F0100. BIOGRAFI Dr Aidh bin Abdullah al-Qarni Menurut Kalangan Wahhabi Sendiri

Rabu, 28 Maret 20120 komentar



WAHHABY KAH BELIAU...???
Dr Aidh Abdullah al-Qarni ialah seorang ulama Arab Saudi juga penulis motivasi Islam terkenal di dunia masa kini.

Dr Aidh bin Abdullah al-Qarni dilahirkan pada tahun 1379H di perkampungan al-Qarn, sebelah selatan Arab Saudi. Beliau berasal dari keluarga Majdu' al-Qarni. Memiliki ijazah kesarjanaan dari Fakulti Ushuluddin Universiti Islam Imam Muhammad ibn Su'ud tahun 1403-1404H dan sarjana dalam bidang Hadis Nabi tahun 1408H dengan tesis berjudul al-Bid'ah wa Atsaruha fi ad-Dirayah wa ar-Riwayah (Pengaruh Bid'ah terhadap ilmu Dirayah dan Riwayah Hadis).

Gelaran doktornya diraih dari universiti yang sama pada tahun 1422H dengan judul tesis "Dirasah wa Tahqiq Kitab al-Mafhum 'Ala Shahih Muslim li al-Qurthubi" (Analisis Kitab al-Mafhum 'Ala Shahih Muslim karya al-Qurthubi). Beliau telah menghasilkan lebih dari lapan kaset rakaman yang memuat khutbah, kuliah, ceramah, sejumlah bait syair dan hasil seminar-seminar kesusasteraan.

Dr Aidh Abdullah al-Qarni juga menghafal al-Quran (yang merupakan syarat mutlak sebagai mahasiswa di Arab Saudi, pada umumnya) dan juga hafal kitab hadis Bulughul Maram serta menguasai 5000 hadis dan lebih dari 10000 bait syair Arab lama hingga moden.
Dr Aidh Abdullah al-Qarni ialah penulis buku paling terlaris berjudul La Tahzan. La Tahzan yang 100 halaman pertamanya ditulis di dalam penjara itu meramu ayat-ayat Al-Quran, hadis dan kata-kata mutiara dari para ulama dan pemikir Barat. Bahasan dan bahasanya sangat sederhana, tapi justru itulah kelebihan La Tahzan.


Buku “LA TAHZAN” & Dr. Aidh Al Qarni dalam sorotan Ulama Ahlus sunnah

Siapakah Dr. Aidh Al Qarni

Dari Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu beliau berkata, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Akan datang masa-masa yang menipu dimana para pendusta dibenarkan dan orang-orang yang jujur didustakan. Para pengkhianat diberi amanat dan orang yang amanah dianggap pengkhianat dan berbicara pada masa itu ruwa…ibidhah.” Lalu ada yang bertanya, “Siapakah Ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab, “Orang bodoh berbicara tentang permasalahan umat.”

(HR. Ibnu Majah (no. 4036), Ahmad (2/291), Al Hakim (4/465, 466 dan 512), Al Khoraaithy (Makaarimul Akhlaaq, hal. 30), Asy Syazriy (Amaali, 2/256 dan 265))

La Tahzan Sebelum sempat pindah ke blogspot, penulis pernah menayangkan artikel tentang Biografi Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni, sang penulis buku best seller “La Tahzan”. Tulisan ini menjadi tulisan paling banyak dibuka dan dibaca, bahkan menjadi salah satu tulisan yang turut mendongkrak kunjungan ke blog ini. Namun dikarenakan keputusan untuk menampilkan artikel tersebut penulis sekaligus blog ini mendapat kritikan tajam dari saudara sesama Ahlus sunnah yang menyebutkan bahwa penulis telah terkena pemikiran sururi, yakni suatu pemahaman yang dinisbatkan kepada Muhammad Surur Zainal Abidin yang memiliki pemahaman takfir sebagai salah satu ajaran khawarij sehingga pemikiran sururi itu sebenarnya merupakan bagian dari ajaran khawarij itu sendiri allohu a’lam.

Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni dan buku “La Tahzan” (Jangan Bersedih) menjadi amat populer di masyarakat saat ini. Buku beliau telah banyak dibedah di negeri ini dan paling banyak dicari dan dibeli oleh masyarakat. Tak hanya itu, salah satu penerbit bahkan telah pula menerbitkan buku “La Tahzan for Teens” yang juga ditulis oleh beliau, namun kemasannya untuk remaja. Nama “La Tahzan” pun pernah dijadikan sebagai nama bagi sekolah darurat di Aceh ketika baru-baru saja ditimpa bencana Tsunami. Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni bahkan pernah datang ke negeri ini dalam sebuah event tahunan.

Dibalik popularitas dan banyaknya masyarakat yang menggandrungi sosok Aidh Al Qarni, ada beberapa catatan dan kesalahan yang tidak diketahui oleh masyarakat bahwa sosok yang digandrungi itu sebenarnya memiliki cacat dan para ulama telah memberikan catatan perihal pemikiran beliau bahkan buku “La Tahzan” yang beliau tulis.

Cacat Al Qarni dalam Kitab “La Tahzan”.

Asy Syaikh Dr. Ibrahim ar Ruhaili hafizahullohu –seorang ulama dan dosen Universitas Islam Madinah Saudi Arabia- memberikan koreksi terhadap buku “La Tahzan” yang begitu populer di masyarakat.

Terhadap buku “La Tahzan” itu Syaikh hafizahullohu menjelaskan:

“Kemudian judulnya “Laa Tahzan” (jangan bersedih), maksudnya bersedih atas apa ? apakah maksudnya bahwa manusia tidak boleh bersedih atas sesuatupun? Padahal kesedihan itu sendiri, terkadang memiliki alasan-alasan yang dibenarkan oleh syari’at, sehingga yang bersedih perlu bersabar dan mengharapkan pahala atas kesabarannya tersebut.

Cara berdialog dengan manusia seperti ini, “Laa Tahzan” (jangan bersedih), kemudian obatnya adalah perkataan kaum orintalis?! ini adalah bukti kedangkalan pemahamannya, seakan-akan al-Qur’an tidak cukup bagi kita dan di dalamnya ada hal yang menjadikan kita bersedih, sehingga kita perlu lari dari al-Qur’an dan as-Sunnah dan berpaling kepada perkataan kaum orientalis!! Ini sangat berbahaya.

Oknum-oknum di atas memiliki banyak kesalahan, meskipun kesalahan mereka berbeda-beda. ‘Aidh al-Qorni adalah seorang sasterawan, terkadang berbicara sesuai dengan aqidah Ahlus sunnah, dan pada kali yang lain melontarkan pendapat yang amat berbahaya, bahkan sampai kepada derajat kesyirikan serta beberapa istilah aneh. Saya pernah mendengar bait-bait syairnya, isinya dekat dengan pemikiran penganut wihdatul wujud (manunggaling kawulo gusti), sebagian baitnya mendiskreditkan para sahabat dan seterusnya dan masih banyak lagi keanehan-keanehannya1. Orang ini tidak bisa menjaga lisan dan perkataannya, dan dari dulu terkenal sebagai seorang yang mudah sekali marah.

Oleh karena itu, kita tidak boleh terpengaruh dengan orang-orang seperti ini. Jika seseorang telah memahami ilmu agama dan metode para ulama, maka dia akan mengetahui bahwa orang-orang ini bukan berada diatas jalannya para ulama. Kita juga tidak terus menerus menuduh niat-niatan manusia, akan tetapi inilah barang dagangan yang mereka tawarkan kepada manusia. Hendaklah kita berhati-hati terhadap perkataan mereka, dan kita kembali kepada perkataan para ulama yang mulia.

Perkataan Ahlus sunnah, itulah yang bermanfaat bagi manusia. Allah telah mencukupkan kita dengan al-Qur’an dan as-Sunnah dari perkataan makhluk, akan tetapi perkataan para ulama yang mendekatkan pemahaman kita terhadap ilmu syari’at, baik berupa uraian maupun penjelasan panjang lebar, serta pembahasan berbagai permasalahan, inilah yang lebih bermanfaat bagi manusia.………………………..

maka berhati-hatilah dari buku yang berjudul “Laa Tahzan” (jangan bersedih), bacalah dulu, kemudian perhatikan isinya. Kalangan penuntut ilmu agama yang paling awampun, ketika membaca buku ini, pasti mengetahui kesesatan yang ada didalamnya. Kami katakan dengan sebenarnya, bahwa mereka ini, sama saja, baik dia menginginkan kebaikan atau tidak menginginkannya, perkara itu urusan Allah ‘Azza wa Jalla.”

