakaat.

============
Dari buku : Shalat itu Indah dan Mudah (Buku Tuntunan Shalat)
Diterbitkan oleh Pustaka SIDOGIRI
Pondok Pesantren Sidogiri. Sidogiri Kraton Pasuruan Jawa Timur
PO. Box 22 Pasuruan 67101. Telp. 0343 420444 Fax. 0343 428751
============
FOOTNOTE




[1] Perkiraan waktu yang cukup untuk membaca Fâtihah diukur dengan bacaan yang sedang, tidak cepat dan juga tidak pelan. Ada pendapat lain yang mengatakan: menurut ukuran dari pembacanya sendiri.

DOKUMEN FB :
 
Top