(Majalah adz-Dzakhiirah, vol. 5, No. 2, edisi 27, tahun 1428H).

Sikap tidak konsisten Aidh Al Qarni.

Disamping cacat atas karya tulis Aidh Al Qarni yang menjadi “best seller” tersebut, Orang ini juga memiliki cacat yang lain yakni sikapnya yang plin plan atau tidak konsisten atas suatu perkara. Dalam Majalah adz-Dzakiirah edisi 12 tahun II disebutkan (intinya adalah):

“Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni pernah memberikan kritik tajam atas seorang sastrawan bernama Ghazi al-Qushaibi dimana Al Qarni telah memvonisnya sesat atau bahkan telah mengkafirkannya, namun kemudian orang ini berkata bahwa dia memiliki hubungan baik dan persaudaraan dengan Ghazi al-Qushaibi.”

Al Qarni juga berkata (dikutip dari Koran “Madinah” edisi 16 Dzulqa’dah 1424H):

“Sesungguhnya masalah wanita mengemudi mobil bukanlah termasuk masalah prinsip karena tidak disebutkan pengharamannya dalam surat at-Taubah maupun al-Anfal.”

Namun dalam koran “Al-Hayah” dia berkata:

“Aku bertobat kepada Allah, aku tidak pernah mengatakan bahwa wanita boleh mengemudi mobil.”

Perhatikan dua perkataannya yang bisa dikatakan bertolak belakang ini. Perkataan pertama dalam koran “Madinah” bahkan bisa ditafsirkan “wanita boleh mengendarai mobil.” (Para ulama –khususnya di Saudi- memang melarang wanita mengendarai mobil karena dikhawatirkan menimbulkan kerusakan) akan tetapi pada kesempatan lain dia berkata lain dengan menyebut “aku tidak pernah mengatakan wanita boleh mengemudi mobil.”

Sikap seperti ini jelas tidak mencerminkan kredibilitas dia kalau memang dia dianggap sebagai seorang da’i atau ulama. Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bertindak tegas terhadap golongan khawarij dalam sabdanya:

“Akan muncul dari kalangan umat ini suatu kaum yang membaca Al Qur’an akan tetapi tidak melewati pangkal tenggorokannya. Mereka keluar dari agama sebagaimana melesatnya anak panah dari sasarannya. Mereka membunuh kaum Muslimin dan membiarkan para penyembah berhala. Seandainya aku dapati mereka, maka akan benar-benar kubunuh mereka sebagaimana membunuh kaum ‘Ad.”(HR. Bukhari no. 3166).

Demikian pula sikap yang ditunjukkan oleh as-Salaf ash-Sholih terhadap orang-orang yang menentang sunnah Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam, diantaranya:

1. Dari Qatadah, beliau berkata:

“Ketika kami bersama Imran bin Hushain di rumah kami, dan Basyir bin Ka’ab bersama kami, lalu Imran meriwayatkan hadits kepada kami pada hari itu, beliau berkata:

“Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sifat malu itu baik semua” (sifat malu itu semuanya kebaikan).”

Lalu Basyir bin Ka’ab berkata:“Sungguh kami telah mendapatkan di beberapa kitab dan hikmah bahwa sifat malu itu terdapat darinya ketenangan dan pengagungan untuk Alloh tetapi di dalamnya ada kelemahan.”

Maka Imran pun marah sampai memerah matanya, sambil berkata:“Ingatlah jangan sekali-kali pernah menunjukkan kepadaku apabila aku meriwayatkan hadits Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam dan kamu mementangnya!”(HR. Bukhari (no. 6117) dan Muslim (no. 61)).

2. Abu al-Husain Ath-Thabasi berkata,

“Aku mendengar Abu Sa’id Al Ashthakhari berkata, ketika itu datang seorang laki-laki dan bertanya kepadanya: “Apakah boleh beristinja’ dengan tulang hewan?”

Ia menjawab, “Tidak.”

Laki-laki itu bertanya, “Kenapa?”

Ia menjawab, “Karena Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Dia adalah makanan teman-teman kalian dari golongan jin.”

Laki-laki itu berkata, “Manakah yang lebih utama jin atau manusia?”

Ia menjawab, “Tentu manusia.”

Laki-laki itu berkata, “Lalu kenapa boleh beristinja dengan air, apakah ia makanan manusia?”

Abu Husain berkata:

“Maka iapun menindihnya dan ia mulai mencekiknya sambil berkata, “Hai orang Zindiq!! Kamu menentang Nabi Muhammad…?” Lalu ia mulai mencekiknya, kalau seandainya aku tidak mendapatinya maka sungguh ia telah membunuhnya.”

(Madarijus Salakin, juz 1 halaman 334).

Jika melihat kembali pada dua pernyataan Aidh Al Qarni tersebut, maka kami ingin mengatakan kepada orang-orang yang menyanjung dan memujanya, “Tidakkah kalian melihat ketegasan Rosululloh dan Para Salaf dalam mengingkari kebatilan?! Bagaimanakah sikap tegas yang telah mereka contohkan kepada kita sedangkan kalian begitu memuja dan memuji Aidh Al Qarni yang tidak memiliki sikap tegas sebagaimana dicontohkan oleh Rosul dan Para Salaf.”

Penyimpangan Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni.

Asy Syaikh Abu Mundzir Ahmad bin Jaelan menyebutkan bahwa Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni memiliki penyimpangan tatkala membahas tentang kasetnya yang berjudul “Amma Ba’du”. Diantara penyimpangan tersebut adalah:

Penyimpangan pertama: Dia beristighotsah kepada hati dan darahnya bukan kepada Alloh ta’ala. Dia berkata pada awal ceramahnya: “Bagaimana aku bisa memulai? Wahai darah tolonglah aku. Wahai hati temanilah aku, wahai darah selamatkanlah diriku”

Sesungguhnya panggilan yang dijadikan sebagai pembuka ceramah oleh Doktor adalah suatu kesalahan yang buruk yang pernah aku dengar dari kasetnya ini. Bagaimana dia bisa membolehkan bagi dirinya beristighotsah dengan selain Alloh? Dia beristighotsah dengan darahnya untuk menolong dan menyelamatkannya serta hatinya untuk menemaninya!!! apakah bisa darah dan hatinya menyelamatkannya selain Alloh? Apakah doktor tidak tahu bahwa istighotsah itu adalah ibadah yang harus ditujukan kepada Alloh semata tidak lainnya???

Sungguh telah jelas bagi pemula dari penuntut ilmu apa yang ditetapkan oleh para ulama tentang masalah istighotsah ini. Di antara para ulama tersebut adalah Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab -rahimahullah-. Beliau telah menjelaskan dengan sejelas-jelasnya perkara yang agung ini, perkara yang berkaitan erat dengan ketauhidan dan ibadah kepada Alloh. Didalam beberapa kitab dan makalah beliau, diantaranya apa yang beliau sebutkan dalam kitab Ushuluts Tsalatsah : “bentuk-bentuk ibadah yang diperintahkan Alloh Ta’ala adalah Islam, Iman dan Ihsan, diantaranya juga doa, rasa takut….., isti’anah, istighostah, menyembelih, nadzar dan lain sebagainya dan bentuk-bentuk ibadah yang diperintahkan Alloh ta’ala”

Imam Al-Allamah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rohimahullah berkata tentang istighotsah: “istighotsah adalah meminta pertolongan dari keselamatan di kala terjepit dan binasa, dan istighotsah itu bermacam-macam:

1. Beristighotsah kepada Alloh Azza wa Jalla, dan ini termasuk seutama-utama dan semulia-mulia ibadah dan ini adalah jalannya para Rosul serta pengikut mereka.

2. Beristighotsah kepada orang-orang mati atau kepada yang masih hidup tapi tidak ada di hadapan (kita) dan dia tidak mampu untuk menolong. Ini adalah kesyirikan kepada Alloh. Karena orang tersebut tidak beristighotsah kepada selain Alloh kecuali dengan sebab keyakinannya bahwa yang diistighotsahi itu memiliki pengaruh yang tersembunyi di alam semesta ini. Orang itu telah memberikan hak rububiyyah Alloh kepada yang di istighotsahi.

3. Alloh Ta’ala berfirman: “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang-orang yang dalam kesulitan apabila dia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Alloh ada Tuhan yang lain? Amat sedikitlah kamu mengingat-Nya” (QS. An-Naml: 62)

4. Beristighotsah dengan orang yang masih hidup dan mampu untuk membantu, maka ini boleh. Alloh berfirman: “Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa memukulnya, dan matilah musuhnya itu” (QS. Al-Qoshosh: 15)

5. Beristighostah dengan orang yang masih hidup tapi tidak mampu untuk membantu dan tidak ada keyakinan bahwa pada diri orang tersebut tersimpan kekuatan (ghaib). Seperti ada seseorang yang tenggelam lalu dia meminta tolong kepada orang lumpuh maka ini merupakan ejekan dan canda gurau terhadap yang dimintai tolong tersebut. (Lihat Syarh Ushuluts Tsalatsah oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin -rohimahulloh- hal. 60 – 61).

Maka termasuk yang manakah istighotsahnya Doktor ‘Aidh? Bukankah yang wajib baginya setelah di-blacklist adalah agar dia bernaung kepada Alloh dan beristighotsah kepada-Nya? Bukankah dia sendiri yang mengatakan dalam 10 faedah atau pelajaran yang diambil dari kisah saat dia di-blacklist: “Kembali kepada Alloh di kala gundah gulana, menyerahkan diri kepada Alloh di kala susah dan memohon kepada-Nya di kala duka nestapa”. Maka kenapa dia lalai dari ucapannya ini dan beristighotsah dengan hati dan darahnya selain Alloh Ta’ala?

Minimal yang bisa dikatakan terhadap penggilan dan istighotsah yang dia katakan dengan suara lantang adalah wajib baginya untuk beristighotsah dan kembali kepada kebenaran karena yang dia lakukan adalah istighotsah dengan anggota tubuh yang mati dan tidak mampu!

Penyimpangan Kedua:Mengatakan atau mensifati sejarah Nabi dengan kata usthurah (dongeng), dia menyebutkan dalam bagian pertama kasetnya setelah penyebutan syahadat Muhammad Rosululloh sebuah bait yang tidak dinisbatkan kepada penyairnya mungkin dia sendiri yang membuatnya, dia berkata:

Wahai yang terusir (Nabi) sesungguhnya nama beliau (Nabi) harum memenuhi dunia dan menjadi buah bibir bagi setiap orang.

Sejarahnya menjadi usthurah yang diriwayatkan oleh perowi dari perowi yang lainnya.

Sesungguhnya menggunakan kata usthurah untuk mensifati sejarah Rosulullloh Shollallohu ‘alaihi wa Salam tidaklah benar karena kata tersebut dalam bahasa (Arab) digunakan hanya untuk suatu ucapan atau tulisan yang batil.

Ibnu Faris rohimahullohu berkata:

“Al-Asaathir (jama’ dari usthuurah, asaathir dan isthoorun) adalah sesuatu yang ditulis dari kebatilan.”

(Mu’jam Maqooyisii Lughoh oleh Ibnu Faris hal.458).

Ibnu Mandzur rohimahullohu berkata:

“Al-baathiil dan al-asaathir adalah cerita-cerita yang tidak ada benarnya.

(Lisanul Arab oleh Ibnu Mandzur 6/257).

Hal ini juga dikuatkan oleh ayat-ayat al-Qur’an, diantaranya firman Alloh Ta’ala:

حَتَّى إِذَا جَاءُوكَ يُجَادِلُونَكَ يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ

“Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: al-Qur’an ini tidak lain hanyalah asaathir atau dongengan orang-orang dahulu” (QS. Al An’am: 25).

Dan Firman-Nya:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: apakah yang telah diturunkan Robbmu? Mereka menjawab asaathirul awwaliin (dongengan orang-orang dahulu).” (QS. An-Nahl: 24).

Dan Firman-Nya:

وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلا

“Dan mereka berkata: dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang” (QS. Al-Furqan: 5).

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan bahawa orang-orang kafir dahulu yang mendustakan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Salam dan wahyu yang beliau bawa, mereka mensifati wahyu tersebut dengan usthurah. Maka kata usthurah yang ada dalam bait syair Doktor itu sangat membahayakan bagi kehormatan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Salam dan keimanan kepada beliau. Sebenarnya yang wajib bagi penceramah (DR. ‘Aidh) untuk mengagungkan Sunnah dan sejarah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Salam dan tidak mensifatinya seperti diatas.

Penyimpangan Ketiga: Memanggil atau bermunajat kepada Alloh dengan mengatakan: Ya, Anta. Dia menyebutkan dalam bagian awal kasetnya setelah penyebutan dua kalimat syahadat, dia memuji Alloh dalam sebuah bait syair dan tidak dinisbatkan kepada penyairnya. Mungkin dialah si penyair itu, dia berkata:

Wahai anta (kamu), wahai sebaik-baik nama dalam hatiku

apa yang harus kukatakan atau jelaskan tentang matan dan sanadnya?

Sesungguhnya bermunajat kepada Alloh Ta’ala dan berdo’a kepada-Nya adalah suatu ibadah yang mulia sebagaimana firman Alloh ta’ala:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Robbmu berfirman: berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan kupernakan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dan dihina” (QS. Al-Mu’minun: 60)

Di dalam hadits Nu’man bin Basyir rodhiyallohu ‘anhu dia berkata, “Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Salam bersabda:

“Do’a adalah ibadah”(HR Ahmad, Abu Daud, lihat (Shohih Al-Jami’) oleh Syaikh Al-Albani dan masih banyak lagi nash-nash yang semisal ini.}

Ketahuilah bahwa ibadah adalah perkara yang agung dan memiliki kedudukan yang mulia karena dia merupakan (manifestasi) tauhid yang merupakan hak khusus bagi Allah, tidak boleh bagi seorang Muslim untuk berbicara dalam masalah ibadah kecuali dengan ilmu yang benar yang bersumberkan dari al-Qur’an dan Sunnah, Alloh berfirman:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan di minta pertanggungan jawabnya” (QS. Al-Isra’: 36).

Karena begitu mulianya kedudukan do’a ini maka kitab-kitab hadits tidak melalaikannya bahkan dikumpulkan hadits-hadits tentang do’a. Lebih dari itu sebagian ulama mengarang buku khusus tentang do’a, tentang adab-adabnya serta aturan-aturannya. Diantara aturan-aturan do’a yang disyari’atkan adalah seorang hamba ketika berdo’a dia harus menyeru nama Alloh atau salah satu sifat Alloh yang telah ditetapkan dalam al-Qur’an ataupun Sunnah. Inilah yang telah dikatakan oleh Ahlus Sunnah. Akan tetapi kita mendapatkan Doktor berdo’a kepada Alloh dengan mengatakan: “Ya anta”. Apakah “anta” termasuk nama Alloh? Apa dalilnya? Kapan dhomir atau kata ganti dan ismul isyarah bisa menjadi nama Alloh Ta’ala? Bisa sih kalau menurut orang-orang sufi atau tashawwuf.

Lajnah Da’imah Lil Ifta’ (Komite Tetap Urusan Fatwa) Saudi Arabia pernah ditanya:

“Apakah boleh berdo’a kepada Alloh dengan menggunakan “ya huwa” (wahai dia) yaitu Alloh tapi dengan dhomir atau kata ganti orang ketiga?”

Jawaban:”Segala puji bagi Alloh, Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada Rosululloh, keluarga, dan para sahabatnya, kemudian setelah itu:

Dhomir-dhomir mutakallim, khithab dan ghoib (kata ganti orang I, II dan III) secara mutlak bukan termasuk nama Allah baik secara bahasa maupun syari’at karena Allah tidak memberi nama bagi diri-Nya dengan dhomir-dhomir tersebut. Maka berdo’a dengan menggunakan dhomir-dhomir tersebut tidak boleh dan karena hal tersebut termasuk ilhad atau penyimpangan dalam pemberian nama bagi Alloh Ta’ala yang Dia tidak memberi nama-Nya dengan hal tersebut. Hal tersebut termasuk berdo’a dengan cara yang tidak disyariatkan. Alloh Ta’ala melarang akan hal itu dalam firman-Nya:

“Hanya milik Alloh asmaul husna maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Al A’raf: 180).

Wabillahi at-taufiq wa shalallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallam.

(Fatawa Lajnah Da`imah II/295 no. 3867 bagian aqidah (tashawwuf)).

Maka telah jelas bagi kita bahwa berdo’a kepada Alloh dengan “Ya anta” tidak diperbolehkan dan hal tersebut termasuk ilhad dalam asma Alloh serta merupakan metode yang salah dalam berdo’a karena tidak sesuai dengan syari’at Alloh Ta’ala.

Tapi mungkin ada yang menyanggah hal ini, dia akan berkata kenapa kalian berburuk sangka dengan Syaikh DR ‘Aidh? Mungkin saja dia tidak memaksudkan dengan kata-katanya (ya Anta) itu Alloh pencipta alam semesta. Tapi beliau memaksudkan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Salam !!!!

Sanggahan di atas tidaklah benar karena konteks ucapannya berkaitan erat dengan seruan atau do’anya kepada Alloh. Dia sebelum menyebutkan bait syair diatas dia berkata: “Maha suci Engkau, aku akui segala dosa dan kesalahanku di hadapanmu” dan dia juga menyebutkan setelah bait syair tersebut “Ya Rabbi, Ya Hayyu Ya Qoyyum Ya Lathif…..” semuanya menunjukkan bahwa dia berdo’a kepada Alloh.

Walaupun jika kita terima bahwa dia memaksudkan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Salam (dengan ucapannya: Ya anta) maka hal ini juga tidak dibenarkan karena Alloh Ta’ala melarang para sahabat yang mulia Shollallohu ‘alaihi wa Salam untuk memanggil Rasulullah dengan namanya langsung.

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rosul diantara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain. Sesungguhnya Alloh telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi diantara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan di timpa cobaan atau di timpa adzab yang pedih” (QS. An Nuur: 63)

Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu berkata tentang tafsir ayat di atas:


“Mereka dahulu mengatakan: wahai Muhammad, Ya Abal Qosim, maka Allah pun melarang mereka untuk memanggil dengan hal tersebut demi untuk menghormati Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Salam”

Qotadah rohimahullohu berkata:

“(Hal ini) demi untuk menghormati, memuliakan dan mengagungkan Nabi-Nya Shollallohu ‘alaihi wa Salam”(Tafsir Ibnu Katsir III/337).

Apapun yang DR. Aidh maksudkan dalam do’anya itu, tetap dia salah akan tetapi kalau maksudnya Alloh maka lebih parah.

Demikian pernyataan Asy Syaikh Abul Munzir Ahmad bin Jaelan tentang jati diri Aidh Al Qarni.

Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni seorang Mubtadi ?!

Disebutkan pula oleh seorang ulama besar dari negeri Bahrain, Syaikh Fauzi Al Atsary hafizahullohu, beliau ditanya,

“Siapakah Aidh Al Qarni dan apakah diperbolehkan mendengarkan kasetnya?”

Syaikh hafizahullohu menjawab:“Seseorang tidaklah seharusnya mendengarkan orang ini dan orang yang semacamnya. Dia ini dari Ahlul Bid’ah, Quthubiyyun dan dia adalah seorang Sufi. Pernyataan-pernyataannya bersesuaian dengan Sufiyyah. Dia menyeru kepada Quthubiyyah dan politik. Dia berbicara buruk tentang Ulama. Dia memiliki kaset rekaman di mana dia berkata bahwa Ulama tidak keluar dalam jihad, dan bahwasanya mereka tidak memberikan fatwa tentang jihad dan banyak kebohongan lainnya tentang Ulama. Maka tidak diperbolehkan mendengarkan kaset-kasetnya.”(Sumber: “Kaset Ushul Da’wah Salafiyyah”).

Pernyataan ini sekaligus sebagai penegasan bahwa Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni memang memiliki pemikiran yang menyimpang dari Manhaj as-Salaf ash-Sholih. Sebagaimana yang telah kami uraikan sebelumnya, baik dalam buku “La Tahzan” maupun kaset ceramahnya “Amma Ba’du” bahwasannya pemikiran beliau sangatlah jauh dari Manhaj Salaf bahkan yang lebih menonjol adalah penyimpangannya. Demikian pula dengan sikap “plin plan” nya yang menunjukkan bahwa orang ini tidak memiliki sikap sebagaimana yang dimiliki oleh Para Salaf, yakni sikap tegas dalam menyatakan suatu perbuatan apakah ia menyimpang atau tidak sebagai bagian dari Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Allohu A’lam… 


Share this article :

Postingan Populer

 
Didukung Oleh : PISS-KTB Group | PISS FANS PAGE
Boleh diCopy © 2010 asal tetap mencantumkan URL artikel.
Grup Tanya Jawab dan Diskusi Keislaman
Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Indonesia Raya